Skip to main content

Belahan

Belahan
Pratiwi Nur Zamzani


“Fel!,” panggil Billy.
Felly tidak menggubrisnya. Ia tetap berada di pikirannya. Matanya tetap terfokus pada partitur muisk yang ada di depannya. Waktu yang begitu panjang untuknya. Sebuah hasil dimana ia menemukan rasa yang kembali dalam sebuah relevansi waktu di masa lalu. Sebuah rasa yang ingin ia jauhi hingga ia merasa, ia ingin melenyapkan rasa itu.
“Fel,” panggil Riska kemudian. Memastikan bahwa Felly baik-baik saja.
Hasilnya tetap sama. Felly tidak menggubris apa yang dikatakan oleh Riska ataupun Billy. Tapi mereka yakin, Felly mendengarkan panggilan mereka berdua. Namun, hatinyalah yang bisu saat itu.
Felly menautkan alisnya. Mengerutkan keningnya. Ia menatap tajam ke arah Bram yang tiba-tiba mengambil buku partitur musiknya. Bram menatapnya dengan wajah datar. Seakan ia siap menerima semua cacian yang biasa terlontar dari mulutnya yang kejam. Tidak. Tidak hanya mulutnya saja yang kejam. Tapi juga hatinya.
Felly Anggi Wiraatmaja. Kapten band mereka. Pro Techno. Gadis dengan aura yang dingin, tatapan yang tajam, bak singa liar yang siap mengaum saat tersentuk taringnya. Tapi Billy, Bram, dan Riska. Mereka tidak pernah mengeluh dengan kekejaman Felly terhadap mereka.
Mereka tidak peduli apabila Felly mengomel untuk menyuruh mereka bekerja keras. Mereja juga tidak peduli apabila Felly menyuruh mereka untuk menunda jam makan siang, atau menyuruh mereka lembur karena beberapa hal yang harus dikerjakan oleh mereka sebelum mereka harus kembali pulang. Tapi, kediaman mereka kali ini menjaid suatu masalah bagi mereka meski mereka tidak tahu apa yang ada dipikiran Felly atau apa yang ada di benak Felly hingga membuatnya terdiam.
“Fel, lo kalau ada masalah bilang kenapa?,” pinta Bram mengingatkan.
“Tahu nih!,” kata Billy.
“Lo kalau nggak mau cerita sama Bram atau Billy, lo bisa cerita sama gue,” kata Riska lembut.
“Gue butuh waktu sendiri. Jadi, kasih gue waktu untuk sendiri,” ucap Felly dingin.
Sunyi. Mereka kembali terdiam setelah beberapa waktu lalu mereka terdiam. Mereka juga kembali sibuk dengan pikirannya masing-masing setelah mendapatkan ucapan telak dari Felly. Mungkin, untuk saat ini Felly benar-benar tidak ingin di ganggu oleh mereka semua. Atau, Felly tidak mau mereka mencampuri urusannya.
Mata mereka tertuju pada Felly yang beranjak dari tempat duduknya. Kemudian, mata mereka mengikuti langkah Felly yang pergi keluar rangan studio musik. Membelah kesunyian gedung mewah yang menjadikan nama Felly Anggi Wiraatmaja terus menggelegar sepanjang zaman.
Di mata khalayak, Felly adalah pelopor muda yang telah berhasil menembus labirin karirnya di usia yang begitu muda. Saat ada pelelangan barang antik dan penyumbangan dana, perhitungan kekayaan yang ada di tangan Felly melebihi artis papan atas diperiode saat itu. Tapi Felly, tidak pernah merasa sudah berada di atas. Yang ia rasakan hanya sunyi dan sepi.
Otak Felly tidak pernah jauh dari partitur musik, skenario pemotretan, atau penyatuan model baju yang harus ia jadikan iklan. Dalam dunia cintanya, publik tidak akan pernah tahu bagaimana kisah cinta Felly yang sesungguhnya. Karena Felly hanya mengekspos kisah cintanya yang dianggap permainan oleh Felly. Yah.. sebuah permainan dengan strategi dan taktik yang sudah ia pikirkan saat itu.
***
“Kenapa lo datang ke sini?,” tanya Felly ketus.
“Seharusnya gue yang nanya. Kenapa lo mau datang ke sini?,” tanya laki-laki itu tercekat.
“Brillian!,” bentak Felly saat laki-laki di depannya menuntut sebuah penjelasan rinci melalui pertanyaanya.
“Gue terlalu bodoh buat mengerti gimana maksud lo dan juga kemauan lo. Gue terlalu buruk untuk yang lebih buruk. Tapi gue hanya ingin satu hal dari lo, jangan pernah pergi dari gue lagi! Atau sekedar lari dari gue!,” kata Brillian lembut.
“Brilliandi Arka Pramana, haruskan gue harus mengulang kata-kata gue yang gue ucapkan di VN waktu itu? Lo bebas memilih cewek yang lebih dari gue! Toh, kalaupun gue lari atau gue pergi dari kehidupan lo, gue yakin lo nggak akan ngerasa kehilangan gue sama sekali. Karena pihak lo, masih bisa memilih yang lain,” jelas Felly tajam.
“Okay! Gue akui, gue nggak pantas bicara kayak gini ke lo! Tapi setidaknya, kasih penjelasan ke gue!!! Jangan diemin gue dan lo tiba-tiba pergi nggak ada kabar! Gue butuh kepastian!,” jelas Brillian dengan emosi yang mulai menyulut.
“Penjelasa apa lagi?! Semuanya udah jelas! Mereka lebih penting daripada gue!!! Buat apa gue mempertahankan orang yang udah nggak butuh gue lagi!!! Buat apa gue mempertahankan orang yang udah nggak nganggep gue penting lagi, buat apa?!!!!,” ucap Felly tak kalah emosinya.
“Ahhhh!,” decah Brillian kesal dengan mengacak rambutnya frustasi. Ia bingung harus menghadapi Felly dengan cara apa.
“Lupakan semuanya. Lo bisa kembali ke kehidupan lo yang seperti semula tanpa kehilangan gue. Dan gue yakin, lo pasti bakalan nemuin cewek yang lebih baik dari gue,” jelas Felly dengan meninggalkan Brillian.
“Apa lo pikir semudah itu?,” tanya Brillian dingin saat ia berhasil meraih lengan Felly dan mencegah langkah Felly yang semakin menjauh.
“Gue cinta sama  lo. Puas?!,” tanya Brillian dengan menatap mata Felly tajam.
Felly terdiam. Ia tak mampu mengatakan apapun. Jantungnya serasa jatuh ke perut. Matanya tak mamp mengerjab. Bibirnya terkatup rapat sempurna. Di sisi lain, Felly ingin mengatakan hal yang selama ini sudah ia pendam dengan sejta derita. Rasa yang tak pernah ia ungkapkan dengan gejolak hasrat kalau ia sudah lebih dulu mencintai Brillian.
Entah waktu mana yang lebih dulu menentukan cinta itu. Waktu mana yang memihak Felly lebih dulu mencintainya hingga akhirnya, Felly kembali tersadar saat Brillian mengangkat dagunya. Mensejajarkan tatapan mereka berdua. Di sana, Brillian menatap kedua manik mata Felly dengan begitu lekat. Ia ingin, Felly membalasnya dengan hal yang sama. Hal yang ia berikan kepada Felly. Hal yang menjadikan Felly sebagai orang spesial di mata dan di hatinya.
“Katakan sesuatu. Jangan diam. Kediamanmu menyikassi dibandingkan aku harus tercekat di atas kapal layar karena Kapten dan Komandanku tengah menyidangku di tengah kesalahanku karena memikirkanmu. Kumohon, bicaralah Felly,” pinta Brillian lembut.
“Kenapa kau berubah? Waktu yang ada di antara kita terasa begitu singkat. Bahkan kau seakan lebih mementingkan mereka daripada aku,” kata Felly memberikan alasan.
“Jadi, kau juga mencintaiku? Menunggu kehadiranku tapi kau justr lebih memilih menghilang dari kehidupanku? Membuat aku kalap di atas kapal bukan karena ombak? Tapi karena dirimu? Begitu?,” tanya Brillian memastikan.
Felly mengangguk perlahan. Di sana, Brillian dapat menghembuskan nafas lega setelah mendengar penyataan dari Felly. Ia meraa, perutnya dipenuhi oleh kupu-kupu yang beterbangan di sana. Ikut merasakan detak jantungnya yang begitu cepat hingga ia tak mampu untuk mengatakan apapun selain senyuman manis dan bahagianya.
Yah.. Felly yang telah menghilang karena ia merasa terasingkan dan tak berarti, kembali lagi dalam hatinya. Ah tidak... tidak hanya dala hatinya. Tapi dalam pelukannya yang akan ia janjikan untuk tidak melepasnya. Ia berjanji pada samudera dan lautan di saat ia berlayar, ia akan tetap mengingat satu kata dari Felly bahwa gadis itu mencintainya.
“Apakah kau tidak ingin mengucapkan kata cinta padaku?,” tanya Brillian.
Felly mengangkat kepalanya. Ia membulatkan matanya saat Brillian kembali ke Brillian yang biasanya. Laki-laki yang suka membuatnya jengkel, hingga ia selalu merindukan rasa jengkelnya itu. Sampai akhirnya, Felly mengucapkan kata itu setelah ia melihat iris mata Brillian yang begitu bahagia atas pernyataannya.
“Aku, mencintaimu,” kata Felly.
“Apa? Aku nggak denger,” ucaap Brillian dengan memajukan telingan.
“AKU MENCINTAIMU,” kata Felly kembali dengan penekanan di setiap nadanya.
“Apa? Aku nggak denger,” ucap Brillian dengan tawanya.
“Kamu!,” ucap Felly sebal di tengah manjanya.
Tak lama dari itu, Brillian mengeluarkan ponselnya. Ia memutar suara Felly dengan kata’aku mencintaimu’. Suara itu, seakan menjadi lagu untuk dirinya. Sedangkan Felly menanggapi Brillian dengan jengkel. Tapi apa daya, saat Brillian justru menangkan Felly dan mendekapnya. Seakan ia akan berjuang bagaimana mempertahankan cintanya. Felly.





Biografi Penulis

P.N.Z adalah nama yang selalu tercantum dalam setiap karya gadis ini. Ia lebih akrab di panggil Pratiwi Nur Zamzani.Terkadang, banyak orang yang memanggilnya nama Felly. Karena, ia selalu menggunakan nama tersebut di setiap karyanya.
Ia lahir dengan kelahiran Pasuruan, 4 Juli 1999. Gadis ini telah menempuh pendidikan Menengah ke atas di SMA NEGERI 1 BANGIL, dan Menengah Pertama di SMP NEGERI 1 BANGIL. Ia memiliki cita-cita sebagai seorang Dosen dan motivator. Ia berharap, dengan tulisan yang ia buat, ia dapat mengisnpirasi dan memotivasi kalian dengan karyanya. Sehingga, karya tersebut dapat bermanfaat dalam kehidupan kalian. Banyak karyanya yang sudah di muat di media masa. Kalian juga bisa melihat karyanya di cerpenmu.com dengan mengetikkan namanya di search pencarian. Atau menjadikan namanya sebagai kata kunci pencarian di google.
Jika kalian berminat, kalian bisa menyapanya dengan alamat Facebook Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Hijab Putih), IG pratiwinurzamzani  (Pakai Hijab Putih)  atau melalui E-mailnya pratiwinurzamzani@yahoo.co.id

Salam dan Peluk Hangat
Pratiwi Nur Zamzani

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...