Skip to main content

Posisi Sepihak

Posisi Sepihak
Pratiwi Nur Zamzani



“Bil! Billy!,” panggil Riska saat melihat pandangan Billy berlari entah kemana.
“Hmmmm?,” tanya Billy.
“Lo kenapa? Galau?,” tanya Bram menebak.
“Sotoy lo!,” jawab Billy dengan menghembuskan nafasnya santai.
“Fel! Gue boleh nanya sesuatu nggak?,” tanya Billy membuyarkan konsentrasi Felly yang tengah memetik gitarnya.
“Posisi sepihak itu apa?,” tanya Billy polos saat Felly mulai menatapnya.
“Kenapa lo nanya gue?!,” tanya Felly heran.
“Bram lebih pengalaman masalah cinta kali daripada Felly, Bil!,” ucap Riska mengingatkan.
“Tahu nih! Lo nggak pernah lihat kemampuan gue takhlukin cewek-cewek?,” tanya Bram tak menyangka.
“Bukannya gitu. Lo kan mana tahu artinya jatuh cinta yang sebenernya kek gimana? Maknanya cinta itu gimana? Dan cara menyikapinya itu gimana,” jelas Billy.
“Lo lagi jatuh cinta sama orang?,” tanya Bram.
“Iyalah! Masak sama kucing! Lo ada-ada aja sih?!,” jawab Billy.
“Ya tembak aja kenapa susah? Lo nggak bisa bilangnya? Mau gue bantuin bilang? Atau sekalian gue bantuin pacarannya gimana?,” tawar Bram.
“Tahu lo Bil! Tumben banget lo bego masalah beginian!,” cetus Riska.
“Apa yang lo rasain tentang cewek itu?,” tanya Felly di tengah perdebatan teman-temannya.
Billy terdiam. Ia menghembuskan nafas beratnya saat pertanyaan Felly berhasil menohok pikiran dan juga hatinya. Sebuah rasa yang membingungkan bagi Billy hingga ia tak mampu harus mengatakan apa tentang perasaan itu. Sebuah dilema dalam satu waktu yang bersamaan dan terus mengiringi langkah Billy sampai Billy mengharuskan dirinya menentukan satu keputusan dengan beribu pertanyaan yang berhasil membuat penat otaknya.
“Kalau emang itu cewek berarti untuk lo karena lo merasa dia berbeda dari cinta yang pernah lo temukan sebelumnya atau yang sebelumnya pernah lo rasakan, kejar dia sapai dapet dan lupakan ambisi lo. Karena itu bisa bikin rasa lo ke dia bisa retak. Begitu juga dengan sebaliknya.”
“Tapi gue nggak tahu, Fel. Apakah dia bener-bener cinta sama gue atau gimana? Ucapannya seakan menunjukkan kalau dia bener-bener kangen sama gue. Sikapnya juga begitu. Dan satu lagi, biasanya saat gue tanya apa dia kangen sama gue, dia selalu jawab iya dengan malu-malu Tapi terakhir kali, dia nggak kasih jawaban apapun ke gue!”
“Dan lo mengharapkan itu?,” tanya Riska.
“Itu namanya, dia udah kehilangan rasa yang pernah ia ungkapkan ke lo! Udah nggak usah galau! Cewek masih banyak!,” kata Bram menenangkan.
“Yeeee... lo mah emang begitu! Dasar Play Boy!,” ejek Riska.
“Dia bilang apa ke lo terakhir kalinya?,” tanya Felly.
“Dia nggak mau ada di posisi sepihak. Dan gue nggak ngerti maksudnya apa?,” tanya Billy polos.
“Lo udah pikirin matang-matang nggak maksud dia apa?,” tanya Felly.
“Dia nggak mau gue hubungin lagi!,” jawab Billy.
“Bego! Dia nggak mau hanya dia yang mengungkapkan perasaannya. Dia juga ingin lo ngungkapin perasaan lo ke dia. Dan satu lagi, posisi dia cewek. Kalau dia bilang kayak gitu, wajah. Posisi cewek adalah untk di pilih. Bukan memilih!,” jelas Felly.
“Lo tahu darimana, Fel?,” tanya Bram menyelidik.
Felly terdiam. Ia tak mampu menjawab pertanyaan Bram. Mereka terus menyelidiki Felly dengan berbagai pertanyaan yang terus terlontar secara bergantian. Sampai akhirnya, Felly mengalihkan pembicaraan ke arah yang lain dengan menanyakan hasil karya Billy yang sempat mereka bicarakan.
“Ini semua lo yang ngarang?,” tanya Felly.
“Ya... gitulah! Itu waktu gue suntuk banget. Tapi, syukur ajalah masih nyambung sama otak!,” kata Billy.
“Kok kayak cerita lo! Jangan-jangan lo terinspirasi dari cewek itu, ya?,” tanya Bram.
“Menurut lo?!,” tanya Billy dengan menyesap minuman sodanya.
“Tch! Bagus juga!,” decah Riska.
“Gimana kalau kita coba sekarang?,” tanya Felly.
“Sekarang?!!!,” tanya Riska dan Bram secara bersamaan.
Billy tersenyum. Iapun mengikuti langkah Felly yang sudah beranjak dari tempat duduknya dan memulai intruksi Felly untuk mencoba beberapa babak. Dalam petikan gitarnya, Felly kembali dalam ingatan masa itu setelah apa yang dikatakan oleh Billy. Hal yang dialami Billy, sama persis dengan hal yang dialami olehnya. Posisi sepihak yang akan menjadi posisi tersulit apabila posisi itu ada di pihak wanita.
Dalam sejarah dunia, Kodrat seorang wanita adalah untuk menolak dan dipilih. Berbeda dengan laki-laki yang memiliki kodrat untuk memilih di ditolak. Keduanya memiliki kesempatan yang sama dalam relevansi waktu yang berbeda, peristiwa yang berbeda, atau hanya sekedar alasan yang berbeda.
Saat kata ditolak bertemu dengan kata memilih, kedua belah pihak bisa menentukan untuk mencari sisi lain yang bisa melengkapi dengan meninggalkan satu sisi. Tapi apabila kedua saling mempertahankan kodrat dengan kata menolak dan memilih hingga menjadikan keduanya menunggu keputusan yang tak kunjung berakhir. Maka di sanalah ada posisi sepihak yang akan menjadikan salah satu pihak kesulitan untuk menentukan pilihan dan keputusan.
Apabila posisi sepihak ada di pihak perempuan, ia akan bercermin bahwa kodratnya adalah dipilih dan ia baru bisa menentukan keputusan saat pihak laki-laki memberikan kodratnya untuk memilih dengan menyatakan perasaannya. Begitu juga dengan posisi sepihak yang ada di pihak laki-laki. Ia akan berikir kembali apabila pihak wanita tidak memberikan keputusan, ada dua kemungkinan yang datang. Laki-laki itu akan ditolak atau diterima.
Sebuah definis sederhana. Cinta yang berdasarkan dengan fisikal egois akan menyulitkan kedua pihak untuk saling memahami satu sama lain. Berbeda dengan cinta yang berdasarkan dengan fisikan jujur pada diri sendiri akan menjadikan kedua belah pihak memiliki suatu hubungan yang patut untuk dijaga dan dipertahankan.








Biografi Penulis

P.N.Z adalah nama yang selalu tercantum dalam setiap karya gadis ini. Ia lebih akrab di panggil Pratiwi Nur Zamzani.Terkadang, banyak orang yang memanggilnya nama Felly. Karena, ia selalu menggunakan nama tersebut di setiap karyanya.
Ia lahir dengan kelahiran Pasuruan, 4 Juli 1999. Gadis ini telah menempuh pendidikan Menengah ke atas di SMA NEGERI 1 BANGIL, dan Menengah Pertama di SMP NEGERI 1 BANGIL. Ia memiliki cita-cita sebagai seorang Dosen dan motivator. Ia berharap, dengan tulisan yang ia buat, ia dapat mengisnpirasi dan memotivasi kalian dengan karyanya. Sehingga, karya tersebut dapat bermanfaat dalam kehidupan kalian. Banyak karyanya yang sudah di muat di media masa. Kalian juga bisa melihat karyanya di cerpenmu.com dengan mengetikkan namanya di search pencarian. Atau menjadikan namanya sebagai kata kunci pencarian di google.
Jika kalian berminat, kalian bisa menyapanya dengan alamat Facebook Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Hijab Putih), IG pratiwinurzamzani  (Pakai Hijab Putih)  atau melalui E-mailnya pratiwinurzamzani@yahoo.co.id

Salam dan Peluk Hangat
Pratiwi Nur Zamzani

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...