Skip to main content

Post-it

Post-it
Pratiwi Nur Zamzani


‘Pratiwi, I miss you! I hope, you come back to me!’
“Billy! Lo yang naruk beginian kan di jok depan motor gue?!,” tuduh Felly saat mereka tengah bergurau dengan menuju ke arah parkiran motor.
“Apaan?,” tanya Billy saat ia telah berhenti berguarau dengan Bram dan Riska.
“Nih!,” ucap Felly dengan menyerahkan kertas kecil yang tertempel di jok depan motor Felly.
“Apaan?! Emang gue kurang kerjaan apa pakek beginian?! Lagian, ngapain juga gue rindu sama lo?! Orang tiap hari ketemu juga. Bukannya rindu, enek yang iya, Fel!,” ucap Billy dengan bibir yang manyun.
“Dari fans kali, Fel!,” kata Bram.
“Atau, bisa juga orang yang godain loh.. yah.. iseng gitu lah..” ucap Riska.
Felly hanya terdia dan terus memandangi post-it itu. Kemudian, meremasnya dan memutar kepalanya untuk melihat sekeliling. Namun, tidak ada seorangpun yang ia lihat kecuali rekan bandnya.
“Udah lah, Fel. Jangan terlalu lo pikirin! Ingat sama kompetisi!,” ucap Bram mengingatkan.
Fellypun mengangguk dengan memasukkan post-it itu ke dalam sakunya. Kemudian, meeka berpisah saat ada di depan gerbang. Selama perjalanan pulang, Felly masih berpikir tentang surat enonim itu. Ia mencoba untuk menerka siapa pengirimnya melalui kata-kata dan tulisannya.
Mengingat, Felly Anggi Wiraatmaja adalah gadis yang famous di kalangan sekolahnya dan juga luar sekolah. Selain seorang gitaris, dia juga seorang model dari beberapa distri terkenal di kota itu. Tentunya, ia memiliki fans yang begitu banyak. Namun, surat dari fans biasanya bukan sepribadi ini. Seakan, semua itu adalah kunci dari subuah jawaban. Karena lamanya ia memandang tulisan itu, tanpa terasa ia telah tertidur. Yah.. karena lelahnya ia latihan hingga hampir malam dan masih harus belajar serta mengerjakan PR. Maklum saja, jika ia tertidur tanpa posisi yang sempurna.
“Semalam, habis bergadang lagi Fel?,” tanya Bram saat melihat kantung mata Felly yang terlihat begitu jelas.
“Yah...begitulah.”
“Eh Fel, lo jaga dong kesetan lo! Kalau saat hari puncak kompetisi sakit, kita juga yang bakalan kesusahan!,” lanjut Billy.
“Iya-iya. Gue janji deh, nggak bakalan gadang lagi dalam waktu dekat-dekat gini.”
“Bah... gitu dong!,” ucap Riska dengan mengacungkan kedua jempolnya.
Kemudian, merekapun bergurau bersama sambil menunggu jam pertama di mulai. Akan tetapi, semua itu tidak terjadi. Karena, gur jam pertama harus izin untuk mengikuti penataran. Sehingga, hanya meninggalkan tugas yang harus dikumpulkan di mejanya hari itu juga.
Dengan cepat, mereka mengerjakan tugas tersebut. Kemudian, mereka berencana untk latihan lebih pagi. Dibandingkan harus menggunakan waktu free mata pelajaran dengan bergura di dalam kelas.
“Eh ada yang lupa. Gue lupa kalau bukunya asih ada di jok motor belakang. Gue ambil dulu, ya. Kalian, duluan aja!,” ucap Felly dengan senyuman ramahnya.
“Ok. Kita tunggu di studio ya, Fel!,” ucap Riska dengan meninggalkan Felly dalam lambaian tangannya.
Fellypun berjalan ke arah parkiran motor. Lagi-lagi perhatiannya terpusat pada post it yang ada di jok depan. ‘Aku harap, kau juga mengerti’. Felly mengerutkan keningnya. Ia merasa bahwa ada orang yang sedang memperainkannya.
Tapi, siapa? Itulah yang menjadi pertanyaan Felly. Berulang kali ia menemukan post-it itu tertempel di jok depan. Tanpa ada nama pengirimnya. Layaknya hantu. Padahal, ia sudah memarkirkan motornya selalu berpindah tempat setelah adanya surat-surat yang tak berguna itu. Tetapi, tetap saja ada surat itu. Seakan, pengirimnya telah mengetahui segalanya tentang Felly.
Dengan cepat, Felly menghiraukan surat itu setelah mengingat ocehan Billy apabila ia datang terlambat. Segeralah Felly menuju ke jok belakang. Kemudian, mengambil buku lagunya dan berjalan ke arah studio.
“Kok lama, Fel?!,” tanya Billy menyelidik.
“Iya. Tadi, ada yang sedikit mengganggu gue. Maaf, ya guys.”
“Surat anonim lagi?,” tanya Bram memastikan.
Felly mengangguk. Kemudian duduk di samping Riska yang masih sibuk menghafalkan not lagu yang akan mereka ikutkan kompetisi bersama-sama. Kemudian, diikuti oleh Bram dan Bily yang saling menyatukan suara dengan not angka yang ada di dalam buku.
Di tengah-tengah mereka latihan, ponsel Felly berbunyi. Sehingga, seluruh mata terpusat pada ponsel Felly yang terasa menggangguu. Dengan hormat, Felly meminta maaf kepada anggota bandnnya untuk mengangkat telpon. Dan mereka semua mengizinkan Felly.
Fellypun melangkahkan kakinya keluar. Nomor tidak di kenal! Dengan cepat, Felly memencet tombol hijau. Akan tetapi, refleks telpon itu dimatikan. Fellypun kesal. Sehingga, ia kembali menelpon ke nomor itu. Namun, tidak ada jawaban. Nomornya seketika tidak aktif.
“Sial!,” gumam Felly dalam kesal.
Felly terus menggerutu kesal. Namun, semua gerutunya terhenti saat ia menangkap bayangan seseorang yang berjalan dengan mengendap-endap. Felly bersembunyi di balik pintu. Dan hal itu membuat Bram, Billy dan Riska bertanya. Akan tetapi, Felly memberikan isyarat agar mereka merendahkan suaranya.
Karena penasaran, mereka ikut mengintip keluar. Refleks, Felly bergerak kaluar saat ia melihat orang itu menyentuh-nyentuh motornya, kemudian melihat ke arah sekitarnya. Memastikan semuanya aman. Akan tetapi, Bram melarangnya dan memberitahu Felly untuk memantaunya dari kejauhan. Fellypun menurut.
Dan benar saja, ia tidak mengambil atau memindahkan motor Felly. Namun, menempelkan sesuatu. Dengan cepat, Bram keluar dari tempat persembunyiannya. Menghadang pelaku dengan tangan yang siap tonjok. Tapi, tangan itu terhenti seketika saat Bram membelalakkan matanya. Bagaimana tidak? Bram mengenal betul siapa orang itu. Sahabatnya sendiri.
“Lo ngapain kayak maling gini, sih?!!!,” tanya Bram heran sekaligus bercampur amarah.
“Arka!,” panggil Felly saat ia mengetahui pelakunya.
“Kalian kenal sama dia?,” tanya Riska polos.
“Bram! Dia, yang pernah main basket bareng kita kan? Waktu, di lapangan kompleks rumah lo!”
“Yah! Dia sahabat gue!,” jawab Bram ragu.
“Maaf,” gumam Arka lirih dengan menunduk dan mengalihkan pandangannya.
Felly hanya terdiam. Memberikan isyarat kepada teman-temannya untuk meninggalkan mereka berdua. Bram sempat menolak. Akan tetapi, Bram bisa mengerti saat Billy terus menariknya untuk meninggalkan mereka.
“Apa maksud semua ini?,” tanya Felly dingin saat Bram dan yang lain telah meninggalkan mereka.
“Aku hanya tidak ingin pergi dengan kondisi seperti ini.”
“Kondisi apa, Arka? Bukankah semuanya sudah jelas?”
“Kau memang pantas berbicara seperti itu. Tapi, aku akan memberikan satu jawaban yang kau minta saat terakhir aku bisa bersamamu. Tujuh tahun yang lalu.”
“Tch! Jawaban apa lagi yang akan kau berikan? Apakah kau tidak puas melihat aku yang seperti ini?! Apa masih belum puas kau telah menyakitiku, hah?! Dan sekarang, kau akan memberikan penjelasan padaku saat aku sudah tidak membutuhkannya?! Lantas,  kemana saja kau selama ini?!!!!,” tanya Felly dengan suara yang mulai meninggi dan parau.
“Kau boleh mencaci maki diriku. Hanya satu yang ingin kuberitahu padamu mengapa aku meninggalkanmu waktu itu. Aku hanya... hanya...,” Arka menarik nafasnya dalam-dalam.
“Aku hanya ingin kau bahagia denganku bukan dengan kondisiku yang seperti itu. Penyakitan. Aku hanya ingin kau mendapatkan kesempurnaanku, Felly. Bukan asmaku.”
“Apa kau bilang?,” tanya Felly dengan air mata yang mulai turun deras dan berjalan terseret mendekati Arka yang tengah berdiri mematung di tengah dingginnya senja sore.
“Aku merasa gila saat aku melihatmu kembali di satu tempat yang sama. Aku merasakan kepedihan rindu yang selalu aku pendam setiap saat. Setiap malam, aku selalu ingin mendengar suaramu yang selalu menyapaku meski itu hanya melalui via ponsel. Tapi, semua itu begitu berarti bagiku. Aku merasa benar-benar kehilanganmu. Aku juga merasa begitu takut saat aku harus bertatapan denganmu. Meski aku tahu, kau pantas mencampakkan aku. Karena bagiku, itu memang telah menjadi hukuman yang pantas bagiku. Namun, satu hal yang aku inginkan di dalam hatimu. Kau boleh membenciku, tapi jangan menghilangkan ingatanmu tentang cinta yang pernah kita rajut bersama. Aku siap kau meninggalkanku karena aku telah memberitahu apa yang ingin aku utarakan. Tapi setidaknya....,” capan Arka terhenti seketika saat pelukan mendarat begitu saja.
Yah.. Felly memeluk Arka di tengah deru tangisnya. Ia tak pernah menyangka bahwa Arka yang terlihat begitu kokoh dan kuat ternyata rapuh. Sangat rapuh. Felly merasa bersalah akan semua rasa dan kebenciannya. Tak seharusnnya ia menerima semua jawaban putus dari Arka secara mentah-mentah. Setidaknya, Felly bisa menelaah lebih dalam dan mencari alasan tersebut.
“Aku membencimu...,” ucap Felly lirih di samping kiri telingan Arka.
“Kau...,” ucapan Arka terputus saat Felly sengaja memutusnya.
“Kau boleh mencintaiku kembali. Jangan pernah pergi sebelum aku menyuruhmu pergi. Kau hanya boleh pergi ke dalam tempat yang aku inginkan! Pergilah ke tempat asalmu. Hatiku! Tempat dimana kau pernah mengisi ruangan itu!”
“Felly, aku tidak ingin kau terpaksa dengan perasaan itu. Aku tidak ingin belas kasihan dirimu! Aku memang laki-laki lemah. Karena, jika aku kuat. Pasti aku tidak akan pernah memberitahumu tentang penyakit sialan ini,” ucapnya dengan senyuman kecut.
“Dan itu sama saja kau sengaja membuatku membencimu tanpa alasan. Kembalilah! Karena aku hanya ingin kau!,” ucap Felly setelah melepas pelukannya dan menatap mara Arka.
Tanpa sepatah kata, Arka merengkuh leher Felly dan meletakkannya di dekapan dadanya. Mengecup keningnya dengan lembut. Begitu pula Felly yang membalas pelukan itu. Pelukan hangat yang telah hilang tujuh tahun silam dan kembali dengan selembar post-it.



Biodata Penulis

Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.


Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...