Takdir
Pratiwi Nur Zamzani
“Hari ini, lo ada jam kuliah ke berapa, Fel?,” tanya Riska.
“Kedua. Oh ya jam kuliah lo udah lewat?”
“Udah dong! Lo belom atau gimana?”
“Gue udah kok.Tinggal nungguin Bram sama Billy.”
“Ok deh. Kita tunggu sini aja,” ucapnya dengan menyeruput kopi panasnya.
Felly Anggi Wiraatmaja. Gitaris hebat dengan perlengkapan fisik yang memukau dan juga tallent yang tidak bisa diragukan lagi. Selain nama itu, ia juga mendapatkan julukan sebagai ‘singa liar’. Seperti julukannya, ia adalah gadis yang begitu keras. Wataknya, kepalanya, dan juga hatinya. Akan tetapi, satu kelebihan yang ia miliki. Yaitu, kehangat kasih sayangnya.
“Berangkat, yuk! Gue udah siapin mobil buat kita,” ucap Bram saat ia menghapiri Felly dan Riska yang masih terduduk di kantin.
“Billy kemana?,” tanya Felly.
“Dia lagi di mobil.”
“Oh gitu. Yaudah deh, cabut!,” ucap Felly dengan menenteng tas ranselnya dan juga map hijau yang berisi berkas-berkas tugas kuliahnya.
Merekapun berjalan meninggalkan kantin menuju mobil yang sudah terparkir rapi di depan gerbang kampus. Kemudian, menjalankan rodanya dengan tenaga mesin menuju tempat itu. Yah.. tempat yang selalu mereka impikan di setiap waktunya.
“Pro Techno?,” tanya seseorang saat Felly, Bram, Billy dan Riska masuk ke dalam kantor itu.
“Iya,” jawab Bram dengan senang.
“Ah.. kebetulan saya menunggu kalian. Mari ikut saya,” ucap seseorang itu dengan menunjukkan arah kemana mereka harus pergi.
Langkah orang itu terhenti saat berada di ruangan paling pojok.
“Felly, kamu masuk ya. Dan yang lain ikut saya.”
Sejenak, mereka saling bertatapan. Heran. Bagaimana tidak? Kenapa harus Felly yang masuk? Kenapa tidak bersama-sama? Namun, orang itu sadar bahwa Pro Techno sedang saling bertanya dengan tatapan mata mereka.
“Berhubung Felly sang kapten, maka ia yang harus berbicara kepada pemilik studio WR untuk kontrak kerjanya. Ini semua, bukan atas dasar tingkat kemampuan kalian, kok. Kalau kalian sudah memilih Felly sebagai kaptennya, berarti dia udah siap dong untuk menghadapi apapun yang membutuhkan keputusan pasti dan tepat. Sehingga, tanpa melibatkan kalian dalam keadaan rumit sekalipun. Bukankah kapten sama saja dengan raja atau presiden? Mensejahterakan rakyatnya.”
“Terus kita kemana sekarang?,” tanya Bram.
“Kalian bertiga, ikut saya ke ruangan saya untuk sedikit wawancara dan juga tes sesuai dengan kemampuan kalian.”
“Ok!,” jawab Billy dan Riska bersamaan dengan menyatukan jari telunjuknya dan ibu jarinya.
“Felly, silahkan masuk! Kamu udah ditunggu dari tadi sama pemilik WR (Wirold Recording). Saya juga jadi nggak enak sendiri kalau membuat beliau terus menunggu. Apalagi, dia jarang kesini. Maklumlah, bisnisnya banyak. Dia pasti juga sibuk!,” katanya dengan meninggalkan ruangan itu dan menggiring mereka bertiga untuk memasuki ruangan orang itu. Sesuai dengan katanya tadi, menjalankan tes dan juga sedikit wawancara.
Fellypun hanya mengangguk tanpa suara. Terasa, begitu gugup. Untuk pertama kalinya, Felly merasa gugup akan hal itu. Jantungnya berdetak begitu kencang saat melihat kepala pemilik WR itu bersandar di kursi geraknya. Jas hitamnya begitu pekat dan elegan meski hanya terlihat dari belakang. Dengan berani, Felly membuka pintunya.
“Masuk!,” kata orang itu setelah mendengar pintu terbuka. Dan, tepat sebelum Felly sempat mengucapkan permisi, orang itu telah memutar kursinya dengan elegan dan berdiri setelah melihat beberapa berkas.
Suasana begitu hening. Mata mereka berdua saling bertatapan lurus. Hawa dingin mulai menyelimuti ruangan itu meski AC telah mati. Felly hanya dapat terdiam mematung dan membeku dalam kedinginan posisi itu. Tangannya begitu gemetar saat melihat sosok orang yang ada di depannya.
Yah.. orang dengan setelan jas yang pas dengan tubuhnya. Seperti, khusus dijahit untuknya. Berwarna hitam pekat dan juga dalaman putih bergaris. Terlihat begitu seksi. Meski begitu, Felly bukan memukau dengan tatapannya. Ia masih tercengang dalam kurun waktu yang cukup lama untuk memperkenalkan diri.
Bahkan, orang itu juga hanya menatap Felly dengan diam dalam tatapan yang sendu. Begitu juga Felly. Mereka tak mampu untuk berbicara. Hanya udara yang dapat menyampaikan maksud dari kata mereka.
“Ka...,” kata Felly mencoba untuk membuka mulutnya meski suaranya begitu rendah dan hampir tak terdengar.
Orang itu hanya bisa mengangguk perlahan. Seakan, memaksa lehernya untuk mengangguk. Mencoba menjawab apa yang akan dikatakan oleh Felly saat mata itu telah menangkap apa maksudnya.
“Bisakah kita mulai wawancaranya?,” ucap orang itu dengan mempersilahkan Felly duduk di meja tamu.
Felly hanya bisa mengangguk perlahan dan menuruti apa yang dipintakan oleh orang itu.
“Saya sudah melihat buku musik kamu yang diberikan oleh pegawai saya. Apakah semua itu lagu kamu?”
Felly hanya mengangguk. Sedangkan orang itu terus membuka buku musik milik Felly. Orang itu mengerutkan dahinya saat ia telah menemukan halaman buku yang diinginkannya.
“Boleh saya tahu tafsiran dari lagu ini?,” tanya orang itu dengan membalik bukunya mengahadap ke arah Felly.
Seketika Felly membelalakkan matanya dan menatap orang itu saat melihat tinta merah ada di sekitar lagu itu. Bagaimana bisa orang itu telah menemuka arti dari semua lagu itu? Bahkan, Bram, Billy dan Riska masih bingung dengan maksud lagu itu. Begitu juga dengan cord musik yang ada di dalamnya.
“Apa maksud semua ini?!,” katanya tegas dengan menunjuk beberapa lirik yang sudah ia lingkari dengan tinta merah.
Felly hanya terdiam memandang lirik lagu itu. Bagaimana tidak? Semua itu menceritakan kisah cinta pertamanya dengan kekasih pertamanya juga. Dan, orang itu ada di depan Felly. Setelah 7 tahun mereka berpisah. Arkana Aditya.
Yah.. tulah namanya. Siapa yang menyangka kalau semua ini akan terjadi. Felly juga tidak pernah mengira kalau ia akan bertemu kembali dengan Arka. Bahkan, untuk terakhir kalinya Felly bertemu Arka di bandara. Itupun mereka hanya sekedar bertanya tujuannya.
Tidak hanya itu saja, Felly juga mendengar bahwa Arka telah menjadi warga negara Amerika. Tidak mungkin juga ia akan kembali. Itulah yang ada di pikarannya saat itu. Akan tetapi, semua itu telah hangus setelah orang yang tidak ia sangka berada di depannya saat ini. Entah apa yang terasa saat itu.
Namun yang pasti, jantungnya berdetak begitu kencang. Di sisi lain, Felly tidak merasakan rindu ataupun yang lainnya. Hanya satu yang ia rasakan. Gugup. Felly tidak tahu gugup itu karena berhadapan dengan masa lalunya atau tidak. Yang ia tahu hanyalah takdir. Yah.. takdir mempertemukan mereka kembali dengan kuasa dari-Nya.
“Kenapa kamu diam, Felly?! Jawab aku!!! Kenapa kau mengukir kembali masa lalu kita? Kenapa tidak kau lenyapkan semua masa lalu kita?!!!! Jawab aku!!!,” bentak Arka dengan menggoyangkan kedua bahu Felly.
“Aku juga tidak tahu, Arka. Aku hanya menulis lagu itu. Aku tidak tahu kenapa hasilnya seperti itu. Aku... Aku juga ingin melupakanmu seperti kau melupakanku!!! Seperti kau melenyapkan aku dari hidupmu!!! Seperti kau meninggalkan aku saat itu!!! Aku juga ingin melakukan hal itu!!!,” bentak Felly tak kalah tegas dan keras dari pertanyaan Arka.
“Kalau kau ingin melupakanku, kenapa tidak kau terus menulis semua itu Felly? Kenapa? Tidakkah semua itu adalah kenangan buruk bagi kita berdua? Tidakkah kau merasakan hal itu? Aku telah meninggalkanmu! Aku telah menyiksamu! Aku ingin kau melupakan aku, Felly!!!”
Mata Felly terasa panas saat mendengar pengakuan dari Arka. Dadanya terasa begitu sesak. Jantungnya terasa berhenti bekerja. Hatinya terasa sakit. Badannya terasa tertusuk oleh pisau. Lututnya terasa lemas. Badannya gemetar bersamaan dengan tetesan air matanya. Namun, bibirnya seakan memaksa untuk terbuka saat melihat cincin kenangan mereka terlingkar rapat di jari manis Arka.
“Kenapa, cincin itu masih ada di sana?,” tanya Felly di tengah isak tangisnya.
Arka menutupinya dengan tangan kanannya tanpa menjawab pertanyaan Felly.
“Jawab aku Arka!,” bentak Felly dengan meremas tangan Arka.
Arka hanya terdiam dengan memalingkan tatapannya.
“Karena Arka masih mencintamu Felly!,” jawab seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu.
“Rendy!!!”
“Udahlah Bang, kenapa kau masih menutup-nutupi bahwa kau masih mencintai mantan kekasihmu itu? Lagipula, kau menolak pertunangan dengan Nanda karena gadis ini bukan? Ah ya, di tambah lagi kau kembali ke sini karena mendapat informasi bahwa gadis ini akan kontrak kerja denganmu kan? Kalau begitu, kenapa kau masih menutupi semuanya jikalau sudah jelas kau masih mencintainya? Apa yang perlu kau tunggu lagi? Sukses? Kau sudah memilik 36 anak cabang bisnis. Itupun bukan hanya studio suara. Masih ada hotel dan juga restoran. Apa masih belum cukup semua itu? Sampai kapan kau akan menyiksa dirimu sendiri dengan cintamu? Kau terlalu munafik, Kak dalam hal urusan cinta. Ah.. sudahlah aku mau balik dulu. Gara-gara kau di sini, jadi harus aku yang menemui klaenmu. Ini berkasnya!,” ucapnya panjang lebar dengan meletakkan berkas di meja Arka. Kemudian, meninggalkan ruangan itu dan menutup pintunya.
Seketika Felly berdiri dari terpat duduknya. Begitu juga Arka. Sorot matanya terpancar kekawatiran. Mungkin, kawatir Felly akan pergi meninggalkannya setelah mendengar penjelasan dari adiknya Rendy. Mengingat, Felly sangat benci dengan kebohongan.
Namun, semuanya berubah menjadi tangis haru saat Felly berjalan mendekatinya. Kemudian, merapatkan kedua lengannya, melingkarkan dan menyatukannya dengan tubuh Arka. Serta, mnyandarkan kepalanya di dada bidang Arka dengan isak tangis yang menderu. Begitu juga sebaliknya. Dalam waktu yang begitu singkat, mereka bersatu karena adanya takdir dan kuasa-Nya. Perlu diingat bagi kita semua. Secepat apapun kita berlari, kita tidak akan bisa berlari dari kuasa-Nya. Begitu juga dengan cinta yang menjadi anugerah dari-Nya.
Biodata Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , Instagram @pratiwinurzamzani, twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.
Comments
Post a Comment