Thank You For Knife
Pratiwi Nur Zamzani
“Lo udah packing belom, Fel buat kemping besok?,” tanya Selly saat mereka membereskan buku-buku dan alat-alat tulis dari meja mereka.
“Udah kok. Lo sendiri gimana?,” tanya Felly tanpa menatap wajah Selly yang telah menunggunya menyelesaikan pekerjaannya.
Yah.. seperti yang mereka lihat. Mereka adalah teman atu kelas. Sekaligus satu kamar dalam asrama itu. Felly Anggi Wiraatmaja. Pemain gitar remaja dengan rating nama yang begitu tenar. Namanya, telah muncul di berbagai media cetak. Selain itu, nama gitaris yang ada mengganda menjadi model. Mengingat, fisik Felly yang begitu memukau.
“Felly ajak Riska!”
Fellypun tersenyum kepada rekan bandnnya itu. Riska berjalan menghampiri Felly yang siap untuk pergi ke kantin. Sela di situ, Selly terdiam memandang Felly yang tidak sama seperti biasanya.
Bagaimana tidak? Sedingin apapun Felly ia akan tetap menyapa temannya meski hanya itu sapaan hallo taupun yang lainnya. Namun, semua itu hilang hari ini. Dari pagi hingga siang, Felly tidak berkata sama sekali. Itupun ia hanya menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan oleh Selly dan menjawab ala kadarnya dia.
Dengan kasar, Selly menarik tangan kiri Felly yang tergelantung bebas.
“Gue pengen bicara sama lo!”
Felly hanya terdiam dengan wajah yang datar. Ia kembali melangkahkan kakinya bersama dengan Riska ke arah kantin. Apabila diurur dengan langkah kaki, hanya kurang beberapa langkah kaki saja.
“Felly!!! Gue bilang berhenti!,” seru Selly.
Felly berhenti sejenak. Akan tetapi, ia tidak membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Selly. Dengan begitu, Selly terus mengejar Felly yang masih keras kepala dengan langkah kakinya.
“Felly! Maksud lo apaan sih, hah?!,” tanya Selly dengan nada yang mulai meninggi.
Felly hanya menjawab dengan tatapan mata dan juga wajah yang datar.
“Kalian kenapa?,” tanya Riska polos.
Felly dan Selly tidak menjawab pertanyaan Riska. Mereka saling beratatapan dengan bertolak belakang. Felly menatapnya dengan datar. Namun Selly, menatap Felly dengan tatapan yang penuh amarah.
“Lo yang melakukan ini, kan?!,” tanya Selly dengan nada yang penuh keyakinan.
Felly menatap kertas yang tertempel pada USB yang ada di tangan Selly. Kemudian, Felly tersenyum simpul. Sejenak, Felly melihat kondisi sekeliling kanting. Semua orang memperhatikan mereka. Tapi, Felly justru menikmati perhatian itu. Mengingat, ia sudah lama tidak menikmatik perhatian banyak orang meski setiap hari ia merasakan hal itu.
“Baguslah kalau kau sadar,” jawab Felly santai dengan membalikkan tubuhnya.
“Apa maksud lo, Fel?”
“Seharusnya, gue yang menanyakan itu sama lo. Kenapa lo melakukan hal ini?!,” tanya Felly dengan mengeluarkan pick gitar milikinya dari saku seragamnya.
“Gue nggak ngerti maksud lo apa?!”
“Gue akan memperjelas sekarang!,” jawabnya santai dengan nada yang tetap mengintimidasi. Felly mengambil ponselnya dari saku roknya. Kemudian, terbukalah pintu kelas yang ada tepat di depan kantin.
Felly menunjuk ke arah projector kelas itu. Seakan, penghuni kelas adalah bawahannya. Padahal, kelas itu adalah berkepala rekan bandnnya sendiri. Bram. Dialah orang yang mau membantu Felly untuk menunjukkan segalanya yang ia tahu dalam diamnya selama ini.
Tak lama kemudian, terputarlah rekaman CCTV yang menunjukkan peristiwa mengejutkan bagi semua orang yang melihatnya. Termasuk, Riska. Ia tidak menyangka dengan tindakan Felly. Riska menyangka, nama singa liar itu hanyalah julukan. Tetapi, tidak saat Riska telah melihat aksi Felly yang begitu nekat.
“Apakah semua itu belum cukup?,” tanya Felly dalam kesunyian kantin.
Selly hanya terdiam dengan mata yang berkaca-kaca.
“Kenapa kau diam?,” lanjut Felly dengan melangkahkan kakinya untuk duduk di salah satu bangku yang dekat dengan sisi Selly berdiri.
“Kenapa lo lakuin semua ini sama sahabat lo sendiri, Fel?!”
“Apa?! sahabat?! Lo bilang apa?! Tch! Masihkah kau tidak merasa bersalah dengan apa yang lo lakuin? Apakah gue masih belum bisa memberitahu bagaimana caranya untuk menghilangkan kemunafikan?! Gue akan kasih tahu caranya jika lo membutuhkan!,” jawab Felly dengan meninggalkan kantin itu.
Namun, langkahnya terhenti saat Selly menarik lengannya kasar. Kemudian, mengangkat salah satu telapak tangannya yang sedari tadi telah mengepal. Siap untuk melemparkan tangannya untuk menampar Felly yang tidak berwajah dosa setelah melakukan hal itu kepada Selly.
Akan tetapi, tamparan itu terhenti saat Felly mencegahnya dengan buku yang ia bawa sebelum ia sampai di kantin tersebut. Kemudian, ia membuka menghindarkan bukunya dari sisi pipinya untuk menampakkan wajahnya. Tentunya, dengan senyum simpulnya yang manis. Manis dengan sorotan mata yang begitu tajam. Tidak ketinggalan, dengan wajah yang begitu datar dan dingin. Sama seperti aura yang keluar dari dalam dirinya.
“Apa ini yang lo mau?!,” tanya Felly dengan menggertakkan ujung giginya dan merobek buku yang dibawa olehnya.
“Felly, kenapa kamu merobek semua karangan lagu kita?!,” tanya Riska kawatir. Mengingat, kurang satu minggu lagi mereka akan tampil di panggung regional band terbaik tingkat nasional. Dan, lagu tersebut berada di dalamnya.
“Percuma kita memakainya. Karena, kita akan dipermalukan di depan para juri dan juga seantero dunia. Apakah kau mau mendapatkan nama sebagai plagiat? Atau sebagai band plagiasi? Apakah kau ingat urutan nomor kita lebih dulu siapa antara Pro Techno dengan WRW band? Apakah kau sebodoh itu untuk menciptakan satu lagu yang baru? Apakah kau menghemat waktumu untuk bekerja sedikit saja? Toh, kalau kau sukses bukan orang lain yang senang. Tapi, dirimu sendiri kan?!” jawab Felly tanpa menatap Riska.
“Felly! Apakah mungkin...”
“Yah... WRW akan menggunakan lagu kita sebagi kolaborasi dengan miliknya! Dan, syukurlah aku tidak terluka dengan tusukan pisaunya! Karena, aku telah memiliki pedang untuk melindungi diriku!”
“Felly!,” bentak Selly kesal.
“Kenapa? Apakah semuanya terasa menyakitkan?! Aku sudah bilang padamu sebelumnya dengan diamku. Jangan mengikutiku ke kantin ini. Tapi, kau tidak pernah mengerti dengan kediamanku selama ini! Apakah kau masih menganggap diriku sebagai sahabatmu setelah kau memberikanku filosofi tentang bunga mawar merah?”
Selly hanya terdiam.
“Ah ya, mawar merah adalah bunga yang berduri. Tapi, duri itu akan tidak terasa sakit saat kita tidak menyentuhnya! Itu kan yang kau wariskan di antara kita berdua?! Selly, aku benarkan dalam filosofi itu. Mawar merah akan membuatu hancur. Lebih baik, kamu mendapatkan mawar hitam yang berisi dengan kejujuran. Bukankah kejujuran itu membuat hidup kita tenang?!,” lanjut Felly dengan meninggalkan kantin.
Tapi, langkah kakinya terhenti saat Felly mengingat sesuatu.
“Dan ingatlah satu hal. Game ini masih belum selesai. Karena aku, belum mengakhirinya,” lanjut Felly dengan membalikkan badannya dan meninggalkan kantin yang masih ramai dengan orang yang memperhatikan.
Bahkan, sebagian dari mereka banyak yang merekam untuk disebarkan di media sosial, ataupun dijual kepada para wartawan. Mengingat, Felly adalah aktris sekolah yang tengah melejit namanya dalam kurun beberapa waktu setelah ia mengeluarkan single lagunya sendiri. Di bantu dengan perangkat rekan band yang sebagian memiliki wajah tampan dan sering digunakan sebagai model dalam kerjasama putus dengan beberapa distro di kota itu.
“Felly! Apakah kamu tidak keterlaluan dengan menghancurkan Selly seperti itu?!,” tanya Riska dengan nafas terengah karena mengejar langkah Felly yang begitu cepat.
“Bukankah dirimu yang mengajari aku tentang kebenaran?”
Riska hanya terdiam dengan ucapan Felly barusan. Ia hanya bisa membeku dalam situasi yang seperti itu. Begitu juga dengan Billy yang memperhatikan tingkah Felly dari kejauhan. Hanya Bram dan Felly saja yang tenang dengan aksinya. Maklumlah, mereka telah mengetahui semuanya sebelum Riska dan Billy mengetahuinya.
Sebagai anggota baru dalam Pro Techno, Riska tidak bisa menyangka dengan watak kedua temannya. Mereka berdua seperti monster. Di studio, mereka begitu lembut. Terutama Felly. Tapi, setelah ia mengetahui semuanya ia bergidik ngeri.
“Itulah Felly! Dia tidak akan mengaum selama kau tidak membangunkannya tidur,” sapa Billy.
“Bram...,”
“Watak mereka memang hampir sama. Namun, lebih keras Bram dari luar. Tapi sebenarnya, Fellylah yang memiliki kekerasan watak tingkat paling tinggi antara kita bertiga. Namun, semua itu tidak berlaku selama kita bisa menjaga diri kita masing-masing,” ucapnya memutus perkataan Riska saat billy telah mengetahui maksudnya.
“Felly! Singa Liar! Barbie! Tidak salah jika itu panggilannya,” gumam Riska saat Billy telah melangkah pergi dan mulai menjauh dari tatapan matanya.
“Apa bener Bram sama Felly jadian? Masak sih? Tapi, mereka terlihat begitu kompak!,” gumam salah seorang siswa saat Riska masih berdiri termangu tak percaya.
Sejenak Riska memikirkan kata-kata yang diutarakan oleh Billy.”menjaga diri kita masing-masing”. Yah itulah katanya. Apakah mungkin, Felly menerima semua orang dengan sikapnya yang begitu dingin? Begitu menyeramkan. Tapi itulah nyaatanya.
Apabila ditelaah kembali, persahabatan akan tetap terjaga dengan baik saat di sertai dengan kejujuran dan kepercayaan. Sama halnya dengan cinta. Persahabatan adalah salah satu wujud dari cinta. Tapi, semuanya akan terlihat gelap dan hangus seperti mawar hitam saat kepercayaan itu telah hilang.
Bagaimana tidak? Kepercayaan ibarat sebuah kertas. Apabila kertas tersebut telah diremas. Maka, kepercayaan itu tidak akan pernah kembali seperti semula. Begitu juga dengan kejujuran. Saat kita ada di dalam posisi kebohongan, kita akan merasa takut untuk melakukan suatu hal yang mengangkut kebohongan itu dan sebaliknya.
Biodata Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani, IG @pratiwinurzamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.
Comments
Post a Comment