Skip to main content

Melodiku adalah Bagian dari Cintamu

Melodiku adalah Bagian dari Cintamu
Pratiwi Nur Zamzani


“Felly, nih berkas yang harus lo tanda tanganin buat konser besok sore!” perintah Bram dengan meletakkan map mika berwarna hijau di atas meja serta menghempaskan badannya di sofa studio sekolah.
“Lo dari mana? Kok dapet beginian?”
“Waktu gue mau cari makan sama Billy ke depan sekolah, gue di panggil ke kantor guru buat ngambil ini. Itu surat persetujuan antara band kita dengan pihak penyewa untuk konser besok sore dalam acara HUT kota.”
“Kenapa harus gue yang tanda tangan? Kenapa nggak lo aja? Kan sama aja Bram, orang lo juga anggota band. Oh ya, tadi lo bilang berangkat cari makan sama Billy, sekarang dia kemana?”
“Dia ke mushola, buat sholat sama Riska. Gue ketemu dia saat di depan mushola habis dari kamar mandi katanya. Felly, untuk masalah tanda tangannya, gue nggak bisa Fel. Walaupun gue kadang-kadang ngeselin, tapi gue masih bisa hargai temen gue. Yaitu, lo! Secara kan lo kapten di band kita ini, jadi mendingan lo aja deh yang tanda tangan, anak-anak tadi gue tawarin nggak ada yang mau. Katanya, nggak enak sama lo Fel.”
“Ya ampun, kalian tuh emang... Ah... gue sampek nggak bisa ngomongnya. Ok, gue akan tanda tanganin surat persetujuan ini, biar gue lihat dulu ya Bram.”
“Ok silahkan dibaca deh Fel. Gue mau latihan drum dulu. Soalnya, gue udah sholat duluan dari Billy dan Riska. Jadi, gue balik duluan deh tadi.”
“Ok, lancarin dulu deh, lagu yang gue buat kemarin.”
Brampun memulai bermain drumnya. Mereka adalah salah satu band dengan nama yang marak di kalangan remaja. Bukan hanya karena nama dan juga talentanya saja. Tapi, juga karena penampilan fashionnya yang nggak main-main, semakin memperbanyak penggemar band mereka. Bram adalah seorang drummer yang pernah belajar di New York, sedangkan Billy sebagai pemegang bazz pernah belajar di Perancis.
Namun Felly dan Riska mempelajari musik gitar dan juga piano berdasarkan dengan hati dan juga orang-orang sekitarnya. Riska pernah pergi ke Inggris untuk belajar piano dan juga biola. Tapi tidak menghasilkan banyak. Baginya, musik ada dirinya yang tidak dapat di masuki oleh jati diri orang lain. Sedangkan, Felly sebagai gitaris dan juga vocallis belajar dari Mamanya dan juga kakak sepupu Felly yang sedang menempuh studinya di Korea.
Saat Felly tengah serius membaca surat persetujuan, Billy dan juga Riska datang dengan membawa makanan dan juga minuman.
“Gimana Fel, lo seuju kan dengan konser itu?,” tanya Riska.
“Masih belum gue baca sepenuhnya Ris. Di sini kok nggak di cantumin ya, pihak-pihak yang hadir? Apalagi ini buat acara HUT kota. Aneh! Kalau begini, gue rada kesulitan buat pilih lagu yang bakalan kita bawakan nanti. Kalian tahu kan maksud gue.”
“Santai Fel, gue tahu semuanya kok. Soalnya, tadi gue di kabarin sama temen gue Rendy, dia juga di undang manggung di sana sebagai pemenang ke dua turnamen band favorit tahun ini. Katanya dia, yang hadir itu kalangan TNI, POLRI, Bupati, Gubernur dan juga pemimpin-pemipin setiap daerah sebagai pembukaan. Acara ini untuk umum Felly,” jelas Billy.
“Kalian sanggup?”
 “Sanggup dong Fel, ketemu sama penonton itu seneng tahu. Terutama, sama penggemar. Itu adalah salah satu hal yang membuat gue semangat untuk menciptakan melodi-melodi drum baru dengan lirik lagu yang lo ciptakan”
“Yaudah, gue tandatanganin nih surat kalau kalian setuju semua.”
“Thank you Felly.”
“Seharusnya, gue yang makasih sama kalian. Gue udah sering nyiksa kalian dengan menunda jam makan kalian. Tapi, kalian masih menghargai posisi gue apa?! Makasih ya guys.”
“Gimana kalau berangkat sekarang?,” tanya Bram.
“Boleh tuh, sekalian kita persiapan di sana,” jawab Billy.
“Yaudah, cap cuzz everybody,” kata Riska.
Lokasi alun-alun kota yang sudah mulai penuh dengan pengunjung serta kursi dan juga panggung yang telah disiapakan membuat gairah untuk mereka menaiki panggung. Dan, siap menghibur penonton dengan bakat yang mereka miliki.
“Hai Bil, baru nyampek?”
“Eh, elo Ren? Iya nih, lo juga baru nyampek?”
“Enggak sih, gue udah dari tadi. Soalnya, gue berangkat sama temen TNI bukan sama anggota band. Tapi, ini juga lagi nungguin mereka Bil.”
“Oh, gitu ya...”
“Iya. Eh lo Felly kan?”
“Iya, lo masih inget aja sama gue Ren?”
“Iya dong, masak sama temen sendiri nggak inget? Kalau boleh tahu, kalian cuma berdua ke sini? Yang laen pada kemana?”
“Riska sama Billy masih markir motor, bentar lagi mereka juga bakalan ke sini kok.”
“Oh, gimana kalau kita duduk di sebalah sana sambil nunggu mereka. Itu adalah kursi untuk kita.”
“Lo tahu dari mana Ren?”
“Dari temen gue Arka. Dia adalah TNI dari barisan Perwira.”
“Pengumuman bagi seluru hadirin yang bersangkutan dengan objek undangan di harapkan untuk bersiap-siap melakukan gladi bersih dalam rangka acara HUT kota. Karena, Bupati dan juga Gubernur telah datang. Hadirin di mohon untuk menyiapkan diri,” pengumuman yang terdengar dari sound system yang ada di sekitar lokasi.
Beberapa menit setelah apel, semua pemimpin regu dipanggil ke depan untuk memastikan apakah regunya telah lengkap atau belum kecuali objek utama. Setelah semua objek yang di panggil maju ke depan, mereka di persilahkan untuk kembali ke tempat masing-masing.
“Felly, kita mendapat urutan kedua untuk manggung.”
Felly hanya terdiam dengan tatapan seakan ia mengingat sesuatu.
“Felly, lo nggak papa kan?”
Felly masih terdiam.
“Riska, ini anak nggak papa kan? Kenapa tiba-tiba diem begini? Apa jangan-jangan..”
“Jangan-jangan apaan Bram?”
“Gue takut ini anak kemasukan jin jahat Ris.”
“Ah lu bisa aja, udah deh jangan ngomong gitu! Kalau beneran gimana? Udah ah, jangan bikin gue takut!”
“Kalian kenapa ribut begini? Dapet arisan?,” tanya Billy dari kursi ujung.
“Felly tuh, gue tanya diem aja! Jadi takut gue.”
“Hahahahaha, sejak kapan lo takut sama cewek dodol? Biasanya lo juga suka godain Felly!”
“Tapi ini serius Bil, gue takut!”
“Untuk pembukan, gue akan nyanyi sendiri!,” kata Felly dengan tegas.
“Loh,loh kenapa jadi ngerubah planning begini? Bukannya...,” kata bram terputus saat Felly memutusnya.
“Lo diem aja Bram! Jangan ragukan gue kalau hal yang gue lakukan ini bisa merusak acara. Gue yakin bisa sendiri!”
“Ta...,” kata Bram yang di cegah oleh Billy.
“Udah Bram, lo bolehin aja deh, ngerti dikit kenapa sih? Yaudah Fel, lo pergi sono! Habis itu gue akan masuk.”
“Kalian boleh masuk saat gue kasih kode melodi gitar terapan rock modern.”
“Wokkeh, gue ngerti maksud lo! Keren Fel, kita pertama kalinya kan ngelakuin hal ini. Wow, amazing kapten!,” sahut Bram semangat dengan kedua jempolnya.
Saat Felly telah memulai aksinya, ia menyanyikan lagu melow dengan rock terapan modern memuat seluruh penonton terpukau akan kehebatannya. Terutama saat anggota band yang lain naik ke atas panggung dan beraksi dengan gaya mereka sendiri menambah sensasi wow bagi band mereka.
Beberapa lagu telah Felly nyanyikan bersama teman-temannya. Tentunya dengan lagu ciptaan mereka sendiri. Merekapun turun dari panggung. Felly seakan enggan untuk melangkahkan kakinya saat ia telah melihat seseorang yang pernah ia kenal. Badannya yang membeku, hatinya yang keras seperti batu, serta sorotan matanya yang menunjukkan deguban jantungnya berdetak sangat keras.
“Hai Felly, apa kabar? Oh ya, makasih ya atas lirik lagu yang kamu nyanyikan tadi!,” sapa seorang lelaki dengan pakaian TNI-AD.
Felly hanya terdiam membisu. Sedangkan, Bram, Riska, dan anggota band Rendy betanya-tanya siapa dia.
“Bentar-bentar Ka, gue kayaknya pernah tahu lirik itu sebelumnya,” sahut Rendy.
“Memang Ren, itu adalah tulisan yang ada di buku diary gue yang pernah lo baca saat gue mandi.”
“Jadi maksud lo...,”
“Iya, foto-foto yang ada di buku diary itu udah gue simpan terlebih dahulu sebelum lo mengetahuinya Ren. Sehingga, lo nggak tahu siapa cewek di balik diary itu. Sorry ya. Hehehe.”
“Oh ya Fel, Happy Birthday untuk hari ini.”
 “Oh,emmmmmh, hhhhhhssssshhh,tch, iii,iiiya,” jawabnya dengan terbata-bata dan sedikit berat.
“Felly, ikut gue yuk! Ada yang pengen gue kasih tahu ke lo!,” ajak Arka dengan menarik tangan Felly untuk meninggalkan teman-temannya.
“Siapa sih dia?,” tanya Bram dengan selidik.
“Dia adalah mantan kekasih Felly yang pertama, dalam arti dia adalah cinta pertamanya Felly,” jawab Billy.
“Lo tahu Bil siapa dia? Kenapa nggak bilang sama gue?”
“Penting bilang sama lo? Biasaya lo duluan yang up-date, kenapa sekarang jadi lo yang kudet?”
“Giliran orang nanya malah di ledekin! Tahu ah! Riska lo tahu tentang ini?”
“Enggak.”
“Jadi, itu alasan Arka pergi ke Lebanon?,” gerutu Rendy.
“Sedangkan Felly terus menerus menghabiskan waktunya untuk menciptakan lirik lagu,” lanjut Billy.
“Termasuk, alasan Felly menutup hatinya untuk orang lain?” cerocos Bram.
“Bentar-bentar  guys, Felly pernah bilang kalau dia mencintai seseorang. Dan, dia tidak bisa melupakan orang itu hingga ia seakan ingin membunuh dirinya sendiri dengan gitar dan buku lagunya untuk melupakan cowok itu. Kayaknya, yang di maksud Felly itu dia deh. Kira-kira mereka putus kenapa ya?,” tanya Riska.
“Mereka putus karena sebuah karir. Arka meningalkan Felly demi kairnya untuk pergi ke Lebanon mengejar jabatannya. Sedangkan Felly berusaha melupakannya dengan melampiaskan rasa marah dan cintanya kepada lelaki lain. Hingga saatnya, ia telah lelah akan hal itu. Karena, hanya dapat mengingatkan akan kenangan bersama Arka. Di sanalah semua lirik lagu yang diciptakan oleh Felly adalah atas dasar Arka. Pernah dia berkata, cintanya kepada Arka ibarat air, saat ia ingin menghabiskan cintanya, semakin banyak cinta itu menguyur hatinya, saat ia membelokkan arah cinta, maka ia akan kembali ke satu titik dimana ia mengingat Arka.”
“Gila, di sisi lain mereka putus. Hubungan silaturrami mereka masih terjalin rapi. Nggak ada kata musuhan di dalam sana. Damai dan tentram.”
“Itulah pelajaran yang bisa kita ambil. Setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Saat ada kepercayaan selalu ada pengkhianatan. Ketika ada cinta pasti ada sakit. Semua itu tergantung pada kita bagaimana cara megatasinya. Termasuk memanfaatkan waktu untuk hal yang positif dengan pelajaran dari sebuah peristiwa. Dan yakinlah, setiap peristiwa selalu ada hikmahnya,” kata Billy dengan senyuman di sudut bibirnya.
Setelah kejadian itu, semua anggota band yang meyaksikan sadar. Bahwa, perpisahan bukanlah hal yang harus mengisi hati dengan dendam. Sehingga, kita harus bermusuhan dengan orang itu. Melainkan, cara untuk kita mencari bagaimana solusi agar hal tersebut dapat mempererat hubungan sesama manusia walau di selipi dengan secerca kepahitan masa lalu. Menjadi manusia yang lebih baik tidaklah mudah. Namun, asalkan kita mau bersungguh-sunggu dalam usaha, semuanya tidak akan sia-sia walaupun rintangan datang untuk menghalangi niat baik yang sudah tertanam di dalam hati.

Biodata Penulis
     
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.





Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...