Skip to main content

Ku Percayakan Pada Udara

Ku Percayakan Pada Udara
Pratiwi Nur Zamzani


“Felly!,” seru seseorang yang tidak asing lagi bagi Felly. Yang tengah berlari menuju Felly dengan nafas yang terengah-rengah.
“Bram!”
“Hufffttt, lu tuh ya, kocek banget jadi cewek. Cantik-cantik kocek!”
“Hahahaha, maaf. Mungkin, suara lu kali yang terlalu kecil.”
“Lu pikir, gue banci apa?”
“Hahahaha, ya maaf kali, Bram. Kalau boleh tahu, ada apaan lu sampai ngejar gue begitu?”
“Nih, pesenan lu kemarin. Habis, lu keburu pulang. Mau nganter ke rumah lu, males gue. Capek! Udah ye, gue mau ke kelas dulu. Ada test di jam pertama soalnya. Mepet juga waktunya kalau gue harus di sini nemenin lu baca materi. Apalagi, gue harus naik tangga. Bye Fel,” jawab Bram dengan berlalu meninggalkan Felly. Masih dengan nafas yang terengah.
Yah... itulah Felly Anggi Wiraatmaja. Gadis remaja dengan tallent vocal yang berkualitas. Ia adalah salah satu Vocallis di dalam band ‘Pro Techno’. Salah satu personilnya adalah Bram. Dia adalah pemegang drummer di band itu. Untuk pianis telah di ambil alih oleh Riska, sedangkan bazz telah dipegang oleh Billy. Gitaris? Itulah kelebihan lain yang dimiliki Felly.
“Lirik lagu? Tch, tuh anak bisa aja ternyata diandalkan untuk nanti,” gumamnya dengan senyum rendah cengil milik Felly.
Setelah itu, ia berjalan dengan membawa map yang talah diberikan kepadanya oleh Bram. Kumpulan lirik lagu khusus drummer milik Bram. Yah... patutnya prajurit pada kaptennya. Itulah didikan Felly. Perjalanan penuh liku dilaluinya bersama teman-teman sejawatnya. Walaupun, mereka berbeda kelas. Tetapi, jangkauan komunikasi dan informasi sangatlah luas. Sehingga, kemungkinan kecil untuk anak buahnya kabur dari tugasnya.
“Pa....,” matanya membelalak saat ia melihat seluruh penghuni kelas meloncat dan berteriak gembira. Seketika, ia menghampiri salah satu teman sekelasnya.
“Ada apaan sih? Bahagia banget?”
Temannya tidak menjawab pertanyaannya, melainkan memeluknya dengan erat.
“Lah, kenapa jadi begini?”
“Felly, ini semua karena lo. Siap-siap ya untuk tampil hari ini. Tunjukkan kalau kelas kita adalah kelas yang mampu. Nama band lo lolos ke tingkat nasional. Jadi, seharian kita bakalan free. Sekaligus penyambutan guru baru yang datang dari Jepang. Jadi, sensei memilih untuk lo yang membawakan lagu. Kalau bisa, dengan aransement lo sendiri katanya. Maklum lah, seminggu lalu rasanya penat banget dengan fullnya tugas-tugas sekolah. So, akhirnya kita semua bisa free.”
“Oh...,” katanya santai.
“Yaudah, pergi sono ke studio. Kita mau nyiapin yang laen di aula. Karena, kelas kita terpilih menjadi kelas terbaik setelah kita mendpat label kelas terendah dari yang lainnya.”
“Ok,” kata Felly dengan berjalan keluar kelas meninggalkan yang lainnya.
Kakinya terus menyusuri jalan menuju studio musik. Namun, saat ia merasakan udara dengan aroma khas yang ia kenal, Felly berhenti seketika. Yah.. menghirup aroma maskulin segar dari seseorang yang telah berjalan berlawanan arah dengannya.
Jantungnya seketika terasa berhenti, hatinya terasa membeku, kakinya terasa lemas, dadanya terasa begitu sesak dan tenggorokannya terasa begitu tercekat. Ia mematung di tempat itu. Mendengar tawa bahagia setelah tiga tahun silam lamanya menghilang. Hati yang tertawa telah menemukan topengnya kembali. Sepi dalam kehampaan dan tanpa rasa warna kehidupan itu kembali dirasakan oleh Felly.
Yah... masa yang pernah ia nanti tapi tak pernah ia sangka. Angin terus semilir menerpa seluruh tubuh Felly yang terasa sangat ringan. Seakan, jiwa tanpa nyawa. Wajahnya, seketika pucat setelah kebekuan itu. Namun, angin menuntunnya untuk berjalan ke arah studio untuk beberapa langkah lagi. Tentunya, dengan langkah yang begitu lemah.
“Yakin bisa tampil setelah ketusuk pedang?”, sindir Bram yang menyipitkan matanya. Di sanalah Felly sadar bahwa seluruh anak-anak band memperhatikannya dengan sorotan mata yang sangat tajam. Seperti, elang yang sedang menerkam mangsanya.
“Hahahaha maksudnya?”, tanya Felly berlagak tidak mengetahui apapun yang telah terjadi padanya.
“Segitu teganyakah lo ngebohongin kita semua?”, tanya Billy.
“Minna,” jawabnya lirih seraya menghempasakan tubuhnya di sofa. Tepat duduk di samping Riska.
“Gua tahu Fel, rasanya sakit saat kita melihat orang yang sangat kita cintai berjalan dengan orang lain. Tertawa lepas bahagia seakan kita tidak pernah merasakan hal itu. Tapi, sampai kapankah lo mau mengenang kisah cinta lo bersama Arka. Cinta pertama lo? Lagipula, lo yakin bisa tampil di depan dia setelah ini? Dia akan ikut campur dalam hal panggung karena dia adalah ketua OSIS.”
“Entah, gue harus bagaimana mengatasi semua ini. Gue hanya nggak nyangka aja kalau gue bertemu dia dalam keadaan yang saling tidak menyapa satu sama lain. Seakan, Arka nggak pernah mengenal gue. Padahal, kita pernah menjalin asmara dulu. Mungkinkah, masa itu sudah terlupakan? Padahal gue menganggap dia sebagai cinta sejati gue. Tapi, kenapa dia membuat gue menderita dengan kepergiannya? Prestasi gue turun setelah kepergian dia. Padahal, dia adalah pemacu kekuatan gue untuk terus terasa tertantang,” jelasnya panjang lebar dengan mata yang sendu. Untuk kedua kalinya, Felly berbagi tangis kepada teman-teman bandnnya.
“Semuanya, sudah takdir dari Yang Maha Kuasa, Fel. Gue tahu lo rindu banget sama dia. Tapi, apa boleh buat apabila tangan-Nya telah menghendaki dengan mantranya.”
“Iya, Bil. Lagipula, gue udah berusaha melupakan segalanya walaupun itu menyiksa gue untuk terbanting setiap waktu.  Menangis dengan raut wajah muram dan kuyu di balik tawa lepas gue.”
“Untuk pertama kalinya, gue percaya sama lo untuk pemecahan rekor. Manggung dengan posisi lo yang sekarang. Gue pengen tahu seberapa lo bisa mengendalikan diri lo sesuai dengan hati dan pikiran lo, Fel!”, tantang Bram.
“Hahahaha, bisa aja lu!”
“Gue serius lah!”
“Apaan sih?!”, guraunya dengan melemparkan bantal kursi sofa ke arah Bram.
Udara. Yah.. itulah jasa pos yang tepat untuk Felly. Menyampaikan pesan melalui udara. Siapa sih, yang nggak ingin jadi kekasih gadis keren itu? Semuanya pasti bakalan kepengen. Tapi, sebanyak apapun laki-laki yang tengah berusaha mendapatkan hatinya, ia hanya dapat mengingat nama orang itu. Senyum itu telah menyadarkannya akan cinta pertama. Saat ia ingin melupakan Arka dengan membuka hatinya, seakan hati itu tertutup walau Fely telah membukanya. Ia merasa, bahwa hati itu telah dikuasai oleh Arka. Oleh karena itu, saat ia hendak melupakan dan menghilangkan rasa cinta itu, maka rasa cinta itu akan tumbuh subur. Tapi, apabila ia membiarkannya, maka cinta itu akan mengalir seperti air yang tidak akan pernah ada hentinya.
Cinta. Yah... Rasa yang begitu menggelegar di setiap diri manusia. Banyak definisi kehidupan tentang cinta. Bagi Felly, cinta itu adalah saat kita melihat seseorang berkilauan seperti emas, ekstrim seperti menaiki jet coaster, dan selalu teringat setiap waktu. Seakan, ia telah memakai opium untuk mabuk dan ketagihan setelah melihat orang itu.
Menyakitkan. Memang! Terkadang, cinta itu sangat menyakitkan bagi seseorang. Entah itu karena perselingkuhan, ataupun hal lainnya. Semua itu tergantung pemiliknya. Apabila kita dapat menjaga emas itu dengan baik. Maka, tidak akan ada yang berani mengambilnya. Dan, sebaliknya. Kita, bisa menjaga cinta itu dengan kepercayaan, kesetiaan, dan juga kasih sayang tanpa tekanan satu sama lain. Berani mengorbakan waktu untuk orang yang kita cintai walau hanya satu detik. Karena, waktu lebih berharga didandingkan dengan emas. Dengan waktu, kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Penyesalan karena menyia-nyiakan waktu bersama Arka. Itulah Felly saat itu. Dan, sekarang.
Pengkhianatan. Itulah manusia. Rasa yang tidak pernah lepas dari nafsu untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Padahal, ada yang lebih buruk dari dirinya. Rasa haus itu tidak terpungkiri. Karena, kodrat manusia sangat berbeda jauh dengan malaikat. Di dunia ini, tidak akan ada yang sempurna. Sebaik apapun kita berusaha untuk menjadi sempurna, pasti akan ada keluputan dari itu.























Font Note :
Free : Bebas
Bye : Selamat Tinggal
Minna : Teman-teman (Dalam bahasa Jepang)
So : Jadi...
Full : Penuh


















Biodata Penulis

Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...