Skip to main content

Koishikawa Kaourakuen Garden

Koishikawa Kaourakuen Garden
Pratiwi Nur Zamzani


“Tokyo?!,” tanya Felly kepada managernya saat ia mendengar bahwa besok ia harus berangkat ke sana untuk mengikuti pemotretan.
“Kenapa?,” tanya Manager Felly.
“Tidak. Kau bisa meninggalkan aku di sini,” ucap Felly datar.
Managernya hanya mengangguk. Kemudian meninggalkannya.
“Kenapa tidak ke Yakohama saja?,” gumam Felly dengan menatap kabel colokan lampu untuk persiapan pemotretan selanjutnya.
“Lo kenapa, Fel? Udah cantik gitu masih aja lo tekuk tuh wajah!,” sapa Riska saat ia telah keluar dari ruangan make-up.
“Gue besok harus ke Tokyo,” jawab Felly dengan menghembuskan nafas beratnya.
“Bagus dong. Bukannya itu yang lo inginkan selama ini?”
“Iya, tapi bukan di Tokyo. Yakohama, Ris yang gue inginkan.”
“Yah... nanti kan lo bisa ke sana sendiri kek... masak sih, pihak majalah nggak kasih cuti sehari atau dua hari untuk liburan menikmati Jepang? Pasti dikasih lah!”
“Tahu, ah! Pusing gue! Udah ya, gue tinggal dulu. Udah waktunya pemotretan gue. Nggak enak juga kalau mereka harus panggil-panggil gue dulu,” ucap Felly dengan beranjak dari duduknya, menepuk pundak Riska pelan, kemudian meninggalkan Riska yang masih menunggu giliran.
Riska hanya bisa mengangguk. Dengan cekatan, Felly menyelesaikan pekerjaanya itu. Kemudian, berpamitan pulang untuk packing barang yang harus ia bawa ke Tokyo besok. Walaupun ia memiliki asisten,  bagi Felly untuk masalah baju dan perlengkapan yang lainnya, ia tidak mau ada orang lain yang menyentuhnya. Terutama, gantungan kunci itu. Yah... satu barang yang masih ada di tangan Felly.
“Felly! Ini paspornya! Dan juga, tiketnya!,” seru asistennya saat memasuki rumah megah itu.
“Thank you, ya...”
“Yah... gue tinggal dulu ya.. hari ini gue ada acara, Fel!,” ucap asistennya yang masih seumuran dengannya itu.
Felly hanya menganggukkan kepalanya seraya menghempaskan tubuhnya di kasur empuk itu. Hingga tak terasa, ia tertidur di atas tepat tidurnya. Dan menyadari kondisinya saar matahari menyapu pipinya yang putih. Mengingat, ia lupa untuk menutup jendela kamarnya.
Dengan mata yang masih setengah menutup, ia meraba ponselnya yang ia letakkan di sampingnya. Kemudian, melihat jam yang tertera di depan layar. Fellypun mencoba untuk duduk dengan badan yang terasa begitu lelah. Kemudian, berjalan ke arah kamar mandi untuk menyiapkan dirinya. Keberangkatannya ke Tokyo adalah 30 menit lagi.
“Felly!,”panggil asistennya saat memasuki rumah itu. Begitu sepi.
“Fel!,” serunya kembali.
“Gue masih di kamar mandi!,” jawab Felly.
“Ok! Cepetan! Sarapan dan kita berangkat 1 menit lagi. Jangan sampai terlambat!,” serunya dari bawah lantai.
***
“Haruskah kita ke Tokyo?,” tanya Felly kepada Asistennya.
“Yah... kalau kau mau tendermu gagal jikalau kau tidak melakukan hal ini.”
“Hhhhhffffttt! Terserahlah mau apa!,” ucapnya saat pesawat akan turun.
Dengan langkah santai, Felly menelusuri lantai bandara untuk cancel. Masalah koper, pasti sudah apa kata asistennya. Akan tetapi, langkahnya terhenti saat melihat seseorang.
“Bram?!,” panggil Felly ragu saat ia telah mendekati objek sasarannya.
“Felly!”
“Lo ngapain di sini? Bukannya, lo sekarang pemotretan di London?”
“Gue balik! Tapi, ke Jepang. Oh ya, kebetulan lo di sini! Gue juga mau nyerahin skenario tema majalah pemotretan kita.”
“Hah? Kita?,” tanya Felly bingung dengan menerima berkas bermap biru itu.
“Yah... kita. Kita bakalan jadi partner majalah preeweding. Biasalah, suponsor baru dengan produk baru pula. Eh tapi, kenapa lo bingung begitu?”
“Gue nggak dapat kabar kalau kita bakalan partneran dalam satu pemotretan.”
“Hah? Masak sih? Mungkin, lo lupa kali!”
“Ah.. ia kali ya... Mungkin Manager gue lupa bilang ke gue.”
Bram hanya mengangguk. Kemudian, Bram mengajak Felly untuk masuk ke mobil yang sudah disiapkan oleh pihak majalah. Sedangkan tim pembantu ada di belakang mengikuti mobil model.
Selama di perjalanan, mereka berbicara banyak mengenai pengalaman masing-masing selama menjadi model. Hingga akhirnya, mereka berhenti di tempat yang sudah ditentukan oleh pihak majalah.
Kaishikawa Kourakuen Garden. Taman yang lokasinya persis di sebelah Tokyo Dome. Jadi, kunjungan ke taman ini sekaligus bisa dilakukan saat menuju Tokyo Dome. Konon, Kourakuen dinobatkan sebagai taman tercantik di Tokyo. Bahkan seantero Jepang. Tata letak aman ini sangat artistik. Disebut-sebut sebagai salah satu taman tertua di Tokyo, taman sudah ada sejak abad ke-17 pada Zaman Edo.
Taman ini, adalah taman yang menganut pakem tradisional Jepang yang dilengkapi kolam, batu-batuan, hamparan pasir, pohon yang besar dan pohon bunga, serta bukit kecil. Terdapat spot terbaik untuk meikmati keindahan taman, yaitu viewpoint. Ini adalah puncak bukit buatan, di mana kita dapat melihat bebas pemandangan seluruh penjuru taman.
“Bagus banget ya, Fel?!,” ucap Bram dengan senyuman yang lebar dan puas.
Felly hanya terdiam memandang taman itu. Taman ituu... Yah.... taman yang pernah membawakan kenangan indahnya. Cita-citanya dan juga hal yang membuatnya bahagia.
“You can see our model. Because, we bring our two pledge model. They dare to give satisfaction to you till you really satisfied.”
“Yes... thank you!”
“Felly! Bram!,” panggil ketua tim saat Felly dan Bram masih berdiri menikmati indahnya taman dengan melambaikan tangannya.
Hanya Bram saja yang moneleh ke arah sumber suara. Sedangkan Felly masih berusaha mengingat kenangannya yang telah terkubur rapi di sini. Dengan cepat, Bram menarik tangan Felly untuk mengikutinya ke arah ketua  tim pemotretan. Dengan langkah mundur, Felly mengikuti Bram tanpa mengalihkan pandangannya. Hingga akhirnya, ia tertabrak seseorang yang berdiri di belakangnya yang sejak tadi menunggunya.
“Ma..a..af,” gumamnya spontan dan ragu saat ia harus membelalakkan matanya.
“Felly!,”panggil orang itu tak kalah terkejutnya.
“Ouma Shu!,” panggil Felly lirih.
“What are you doing?,” tanya Felly dengan menundukkan kepalanya saat ia tak sanggup lagi menatap mata laki-laki itu.
“I am Suponsor in the you’r project.”
“I retire from this project!,” ucap Felly tegas dengan meninggalkan mereka.
“Felly! Apa kau gila? Mereka sudah memnabayar kita dimuka!,” bisik Bram dengan menarik tangan Felly saat Felly hendak pergi.
“Aku akan mengganti semua kerugiannya. Meskipun, tanpa harus biaya pinalti.”
“Can all of you leave two we here?”
“Oh.. Ok Sir. Ia leave you and Felly. Bram, come on!”
Saat Bram dan ketua tim pemotretan pergi. Laki-laki angkat Indonesia-Amerika yang bernama Arkana Aditya mendapatkan nama marga Ouma Shu itu kini berada begitu dekat dengan Felly.
“Kenapa kau kembali Arka?”
“Bukan aku yang kembali. Tapi sengaja mengembalikannya.”
“Apa maksud semua ini, huh?!”
“Kembalilah ke Jepang. Jangan pergi.”
“Apa kau bilang? Jangan pergi?! Seharusnya aku yang berkata seperti itu! Kau, kenapa waktu itu kau pergi ke Amerika? Jikalau kau memang mencintaiku, kau tidak akan pergi ke sana!”
“Karena aku ingin menikah dengan tenang. Ueno Park. Tempat yang pernah kita kunjungi bersama adalah alasan mengapa aku meninggalkanmu. Aku tidak ingin mati konyol karena kedinginan di musim dingin saat kita tua karena tidak mempunyai tabungan untuk biaya hidup. Sehingga, aku dan kau harus tinggal di taman itu tanpa adanya rumah ataupun yang lainnya.”
“Dan sekarang kau kembali, karena kau telah berhasil mendapatkan apa yang kau inginkan, kan?”
“Belum. Semua yang aku inginkan belum terpenuhi.”
“Bukankah kau sudah tenang dengan pekerjaanmu saat ini?”
“Tidak! Karena aku belum memilikimu!”
“Tch! Memilikiku?! Apa kau gila? Sama saja kau membandingkan cinta kita dengan uang Arka!”
“Lihatlah itu!,” ucapnya dengan penunjuk salah satu pohon yang ada di taman.
“Tree love?! Tch! Basi!”
“Basi katamu?! Kenapa gantungan itu masih ada ditanganmu jika kau telah menganggap semua itu basi? Felly, kenapa kau begitu munafik dengan semua ini? Apakah kau tidak merasa bersalah pada dirimu? Tataplah mataku dan katakanlah jika cinta kita sudah basi! Maka, aku akan benar-benar pergi tanpa keraguan apapun!”
“Ouma Shu!!!,” bentak Felly.
“Why?!!! Aku lelah dengan keras kepalamu yang tidak pernah berubah, Felly! Aku tidak tahu aku gila atau tidak?! Tapi yang aku tahu hanya satu. Love. Felly, tataplah mataku!,” pinta Arka dengan menuntun dagu Felly gar mereka dapat bertatapan dengan sejajar.
“Watashi sukitte ii nayo! Lisen me please my love! One more!,” ucapnya dengan mencium kening Felly dengan memeluknya begitu erat.
Felly sempat memberontak. Akan tetapi, ia tak dapat membohongi dirinya lagi saat ia benar-benar merasakan kehangatan yang pernah hilang tujuh tahun silam. Begitu juga dengan cinta pertama yang pernah hilang di saat waktu yang sama. Tatapan mata itu kembali lagi dalam detik yang sama. 4 detik  kembalinya cinta mereka. Cinta yang berpagut dengan indahnya taman Koishikawa.






Biodata Penulis

Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...