Skip to main content

One More Time

One  More Time
Pratiwi Nur Zamzani


“Pagi...”
“Oiiii, Felly Keyoo!!!,” seru Riska saat Felly masih ada di depan kelas untuk melepas sepatunya. Lalu berjalan ke arah Riska.
“Lagi ngerumpi apaan sih cin, kayak serus banget?”
“Biasa, masalah Ina.”
“Emang kenapa sama Ina?”
“Yah... dia kan sok alim gitu, Fel. Jadi, kita tuh kayak gimana gitu sama dia,” jelas Wanda dengan mengedikkan bahu dan menyipitkan matanya.
“Oh, gitu. Emmmmmh, gue taruk tas di bangku dulu ya? Capek soalnya.”
“Ok. Balik lagi ya ke sini?”
“Iya,iya.”
Felly Anggi Wiraatmaja. Vocallis band Pro Tecno yang lagi tenar di sekolah karena telah menyebet kejuraan Nasional tallent favorit band yang digelar di gedung daerah Jakarta sekitar. Dengan anggota band 4 orang, ia telah berhasil membawa nama band itu untuk pergi ke majalah-majalah remaja sebagai hot news mereka. Di tambah lagi penampilan style mereka yang terkenal dengan kemodisannya. Yah.. walaupun sedikit kehilangan kefeminimannya.
“Felly, selamat ya atas kemenangan band kamu,” sapa Ina dengan menepuk pundakanya.
“Oh, iya. Makasih banyak ya, Na.”
“Iya. Oh ya, kamu satu band dengan Bram kan? Dia tetangga aku. Penampilan kamu cantik Fel. Emmmh udah dulu ya, Fel ada yang harus aku kerjakan soalnya.”
“Oh, iya,” jawab Felly monoton tapi tidak menghilangkan rasa sopannya.
“Fel, liat deh tuh anak. Di ajak pegang tangan untuk bersalaman dengan cowok nggak mau Fel, dia tuh munafik ya?”
“Kemunafikan seseorang itu nggak bisa kalian lihat dari luarnya. Keimutan seseorang itu adalah penilaian dari orang lain. Kalau kalian terus bilang seperti ini, sama aja kalian ini dengan dia yang lagi di incer para cowok-cowok tampan di kelas maupun di luar. Karena, di balik kain hijabnya, dia pasti memiiki suatu kelebihan, bukan sesuatu yang hanya membuat sensasi,” jawabnya spontan.
“Ihhh, Felly ngomongnya kok gitu sih?”
“Yah... kali aja kalian kayak gitu. Lagian itu kan urusannya dia. Toh, dia maunya begitu, kenapa kalian ikut-ikutan. Dia nggak pernah kan ngurusin kalian, kenapa kalian jadi ngurusin dia. Kasih dia kebebasan napa sekali-kali, jangan nggunjing mulu masalah dia.”
“Lu pasti kasian kan sama dia yang nggak ada temennya?”
“Emang dia masalah nggak ada temennya? Dia santai aja tuh. Di luar sana juga pasti banyak temennya tuh anak.”
“Ihhh, Felly nggak asik di ajakin gosip. Kebanyakan gitaran sih, lu!”
“Hehehehe , iya kali ya?”
Setelah kejadian itu, ia teringat dengan sesuatu. Iapun keluar kelas dan duduk termangu di taman sendirian tanpa keraiman teman-temannya seperti biasanya. Yah... namanya memang melunjak sejak SMP karena bakatnya. Tapi, ia tetap kehilangan teman-temannya sama sepeti sejak SMP.
Hanya karena ia memakai hijab, ia di jauhi oleh seluruh teman-temannya sekelas. Felly yang tertutup tidak akan pernah membicarakan masalahnya di depan anak-anak band. Baginya, bekerja adalah bekerja. Bukan untuk tempat menuangkan air mata.
“Felly! Kamu di sini?”, sapa Ina dengan menepuk bahu Felly lembut.
“Eh kamu, Na? By the way dari mana?”
“Aku dari kantor guru, Fel. Untuk mengambil surat persetujuan eskul Qira’at dan Albanjari. Kamu ngapain di sini sendirian?”
“Enggak papa kok. Cuma, pengen kesegaran aja. Pengap di kelas dengan keramaian.”
“Oh, gitu ya?”
“Eh, Na. Gue, boleh nanya sesuatu nggak sama lo?”
“Boleh, nanya aja. Selama aku bisa jawab, ya aku jawab. Hehehehe.”
“Lo kenapa sih, pakek hijab?”
Seketika Ina sedikit kaget dengan pertanyaan itu. Ia terdiam sejenak.  Merasakan tenggorokannya yang tercekat. Sama seperti hatinya.
“Na?”
“Gue tahu kok Fel, ini pasti adalah salah satu pertanyaan anak-anak juga, kan? Hijab adalah hadiah dari seseorang yang pernah gue cintai. Ia pergi setelah memberikan pengertian cinta. Awalnya, gue memakai hijab karenanya. Tak ada kedaiman jiwa yang gue rasakkan. Lahir, maupun batin. Hingga akhirnya, gue mengenakan hijab untuk pertama kalinya dengan membaca Al-Qur’an di tengah hati gue yang sedang kacau dengan olokan temen-teman. Risau, kawut, dan campur aduk waktu itu. Tapi, di saat itu juga gue merasakan kedaiman di sana. Ibaratnya, gue melayang ke surga. Allah menjaga hati gue saat itu juga. Ketenangan, kebahagiaan dan juga kedaiman. Itulah yang gue rasakan saat memakai hijab atas dasar nama Allah. Sekuat apapun mereka mencaci maki gue karena hijab, gue akan tetap bersama hijab ini. Gue nggak mau augerah dari Allah diambil oleh orang sebelum laki-laki pemberi kado hijab ini datang.”
“Jadi, lo pernah?”
“Ya, gue dulu langganan ke diskotek Fel. Gue udah pernah melakukan ciuman dengan lelaki lain karena ia telah bernafsu dengan leher gue. Namun, setelah gue berhijab gue seakan memiliki pelindung untuk diri gue sendiri terhadap hawa nafsu shyahwat dari lawan jenis.”
“Bukankah lo dulu juga berhijab? Kenapa lo lepas? Salahkah ita memakai hijab? Memang, banyak yang bilang kalau hijab itu terkesan jadul. Tapi, apakah kita tidak bisa mengkreasikan hijab dengan anugerah pikiran dari Allah? Selantara status kita adalah sebagai agama Islam.”
“Tapi...,” katanya terputus saat karena Ina menngerti maksud Felly.
“Kamu takut nggak punya teman kan?”
Felly mengangguk pelan.
“Walaupun kita tidak memiliki teman, tapi kita masih memiliki Allah. Zat yang siap sedia bersama kita kapanpun. Siap menjaga kita tanpa harus tidur sama sekali. Zat yang selalu sedia memeluk kita dalam keadaan sedih maupun senang. Dan, Zat yang siap sedia mendengarkan curahan hati kita setiap saat.”
Felly seketika terdiam. Ia seperti tesambar petir mendengar hal itu dari mulut Ina. Tapi, ia merasa hal itu juga ada benarnya. Kenapa kita musti takut akan jauh dari manusia tapi tidak takut jauh dari Allah. Bukankah itu sudah terbalik?
“ Ya Allah, apakah engkau telah mendatangkan Jibril utusanmu melalui Ina? Makhluk yang telah mengingatmu tanpa peduli ocehan makhluk ciptaanmu. Sungguh besar kuasamu Ya Allah. Tak sepantasnya hamba melapas tudung saji hamba karena takut akan syaitan. Ya Allah, bimbinglah hamba untuk kembali ke jalan-Mu jalan yang engkau ridhoi,” gumamnya dalam hati.
Setelah kejadian pagi itu, Felly mulai menutup dirinya sedikit demi sedikit. Mulai dari celana pendek, rok pendek, T-shirt lengan pendek, hingga rambut yang mulai tertutup. Perubahannya, menjadi berita gempar di seluruh sosmed. Tapi, anggota band terus mendukungnya dengan hal itu. Yah... tidak ada kata terlambat bagi manusia selama kita mau berusaha. Karena, Allah maha pengampun. Jadi, jangan pernah takut untuk melakukan langkah yang besar jika memang dibutuhkan.






Biodata Penulis

Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.



Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...