Skip to main content

Start With You

Start With You
Pratiwi Nur Zamzani


Felly terus melangkahkan kakinya. Kepalanya terasa begitu berat saat ia hendak pergi dari rumah. Yah.. rumah yang sama dengan neraka. Penuh siksaan meskipun harta melimpah. Banyak pikiran yang terlintas di dalamnya. Hingga ia harus pergi ke diskotek untuk minum wine, coktail dan juga semacamnya. Yah.. yang membuat dirinya melayang dan melupakan semua peristiwa yang baru saja ia saksikan bak sebuah drama.
Akan tetapi, ia merasa tergerak dari mabuknya saat ia mendengar suara itu. Suara yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Baginya, suara gitar adalah satu-satunya yang bisa menenangkannya. Namun, semua yang ia tafsirkan selama ini begitu berbeda saat ia mendengarkan suara itu. Terasa begitu damai dan nyaman. Sejuk sesejuk saat ia berada di puncak gunung.
“Maaf..,” ucapnya lirih saat memasuki bangunan itu. Aneh. Sangat aneh. Seperti rumah. Namun, memiliki atap bundar dan sabit di tengahnya. Banyak tulisan aneh juga.
“Iya?!,” jawab seorang laki-laki saat mengetahui bahwa ada orang yang datang.
“Ah... tidak! Maaf mengganggu!,” ucap Felly dengan membalikkan badan saat ia tidak mendengar suara itu lagi.
Namun, langkahnya kembali terhenti saat suara itu kembali muncul. Seketika, ia membalikkan badannya dan mendekati laki-laki itu. Benar saja, sumber suara yang damai itu berasal dari laki-laki.
“Apa itu?!,” tanya Felly polos.
“Apa?,” tanya balik laki-laki itu.
“Itu!,” tunjuk Felly dengan menjulurkan jari telunjuknya untuk memperjelas maksudnya.
“Ini?!,” tanya laki-laki itu tidak percaya bahwa Felly tidak mengetahui bahwa itu adalah Al-Qur’an.
Felly mengangguk tanpa mengeluarkan suaranya.
“Ini Al-Qur’an,” ucap laki-laki itu lembut.
“Apakah, itu berisi not angka sehingga dapat dinyanyikan dan terasa begitu damai?,” tanya Felly dengan raut wajah yang penuh dengan penasaran.
Laki-laki itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kemudian, ia menyuruh Felly untuk duduk di depannya.
“Ini untuk di baca dan ditafsirkan. Bukan untuk dinyanyikan. Apakah kamu tidak pernah membacanya?”
Felly menggelengkan kepalanya.
“Bolehkah aku memegangnya?!,” tanya Felly dengan meraih Al-Qur’an itu dari genggaman laki-laki itu. Namun, laki-laki itu menghindarinya. Sedangkan Felly, ia mengangkat salah satu alisnya dengan mengerutkan dahinya.
“Jika kau menyentuhku maka aku tidak boleh membaca Al-Qur’an ini lagi. Begitu pula jika kau belum wudhu. Kau tidak boleh membaca ini,” ucapnya menjelaskan.
“Wudhu? Aku pernah mendengarnya. Tapi, itu apa?”
“Subhanallah. Kau bisa mengikutiku sekarang!,” katanya dengan menggiring Felly untuk melangkahkan kakinya mengikuti laki-laki itu.
Hingga akhirnya, ia telah sampai di ruangan yang sama persis dengan kamar mandi. Akan tetapi, hanya ada kran yang berjejer.
“Tirukanlah aku!,” ucap laki-laki itu.
Felly hanya bisa menurut layaknya anjing liar yang sudah dijinakkan. Hingga akhirya, laki-laki itu memperkenalkan dirinya.
“Namaku, Arkana Aditya. Kau bisa memanggilku Arka.”
“Aku Felly Anggi Wiraatmaja. Felly lebih akrabnya,” jawab Felly dengan mengulurkan tangannya. Arka hanya bisa menatapnya memperingatkan. Barulah Felly ingat akan apa yang dikatakan oleh Arka sebelumnya.
“Maaf,” lanjut Felly.
“Tidak papa. Ayo ikuti aku!,” ajaknya hingga mereka duduk bersebelahan tanpa bersentuhan.
“Ayo kita baca bersama. Walaupun kau akan kesulitan, aku akan mengajarkan bagaimana caranya agar kau benar membacanya. Jangan takut. Kau pasti bisa!,” ucapnya lembut.
Felly merasa bahwa ia benar-benar wanita yang sempurna dan juga dengan kehidupan yang sempurna. Hatinya terasa begitu sejuk, damai, dan luka yang ada di dalamnya seakan terasa tertutup secara perlahan. Felly tak bisa mengatakan apapun saat ia menatap orang yang ada di sampingnya dikala itu.
“Apakah kau seorang gitaris?,” tanyanya di tengah ia menerangkan.
“Iya. Apakah kau juga sama denganku?”
“Tidak. Aku bekerja sebagai dokter. Kau masih kuliah?”
“Hmmmm begitulah.”
“Apa yang kau lakukan?,” tanya Felly saat Arka memasangkan sorbannya membentuk kerudung untuk menutup rambut Felly yang tergerai.
“Kau terlihat begitu cantik bila memakai hijab. Karena memang, itulah kewajiban sebagai seorang muslim.”
“Kau benar. Pembantuku selalu berkata bahwa aku muslim. Akan tetapi, aku tidak pernah tahu apa yang ada di dalam muslim. Kau tahu, hidupku terasa begitu berat. Ingin rasanya aku membunuh diriku ini. Tapi, semua terasa berubah saat aku mendengar kau mengaji tadi. Dan, hatiku terasa begitu sejuk dan damai saat aku mulai melantunkan lafalnya satu persatu. Terimakasih.”
“Tidak apak-apa.”
“Aku merasa, aku mencintaimu karena Al-Qur’an ini. Bisakah kita berkencan nanti malam?”
“Hahaha. Kau begitu lucu. Dalam islam, tidak ada istilah pacaran ataupun berkencan.”
“Berarti, kita tidak boleh mencintai?!”
“Boleh. Tapi, ada cara lain bagaimana kita harus mencintai.”
“Bagaimana caranya agar aku bisa mencintaimu? Kau tahu, aku merasa menemukan hidupku setelah membaca Al-Qur’an ini bersamamu. Dan juga menemukan hijab ini di tengah baju modelku yang minim. Hehehe. Aku merasa bahagia saat ini. Sangat bahagia. Entah kenapa, aku merasa saat ini tidak dapat aku bayar dengan limpahnya uang. Aku ingin menghentikan waktu saat ini. Sayangnya, aku tidak bisa melakukan itu.”
“Kau begitu polos. Dan, suci meski kau mengotorinya. Dimanakah rumahmu?”
“Dekat tempat ini. Di sini!,” jawab Felly dengan menyerahkan kartu namanya.
“Kau bisa pulang sekarang. Hari sudah mulai larut. Jaga dirimu baik-baik. Wassalamualaikum,” ucap Arka.
Fellypun melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu. Sorban itu, tetap melekat di kepalanya. Apabila ia bertemu dengan fans, mungkin fans akan mengira bahwa Felly telah gila. Bagimana tidak? Felly menggunakan rok mini dan kaos ketat. Sedangkan kepalanya tertutup selebar dadanya. Akan tetapi, sorban itu membuatnya begitu nyaman.
Hingga sesampainya Felly di rumah, ia tidak melepas sorban itu dan langsung tidur hingga esok hari tiba. Saat ia terbangun, ia menatap dirinya di depan cermin yang memantulkan bayangannya. Begitu cantik. Itulah kata yang terngiang di dalam benak dan pikirannya. Meskipun Rendy kekasihnya selalu memuja kecantikan Felly, kata itu tidak sedamai apa yang dikatakan oleh Dokter muda kemarin.
“Non, ada yang nyariin!,” ucap pembantu Felly seraya mengetuk pintu kamar Felly.
“Siapa?,” tanya Felly setelah membuka pintu kamarnya.
“Saya tidak tahu. Tapi dia mencari, Non. Dan sekarang, Nyonya sedang menemuinya.”
“Baiklah. Aku mandi dulu.”
“Baiklah, Non!,” kata pembantu itu dengan meninggalkan kamar Felly. Dan Felly kembali menutup pintunya.
Felly melepas sorban itu. Terasa begitu berat saat ia harus melepasnya. Mengapa terasa seperti ini? Apa yang sudah terjadi? Itulah yang Felly tanyakan saat itu.
“Sia... pa... Mmm... a..?,” tanya Felly terputus saat ia menangkap sosok laki-laki yang kemarin bertemu dengannya.
 “Kenapa kamu datang dengan banyak orang?,” lanjut Felly.
“Mereka semua adalah keluargaku.”
“Apa?!!! Keluargamu?!!!”
“Iya. Keluargaku. Aku datang ke sini karena aku ingin menunjukkan kepadamu bagaimana caranya mencintai dalam islam.”
“Bu, izinkan saya menikahi Felly. Saya menyayangi dia. Karena, saya ingin membawakannya Al-Qur’an untuk menuntun kehidupan rumah tangga kami nantinya,” lanjut Arka dengan berlutut di depan Anjani.
“Oh my god? Apa... Kenapa...,” kata Anjani terputus saat Felly berjongkok di depan Arka. Kemudian membantu Arka berdiri.
“Apakah kau tidak takut untuk ku tolak?”
Arka menggelengkan kepalanya.
“Karena aku mempunyai niat yang baik. Mencintaimu dengan dasar Al-Qur’an dan menyayangimu dengan bingkai hijab. Bukan nafsu.”
“Tch!,” ucap Felly dengan mengulurkan kedua tangannya. Seakan, ia mau memeluk Arka detik itu juga. Namun, tatapan mata Arka memperingatkan Felly. Sehingga, Felly dapat menahan semua itu. Sedangkan Anjani, ia tidak dapat mengatakan apapun saat melihat pancaran mentari yang ada di mata anak tunggalnya itu. Begitu juga dengan kedua orang tua Arka. Dan mereka menyetujui hubungan itu. Meskipun, mereka semua tahu bahwa pertemuan mereka baru satu hari. Ah tidak. Hanya beberapa jam. Tanpa taaruf ataupun yang lainnya. Cukup dengan keyakinan hati.
Yah.. keyakinan hati yang menuntun cinta ke jalan Allah dengan bekal wahyu yang telah diturunkan. Al-Qur’an. Pedoman hidup manusia. Dan juga, obat seluruh luka. Terutama hati. Yah... sesuatu penyakit yang tak akan ada obatnya selain apa yang diciptakan oleh-Nya.


Biodata Penulis

Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , Instagram @pratiwinurzamzani, twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...