Generasi P = K
Pratiwi Nur Zamzani
Malam yang dingin mencekam. Bersaksi sinar bulan yang temaram. Terpendar cahaya bintang yang bertarung dalam amukan suara alam. Desir angin berhembus. Menusuk nadi menusuk ulu. Seolah petir terus menyambar memisahkan pertarungan itu.
“Wanita apa yang hanya bisa pulang malam? Apa iya, ia benar-benar melakukan tugasnya?,” tanya salah satu seseorang yang tengah berkumpul di depan teras rumah Pak RT.
“Ahh... ya enggak lah, bu. Masak to sampai segitunya.”
“Makanya itu. Jangan-jangan, dia memang nakal.”
“Untung saja anakku tidak seperti itu.”
Mereka terus bersahutan memperbincangkan seorang gadis remaja. Felly Anggi Wiraatmaja. Itulah namanya. Kembang desa yang tengah menjadi perbincangan busuk dari wajahnya yang cantik. Banyak yang tidak menyangka bahwa anak yang selalu dipuja oleh para pemuda menjadi wanita bejat setelah ia masuk SMA.
“Assalamualaikum. Ma, Pa. Felly pulang,” seru Felly dengan suaranya yang terdengar lemas.
“Kamu darimana?,” tanya Anjani dingin. Mama Felly.
“Baru pulang sekolah lah... darimana lagi emang? Lihat, Felly masih memakai seragam sekolah, kan?,” nyata Felly dengan memegang kerah bajunya.
“Apa kamu pikir Papa bodo?! Tidak ada ceritanya sekolah pulang sampai selarut ini!,” sahut Papa Felly yang sedari tadi hanya terdiam menyambut kedatangan anaknya.
“Felly beneran dari sekolah, Ma, Pa!,” bela Felly.
“Kamu jangan berbohong sama Papa!,” bentak Reynaldy yang siap melayangkan tamparan ke pipi anaknya. Namun, tertahan saat Anjani mencegahnya.
“Felly nggak bohong, Pa! Felly beneran pulang dari sekolah! Kalau memang Mama sama Papa nggak percaya, Mama sama Papa bisa datang ke sekolah sekarang!,” kata Felly dengan isak tangisnya.
Bagaimana tidak? Felly yang selalu dimanja oleh orang tuanya dan selalu mendapatkan perlakuan lembut, untuk pertama kalinya ia mendapat bentakan sekeras itu dari orang tuanya.
“Sekolah apa kamu sampai pulang jam segini, hah? Papa nggak pernah ngelarang kamu main dengan teman-temanmu. Tapi bukan begini caranya, Fel!!!,” bentak Reynaldy yang terus menyanggah ucapan anaknya bahwa ia benar-benar pulang sekolah.
“Felly nggak...”
“Diam!!! Jangan bicara lagi atau Papa nggak akan segan-segan keluarin kamu dari sekolah itu!,” ucap Reynaldy dengan meninggalkan anaknya yang masih berdiri dengan isak tangisnya.
“Mama kecewa sama kamu, Fel. Mama selalu berpikir kalau kalau kamu akan menjadi lebih baik setelah mendapatkan sekolah yang kamu bilang favorit dan apalah itu. Tapi ternyata, kamu nggak bisa membedakan antara yang baik dan tidak. Padahal, Mama sudah mengingatkan kamu berulang kali mengenai memilih pergaulan. Tapi nyatanya, Mama gagal mendidik kamu.”
“Ma, Felly.... Mama.. Ma..,” ucap Felly berulang kali saat Mamanya menghiraukan panggilan anak tunggalnya.
Mereka berdua meninggalkan Felly dengan air matanya yang masih terus mengalir. Membiarkan Felly dengan sejuta pikiran yang menumpuk di dalam kepalanya. Ruang tamu itu menjadi hening setelah kepergian Mama dan Papanya yang entah kemana. Fellypun memutuskan untuk naik ke atas. Masuk ke kamarnya.
Di dalam kamar itu, Felly masuk ke dalam kamar mandi. Mengguyur dirinya di bawah air dingin. Isak tangisnya masih tersisa di sana. Tidak menyangka bahwa kedua orang tuanya akan seperti itu. Felly terus bertanya kepada dirinya. Apakah ia salah jika ia ingin mambanggakan kedua orang tuanya? Apakah ia salah kalau ia ingin berubah menjadi anak yang lebih mandiri? Apa salah jika Felly berusaha menjadi yang terbaik di kelasnya?
Air matanya terus mengalir meski Felly berusaha untuk menghapusnya. Setelah ia mandi dan mengeringkan rambutnya, Felly naik ke atas tempat tidur. Meletakkan kepalanya yang terasa berat karena masalah seharian di sekolah. Di tambah di rumah. Lengkap sudah. Lama Felly memejamkan matanya. Ia terus mengingat ucapan Papanya yang Felly yakin kalau papanya tidak akan main-main mengenai hal itu. Felly merasa kecewa. Seakan Papanya tidak menghargai usahanya. Felly mati-matian belajar sampai pagi hanya untuk masuk ke sekolah yang diinginkannya itu. Tapi Papanya, dengan mudah mencabut seluruh kebahagiaan yang baru Felly rasakan.
Malam semakin dingin dengan angin yang berhembus masuk. Fellypun mematikan AC ruangannya. Ia kembali memejamkan matanya. Namun, semua masalah seakan terus berputar di kepalanya. Hingga akhirnya, Felly memutuskan untuk turun dari ranjang dan mengambil beberapa buku dari dalam tas sekolahnya hanya untuk sekedar membaca. Dan benar saja, apa yang sudah dikatakan Bram. Teman sekelas sekaligus setimnya. Ia akan mendapatkan masalah tidur setelah bekerja seharian. Karena otak yang bekerja ekstra untuk pertama kalinya dan masih belum terbiasa akan susah untuk mengistirahatkannya meski badan sudah terasa sakit semua. Jalan satu-satunya adalah membaca. Karena dapat membuat mata lelah dan otak yang mulai tenang.
***
“Hahaha, Fel, Fel. Nyokap sama Bokap lo katro banget, sih? Masak baru jam segitu udah dimarahin. Gue yang semalem pulang jam sebelas malam aja, Bokap gue santai tuh. Malah dia beliin gue makanan ke luar. Dan Nyokap gue bikinin gue susu,” kata Bram menertawakan Felly yang telah menceritakan kecemasannya mengenai perihal semalam.
Yah.. memang bisa diakui, mereka mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran mereka pada lomba tersebut karena waktu yang diberikan oleh penyelenggara tidak sebanding dengan kriteria penilaian yang ingin mereka capai dengan perkiraan kemauan juri. Oleh karena itu, Bram dan Billy rela pulang hampir tengah malam. Sedangkan Felly dan Riska memutuskan pulang lebih awal.
“Udah yuk, guys! Kita ke aula. Peserta lain pasti udah kumpul tuh buat presentasi,” kata Riska dengan beranjak dari tempat duduknya dan membereskan berkas-berkas yang harus di bawa.
“Bram! Gawat!,” kata Billy di depan pintu dengan nafas terengah.
“Lo darimana, Bil? Habis jogging?!,” gurau Riska.
“Felly di keluarkan dari sekolah!,” ucap Billy dengan sorotan mata kawatirnya.
“Apa?!,” tanya Bram dengan beranjak dari tempat duduknya.
“Tuh, kan! Gue bilang apa?! Bokap gue nggak bakalan main-main dengan ucapannya,” kata Felly dengan wajahnya yang cemas.
“Aduuuh, kenapa bisa jadi gini?! Kita ada di urutan ketiga lagi,” kata Riska cemas.
“Apa? Urutan ketiga?! Kalau memang urutan ketiga, nama Felly udah di black list dari tim. Dan otomatis tim kita kena diskualifikasi. Come on guys! Ayolah! Ini di apain?!,” tanya Billy dengan seluruh kecemasannya.
“Apa kita minta ke urutan pertama aja?,” tanya Riska mencoba menenangkan.
“Tapi gimana caranya, Ris?!,” tanya Billy.
“Menukar nomor dengan pemilik urutan satu!,” kata Bram tanggap setelah menemukan ide.
“Apa mereka mau?!,” tanya Felly.
“Apa salahnya mencoba. Toh, kalau mereka ada di urutan ketiga, mereka bisa memiliki waktu untuk pemantapan dirinya presentasi, kan?! Biar gue yang ngomong ke mereka,” kata Bram tegas dengan meninggalkan ruangan bengkel garapan mereka.
Merekapun ikut keluar bersama dengan Bram. Wajah mereka yang tenang, berubah menjadi cemas setelah mendengar kabar itu. Felly yang awalnya mengikuti langkah mereka mengubah haluan langkahnya ke arah lain.
“Lo mau kemana, Felly?! Udah deh jangan aneh-aneh lagi! Waktu kita nggak banyak,” kata Riska.
“Ada hal yang harus gue urus. Kalian selesaikan aja penawaran dengan tim satu. Gue akan nyusul,” kata Felly dengan berlari kecil meninggalkan Riska.
***
Langkahnya terhenti saat ia berada di meja guru. Felly berusaha untuk mengatakan seluruh masalahnya kepada guru itu. Yah.. memang hal itu sudah di larang oleh Pro Techno. Timnya. Mereka sudah berjanji akan membawa kejuaraan tanpa campur tangan seorang guru. Namun, apa daya apabila posisi mereka dalam posisi seperti itu. Felly yakin, namanya di dalam tim sudah ter-black list karena ia sudah bukan murid di sekolah itu. Ia hanyalah orang asing yang masuk ke dalam tim sekolah itu. Tim yang Felly anggap sebagai tim kuat. Sekuat rasa kekeluargaan mereka.
“Untuk kali ini saja. Saya mohon..,” ucap Felly dengan menyatukan kedua telapak tangannya bak menyembah seorang dewa.
“Saya akan membantu kamu. Saya berjanji untuk itu. Sekarang, kamu fokus dengan lomba itu. Lupakan masalah ini. Felly, saya yakin kamu bisa. Saya yakin, kamu tidak akan mengecawakan saya,” kata guru itu dengan memegang kedua bahu Felly.
Seketika, air mata Felly terjatuh. Ia tak dapat membendung rasa trenyuhnya dengan situasi yang ada. Selama ini, Felly tidak pernah merasakan perjuangan seorang guru yang layaknya memperjuangkan keselamatan anaknya yang di ambang kematian. Begitu juga para teman-temannya yang menyelamatkan dirinya sendiri dari maut yang di bawa oleh Felly. Mereka memang baru mengenal ditahun pertama saat itu. Tapi kedekatan mereka, layaknya sebuah saudara yang menyatu dalam keluarga. Sedekat darah yang mengalir dalam daging yang sama.
***
Felly datang dengan sisa gemuruh hatinya. Di depan stan, terlihat seluruh kesedihan dan kekecewaan yang ada di sana. Namun, tak lama dari itu, mereka mendengar panggilan Pro Techno dari dalam aula. Felly menganggukkan kepalanya untuk memasuki aula. Bram, Billy dan Riska memantabkan hatinya bahwa itu benar-benar panggilan untuk mereka.
Sesampainya di sana, mereka mempresentasikan hasil kerjanya. Dan mereka mendapatkan sambutan meriah dari para penonton mengenai design yang mereka buat. Menyatukan teknologi dengan benda mati. Menemukan inovasi baru dalam waktu yang singkat. Bersaing dari seluruh sekolah di kota itu. Dan, menjadi tangisan dalam rengkuh tak bernyawa. Semuanya seakan hilang. Namun, segalanya tersadar saat mahkota melekat di atas kepala Felly. Bunga di tangan Bram. Sleyer kemenangan di bahu Riska. Serta piala penghargaan di tangan Billy.
Semua usaha tidak akan sia-sia. Tuhan akan memberikan seluruh badai kepada hambanya. Tapi Tuhan tahu, antara baik dan buruk. Meski semua orang memandang Felly buruk, tapi Tuhan memandang Felly mulia dengan ilmunya. Usaha, tidak akan menghianati hasil. Semua akan terbayarkan sesuai dengan usaha. Memang pantas jika orang tua cemas. Karena mereka ingin yang terbaik. Tapi semua, tergantung kepada individu masing-masing bagaimana mereka menghadapinya. Seperti kata pepatah, Peluang+Usaha= Kesempatan.
Biografi Penulis
P.N.Z adalah nama yang selalu tercantum dalam setiap karya gadis ini. Ia lebih akrab di panggil Pratiwi Nur Zamzani.Terkadang, banyak orang yang memanggilnya nama Felly. Karena, ia selalu menggunakan nama tersebut di setiap karyanya.
Ia lahir dengan kelahiran Pasuruan, 4 Juli 1999. Gadis ini telah menempuh pendidikan Menengah ke atas di SMA NEGERI 1 BANGIL, dan Menengah Pertama di SMP NEGERI 1 BANGIL. Ia memiliki cita-cita sebagai seorang Dosen dan motivator. Ia berharap, dengan tulisan yang ia buat, ia dapat mengisnpirasi dan memotivasi kalian dengan karyanya. Sehingga, karya tersebut dapat bermanfaat dalam kehidupan kalian. Banyak karyanya yang sudah di muat di media masa. Kalian juga bisa melihat karyanya di cerpenmu.com dengan mengetikkan namanya di search pencarian. Atau menjadikan namanya sebagai kata kunci pencarian di google.
Jika kalian berminat, kalian bisa menyapanya dengan alamat Facebook Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Hijab Putih), IG pratiwinurzamzani (Pakai Hijab Putih) atau melalui E-mailnya pratiwinurzamzani@yahoo.co.id
Salam dan Peluk Hangat
Pratiwi Nur Zamzani
Comments
Post a Comment