Skip to main content

One Time

One Time
Pratiwi Nur Zamzani

“Felly! Gue tunggu di studio, ya?!,” ucap Bram dengan semangat saat mereka telah menjalani mid-semester di hari terakhir.
Felly hanya dapat mengangguk mantab dengan senyuman yang lebar. Dan juga, membalas lambaian tangan Bram. Felly mulai menghirup udara segar selama ia berjalan di area parkir yang penuh dengan pepohonan rindang. Jalan untuk sampai ke arah studio.
Ia sangat terkejut saat tiba-tiba ia mendapat tepukan di kedua pundaknya. Billy Wirastyo. Rekan bandnnya. Pemegang bazz sekaligus koordinir untuk penyewaan Pro Techno di beberapa undangan ataupun pesta. Serta, kontrak kerja dengan beberapa caffe, model brand alat musik terbaru dan juga kontrak distro baju remaja. Mengingat, separuh dari mereka memiliki fasilitas fisik yang memadai untuk berhadapan dengan camera. Terutama, Felly.
Gadis dengan nama Felly Anggi Wiraatmaja adalah kapten dari band Pro Techno. Selain memiliki tallent dan suara yang menggelegar ia juga kerap menjadi kerubutan para wartawan untuk mewawancarainya sedikit mengenai karirnya yang tengah melejit di kalangan remaja.
Banyak artikel yang memuat tentang Felly. Terutama kisah cintanya. Sehingga, banyak gosip yang beredar di sekitar Felly hingga membuat Felly risih. Bagaimana tidak? Mereka semua selalu menyangka bahwa Felly memilik hubungan bersama Bram ataupun Billy. Kalau tidak mereka, berarti dengan Rendy. Kapten basket sekolah mereka. Padahal, di balik itu semua Felly telah memiliki cinta yang membuatnya bahagia dan berbunga-bunga setiap saat.
 “Felly, gue boleh nanya sesuatu nggak sama lo?,” tanya Bram dengan ragu-ragu.
“Lo kayak curut habis masuk ke got tahu, gak?! Mau tanya aja kayak ngadep kejaksaan aja!,” jawab Felly dengan menghentikan petikan gitarnya.
“Hari ini, gue mau minta tolong sama lo. Boleh nggak?”
“Minta tolong?!,” tanya Felly balik dengan mengerutkan dahinya heran.
“Minta tolong apa?,” lanjut Felly saat kerutan dahinya telah menghilang.
“Temenin gue ke caffe! Setelah kita latihan band hari ini. Bisa, kan?!,” tanya Bram dengan tatapan yang mengharap dan nada ragu-ragu.
“Caffe?! Tumben banget lo minta temenin?! Kenapa nggak sama Billy aja?! Bisa juga sama Riska. Lagipula,kalau dilihat lagi kalian cocok loh!”
“Kan gue maunya sama lo dodol! Kenapa lo nawarin Billy sama Riska?! Tahu gitu, kalau gue pergi sama Billy mending ke bar aja! Lebih asik daripada caffe! Lo pikir gue gay apa?!”
“Hahaha, ok,ok. Gue akan nemenin lo ke tempat itu. Apa.. lo mau nembak cewek?,” tanya Felly dengan nada berbisik.
“Tch! Apaan sih, lo?!”
“Felly, gue juga mau nanya sesuatu tentang lo?,” lanjut Bram.
“Ah... apakah hari ini gue apat bayaran khusus untuk pertanyaan itu? Ok! Akan gue jawab, hahaha!”
“Nih cewek, cantik-cantik ngakaknya kayak singa ngamuk aja!,” gumam Bram dengan memakan snack yang dibawa oleh Riska.
“Lo kayak nggak tahu Felly aja, sih?! Oh ya, by the way ada apaan lo ngajakin Felly ke caffe?! Kalian, mau kencan?,” tanya Riska.
“Mau tahu aja!,” jawab Bram dengan tetap asik memakan snacknya.
Riskapun memanyunkan bibir sensualnya. Kemudian, meminum minuman yang baru ia beli bersama dengan Billy saat mereka belum sampai di studio. Kemudian, Riska mengambil buku musiknya. Untuk sekedar mengahafal cord ataupun not lagu. Mengingat, dua minggu lagi mereka akan berdiri di panggung regional dalam turnamen band terbaik tingkat nasional. Maklum saja jika ia mempersiapkan hal itu demi pencapaian yang ia inginkan.
“Bil, bentar ya gue angkat telpon dulu,” ucap Felly kepada Billy saat ponselnya berbunyi.
Fellypun keluar dari ruangan. Iapun berbincang dengan orang yang menelponnya beberapa menit. Setelah itu, Felly masuk kembali ke ruangan studio. Mengambil ranselnya, dan mengajak Bram untuk pergi ke caffe saat itu juga. Billy dan Riska sempat terkejut dengan hal yang dilakukan oleh Felly.
Akan tetapi, apa daya jika mereka harus melihat kedua temannya bahagia dengan rasa kasmaran meski mereka menyembunyikan semuanya dengan kebohongan yang mereka ucapkan.
“Mbak, pesen ini!,” ucap Bram dengan menunjuk gambar makanan yang ia inginkan. Begitu juga dengan Felly.
Saat pelayan mempersiapkan pesanan mereka, Felly dan Bram bergurau ria di caffe itu. Hingga akhirnya, datanglah seseorang yang menghampiri meja mereka. Untuk sejenak, Felly hanya bisa terdiam heran saat orang itu duduk di depannya. Kemudian, Bram berpamitan untuk pulang.
“Sial!,” batin Felly.
“Anak itu njebak gue lagi! Tahu gitu, gue nggak bakalan mau dateng. Oh Tuhan.. tolonglah aku!,” gumam Felly dalam hati.
“Kamu udah pesen, Fel?,” tanya Rendy.
“Udah kok. Tadi, gue dipesenin sama Bram.Lo mau pesen juga?,” tanya Felly untuk menjaga imagenya.
“Boleh deh! Tapi, Bram kan udah pulang.”
“Iya deh! Terserah lo aja mau pesen atau nggak.”
“Sip!”
Suasana hening menyelimuti mereka. Bagaimana tidak? Felly tidak memiliki pikiran untuk bertemu dengan laki-laki ini. Rupanya, Bram akan membuat hot news yang akan mencairkan kartu kreditnya. Canggung. Itu pasti. Namun, semuanya berubah saat seseorang menghampirinya lagi. Tertutama, ia datang dengan senyuman yang begitu manis. Dan, memabukkan bagi Felly.
“Arka!,” panggil Felly kaget.
“Nikmati malam kalian!,” ucap Arka dengan meninggalkan Felly di caffe itu.
Seketika Felly beranjak dari tepat duduknya. Kemudian, ia berlari mengejar Arka yang semakin menjauh. Seluruh langkahnya terasa begitu berat. Badannya terasa begitu lemas. Jantungnya berdetak begitu kencang. Lutunya terasa membeku dan tak kuat lagi untuk menyangga tubuhnya. Hingga akhirnya, ia terjatuh lemas.
Arka menghentikan langkahnya saat melihat Felly terjatuh tak berdaya. Iapun berlutut untuk membantu Felly berdiri. Namun, Felly sudah tidak mampu lagi untuk menyangga tubuhnya. Sehingga, Arka mempobong Felly.
Rendy memanggil-manggil nama Felly berulang kali.  Tapi, Felly membiarkannya.Sebagai orang yang normal, ia akan lebih memperdulikan kekasihnya. Yah.. kekasih hatinya yang telah kembali setelah perpisahan mereka selama 7 tahun. Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya.
Felly tidak dapat membayangkan bagaimana dia akan gila apabila ia kehilangan Arka untuk yang kedua kalinya. Membayangkan, hal yang pernah terjadi padanya selama kepergian Arka dari sisinya. Dan, hal itu membuat Felly memaksa mulutnya untuk terbuka meski ia ak mampu membukanya.
“Maafkan aku,” gumam Felly dalam rengkuhan Arka dengan posisi tangannya yang menggelayut erat leher Arka agar tidak terjatuh.
“Harus berapa kali aku melihatmu dengan laki-laki lain, Felly?”
“Aku dijebak Bram.”
“Tetap saja semua itu terasa menyakitkan.”
“Arka... maafkan aku,” gumamnya sedih.
“Felly, bolehkan aku meminta sesuatu padamu?”
“Apa itu?”
“Bisakah kau fokus denganku?”
“Aku nggak pernah mengalingkannya, Ka.”
“Aku percaya itu. Tapi, aku hanya ingin mengatakan sesuatu.”
“Apa? Katakan padaku!”
“Semua ini tersaa begitu menyakitkan.Dadaku terasa begitu sesak.  Jantungku terasa berhenti bekerja saat aku harus melihatmu dengan laki-laki itu. Di tambah lagi, banyak artikel mingguan remaja yang mengungkap hubunganmu dengan dia. Aku terus memberontak untuk tidak mempercayainya. Tapi, semua itu rapuh saat aku melihat kau seakan berkencan dengannya.”
“Lantas apa maumu?”
“Aku hanya ingin, apakah kamu keberatan apabila kamu mengungkapkan bahwa kita memiliki hubungan yang khusus?”
“Tch!,” jawab Felly dengan senyum simpulnya.
“Kenapa?”
“Aku hanya merasa senang. Ternyata, dengan gosip-gosip itu beredar masalah hubunganku dan Rendy aku akhirnya bisa mendapatkan apa yang aku inginkan selama ini.”
“Jikalau begitu, kenapa kamu baru bilang sekarang?”
“Karena aku hanya ingin kamu yang menginginkannya.”
“Itulah kenapa aku masih ada meskipun kita teripisah selama 7 tahun. Terimakasih untuk segalanya.”
“Kau itu!,” kata Felly dengan menempelkan dahinya ke arah pipi Arka.
Setelah kejadian itu, teredarlah berita tentang hubungan mereka. Sehingga, membuat Bram merasa bersalah. Dan, ia bersedia untuk meluruskannya dengan cara bebricara empat mata dengan Arka tanpa Felly memintanya.
Namun, penjelasan yang diberikan oleh Bram sia-sia.Karena, Arka telah mepercayai cinta yang dimiliki oleh Felly. Cinta. Itulah masalahnya. Cinta akan terasa begitu lengkap saat adanya kepercayaan. Begitu juga dengan kesetiaan. Kesetiaan ada karena kepercayaan. Mengingat, kepercayaan adalah hal yang sulit untuk dilakukan setelah melihat dugaan yang siap ada di depan mata.


Biodata Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , IG @pratiwinurzamzani, twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...