Skip to main content

Mata Merah Jambu

Mata Merah Jambu
Pratiwi Nur Zamzani


“Abi, kenapa para Kiyai besar datang hari ini? Buya kan, lagi di rumah Ami.”
“Ada sesuatu yang harus dibicarakan Felly. Lagipula,bukannya kamu ada kelas Fiqih ya, sekarang? Kenapa nggak berangkat? Nanti telat loh.”
“Iya sih, Bi. Tapi, sajian apa yang akan diberikan kepada para Kiyai besar itu? Kan Buya lagi nggak ada.”
“Biar santri dalam yang mengurusnya. Lagipula ini urusannya Abi dan para Kiyai besar itu. Kamu konsen aja dengan Muhafadhoh kamu untuk mendapat Akreditasi pondok ini semakin baik.”
“Baiklah, Bi. Felly berangkat dulu. Assalamualaikum,” ucap Felly dengan mencium telapak tangan Abinya.
Felly anggi Wiraatmaja. Putri dari  Kiyai besar yang telah membangun pondok pesantren itu dengan baik. Pondok Pesantren Nirboyo. Yah, itulah namanya. Pondok yang menduduki Akreditasi “A” dalam kualitas pendidikannya. Baik pendidikan islam maupun pendidikan umum. Pondok tersebut dibagi menjadi dua tempat. Dimana, tempat tersebut dipisahkan oleh tembok besar. Podok santri putri bersebelahan dengan pondok santri putra.
Kegiatan pondok sama dengan kegiatan sekolah umum. Namun, perbedaanya adalah pada perkumpulannya. Dalam satu kelas sekolah umum, penghuninya adalah perempuan dan laki-laki. Sedangkan kelas di pondok untuk pembelajaran terdiri dari satu jenis. Yaitu, perempuan sendiri dan putra sendiri.
Hal tersebut membawa dua dampak yang bertelikungan. Tentunya, positif dan negatif. Dampak positifnya adalah, mereka terhindar dari hawa nafsu untuk memandang yang bukan mukhrimnya. Namun, dampak negatifnya adalah saat mereka menyukai sesama jenisnya. Dalam artian lain, mereka bisa menjadi lesbian ataupun gay. Hukuman untuk kasus seperti itu adalah, memandikannya dengan kotoran manusia atau dikembalikan kepada orang tuanya.
“Assalamualaikum,” ucap Felly saat memasuki ruangan kelasnya.
“Waalaikumussalam,” jawab salah satu teman sekelasnya. Lebih tepatnya, teman sebangkunya.
“Tumben jam segini masih sepi kelasnya?”
“Biasa lah, Neng. Kan waktunya Pak Tas’an. Jadinya gitu deh, kayak nggak tahu mereka aja.”
“Oh, gitu ya. Emang segitunya ya, Ris?”
“Iya lah. Masuk membawa kayu panjang kcil. Bagi siapa yang telat, langsung keluar kelas. Terus menhafalkan pelajaran hari itu juga setelah di terangkan. Lalu langsung ulang. Kalau nilainya di bawah KKM, nggak ada perbaikan. Gimana anak-anak bisa betah, Neng? Pelajarannya aja udah serem, apalagi orangnya.”
“Ah, kamu ada-ada aja Ris.”
Sambil menunggu teman-temannya masuk kelas dan juga menunggu kedatangan gurunya, Felly dan Riska berbincang-bincang tentang kegiatan yang biasa dilakukan Riska di rumah sebelum ia pergi ke pondok itu. Hingga akhirnya, waktu pelajaranpun tiba. Dan, mereka melaksanakan pelajaran itu seperti biasanya. Sekitar dua jam, waktu pelajaranpun telah usai. Fellypun kembali ke rumah. Sedangkan, Riska kembali ke asrama.
Sesampainya di rumah, ia langsung memasuki kamar untuk mengulang pelajaran yang sudah diterangkan oleh Pak Tas’an. Namun, ada sesuatu yang mengganjal hatinya saat ia berdiri di depan pintu kamarnya. Terasa ada yang aneh dan tidak seperti biasanya. Fellypun mencoba untuk masuk ke dalam kamarnya.
Rasanya, masih tetap sama seperti sebelumnya. Ia sempat bertanya saat masih menggunakan mata telanjang. Meskipun ia dapat merasakan hal itu dengan hati, masih tetap sama seperti sebelumnya. Hal tersebut membuat Felly untuk memuka magnet yang telah ia miliki. Ia tersentak saat melihat seseorang sedang duduk di atas tempat tidurnya. Fellypun mendekatinya.
“Siapa kamu?!,” tanya Felly kepada orang itu.
“Kenapa kamu bisa melihatku?”
Felly tersentak kembali saat melihat orang itu telanjang dengan jenis kelamin laki-laki. Fellypun menamparnya. Dan orang itu menjerit. Hal tersbeut membuat Abinya datang ke kamarnya. Tanpa menanyakan kejadian tersebut, Abi Felly sudah dapat melihat kejadian itu sebelumnya dengan kemampuan supernatural yang dimilikinya.
Secepat kilat orang itu pergi meninggalkan Felly dan juga Abinya. Dan hal tersebut harus membuat Abinya mengeluarkan kemampuan spesialnya setelah saudara-saudaranya. Terbang ke udara mengejar makhluk itu. Itulah yang dilakukan oleh Abinya.
Hal tersebut membuat Felly kawatir dengan keadaan Abinya. Namun, apa daya yang bisa dilakukan Felly. Ia hanya memiliki indra keenam yang dapat dikuasai oleh Felly. Bagian-bagian yang lainnya dari Abinya. Ia tidak kuat untuk menumpangnya. Mengingat, usianya yang masih muda.
“Bagaimana, Abi?,” tanya Felly setelah melihat Abinya memasuki kamar Felly.
“Dia lebih cepat dibandingkan dengan yang Abi kira.Tapi, Abi bisa mengetahui ilmunya saat menyentuh dia tadi. Dan, sedikit mengetahui maksud dari ilmu tersebut.”
“Maksud Abi bagaimana?”
“Dia adalah makhluk halus. Dalam artian, dia adalah seorang manusia biasa. Ilmu hitamnya sangat tebal. Dan, itulah yang membuatnya tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Untuk memperkuat ilmu hitamnya. Ia harus meniduri wanita perawan seratus dalam waktu yang dekat. Hanya itu saja yang bisa abi simpulkan untuk kamu. Namun, dengan begitu kamu harus lebih hati-hati. Alangkah indahnya jika kamu membuka indra keenammu untuk saat ini dan kedepannya. Demi, menghindari dia apabila dia datang lagi.”
“Lalu, bagaimana dengan santri putri,”
“Mungkin dari mereka ada yang dihampiri. Dan, dia tidak datang hanya pada pondok kita. Melainkan ke tempat-tempat lainnya. Sebaiknya, kita mengumpulkan para santri untuk mengantisipasi. Abi juga akan mengurus untuk pertemuan Kiyai besar untuk membahas ini.”
Setelah kejadian itu, semua santri mengambil piket dalam istighostah malam untuk menghindari makhluk tersebut. Namun, setelah diteliti kembali. Ternyata, benar apa yang dikatakan Abi Felly. Pondok sekitar juga merasakan hal yang sama setelah ada santri putri mendengar seseorang berjalan di atas atap di jam yang sama saat makhluk itu menghampiri Felly.
Dengan begitu, makhlus halus patut untuk dipercayai. Meskipun, kita tidak dapat melihatnya dengan mata telanjang. Namun, kita masih memiliki mata hati. Dimana, kita bisa merasakan sesuatu dan menentukan sesuatu. Oleh karena itu, tetaplah untuk disisi-Nya.



Biodata Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui  akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085 – 852 – 896 – 207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan buku antologi.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...