Skip to main content

Senja

Senja
Pratiwi Nur Zamzani


Felly terdiam di sudut ruangan. Ia hanya bisa menatap keramaian orang yang tengah menari di bawah cahaya lampu yang minim. Matanya yang sayu hanya bisa membantunya berjalan setelah ia memanggil waitters untuk mengantarkan dirinya ke bartender.
“Kasih gue lima gelas! Gue butuh yang lebih keras!,” kata Felly setelah ia berhasil mendaratkan pantatnya di atas kursi itu.
Felly menunggu minumannya datang dengan menatap keramaian, ia tidak tertarik untuk ikut jatuh ke dance floor. Ia lebih tertarik menghabiskan minuman dengan gelas-gelas kecil yang siap membantunya melupakan segalanya yang tengah memenuhi pikirannya.
“Felly!,” panggil seseorang saat melihat Felly tengah meminum minuman alkohol itu.
Minuman itu seketika tumpah tercecer dan membasahi baju Felly saat seseorang mengambil paksa minuman itu dari tangan Felly. Felly yang setengah sadar, hanya bisa mengguman tidak jelas di sana. Bahkan saat orang itu, mengangkat tubuh Felly dan membawanya keluar menembs keramaian dance floor, Felly masih mengguman tidak jelas. Efek alkohol yang ia minum, benar-benar membuat dia kehilangan kesadaran sepenuhnya.
***
Laki-laki itu berhasil membawa Felly ke dalam mobil. Tak lama kemudian, ia menerima sambungan telfon dan berencana membawanya ke tempat yang pantas untuk Felly. Laki-laki itu megambil kemudi dalam mobil dengan panik, Felly yang terus meronta ingin kembali sampai Felly yang berhasil memuntahkan minumannya. Laki-laki itu tidak jijik sama sekali, ia justru memberikan tissue kepada Felly agar ia membersihkan hasil usaha minumnya.
“Dian kenapa bisa sama lo Bril?,” tanya Bram kepada orang yang tengah berdiri di depannya bersama dengan kapten mereka.
“Gue tadi nemuin dia di club. Bukannya dia bakalan aa jadwal manggung sama kalian? Kenapa dia sampai kliaran di club?,” tanya Brillian kepada personil Pro Techno.
“Lo serius Felly ada di club?,” tanya Billy terkejut.
“Sejak kapan Felly main ke club? Perasaan justru kita yang sering ke club. Bahkan saat kia ngajak dia, dianya nggak bakalan mau,” jelas Riska panjang lebar.
“Gimana kalau gue kalian persilahkan masuk aja dulu. Karena gue nggak yakin kalau dia bakalan bisa bediri lebih lama,” ucap Brillian mengingatkan.
Merekapun memberikan jalan kepada Brillian. Dan Brillian, membopong tubuh Felly. Kemudian, menidurkan tubuh Felly yang tengah lemah karena efek minumannya.
“Lo nggak layar?,” tanya Bram.
“Gue balik. Setelah tugas gue di beberapa tempat. Dan, menemui Felly,” jelas Brillian singkat.
Bram menghembuskan nafasnya. Kemudian, matanya memandang ke arah luar. Mencoba menerawang kejadian yang telah terjadi tanpa sepengetahuannya. Ia tidak memperdulikan Billy dan Riska yang bingung mengurus Felly karena tenggang waktu manggung segera datang. Mereka tidak mungkin membatalkan perjanjian apabila tidak mau terkena denda.
“Gue nggak bisa mengatakan apapun jikalau dugaan gue benar tentang hal ini. Felly adalah gadis keras kepala yang gue kenal. Dia juga gadis yang paling kasar dan jahat yang pernah gue kenal. Tapi, dia tanggung dalam membentengi dirinya atau orang-orang sekitarnya. Dia adalah perisai bagi kami. Tapi terkadang, dia juga merasakan takut. Sama seperti kami. Tapi ketakutan Felly nggak pernah bisa sama dengan hal apa yang kami takutkan.”
“Gue emang nggak pernah tahu bagaimana kehidupan Felly. Tapi setitik tanda yang pernah gue teliti dengan pemahaman gue selama gue mengenal dia, hanya ada satu kata yang dia takutkan. Perpisahan. Dia pernah bilang ke gue. Percuma ada hubungan, kala salah satu memilih meninggalkan dan yang satunya lagi menerima sebuah takdir sebagai perpisahan. Sejenak, gue pernah bertanya saat gue nggak pernah tahu bagaimana cara memahami Felly. Tapi, dia tidak pernah menjawabnya. Dan baru sekarang, dia menjawabnya,” jelas Bram panjang lebar.
Brillian terdiam. Ia membisu saat Bram berkata demikian. Ia tidak menyangka bahwa gadis perparang singa seperti Felly memiliki rasa takut. Brillian berpikir, Felly adalah gadis langka yang ia temui. Dia gadis yang selalu menganggap dirinya sebagai sampah dan siap membuang orang-orang di sekitarnya layaknya sebuah sampah setelah tidak berguna sama sekali, atau bahkan tidak berarti apapun baginya.
Ia selalu berpikir bagaimana caranya ia menemukan strategi kehancuran untuk Felly. Hingga ia dapat menundukkan kepalanya. Brillian menyadari segalanya bahwa Felly Anggi Wiraatmaja memang pantas di puja oleh semua kaum Adam. Bahkan saat pertama kali bertemu dengannya, Brillian berpikir bahwa ia dapat mendapatkan Felly dalam relevansi waktu yang sudah ia tentukan. Tapi gadis itu seakan dapat membaca apa yang diinginkan oleh dirinya.
“Brillian, lo kenapa?,” tanya Bram memastikan.
Brillian menggelengkan kepalanya. Ia berpikir, apa yang harus ia berikan sdah datang pada waktu yang tepat. Ia sadar bahwa Felly memilih meninggalkannya bukan karena dirinya yang kurang. Tapi  karena dirinya sendiri yang terus dihantui oleh rasa takutnya. Dari sana, Brillian dapat melihat bagaimana Felly yang sebenarnya.
Felly memang bebeda dengan gadis lain. Dia lebih berani mengambil tindakan yang akan menyakiti dirinya sendiri. Dan ia juga berani berkorban untuk orang lain. Karena ia tahu, bahwa dirinya tidak mampu memberikan seluruh kebahagiaan yang tidak diyakini oleh hatinya. Brillian berpikir, bahwa kepergian Felly adalah suatu hal yang begitu menyedihkaan untuknya. Suatu hal yang benar-benar akan menjadikan harinya di atas kapal, menjadi hari terburuk meski ia dihibur oleh ika yang mengikuti kapalnya, atau bahkan senja yang begitu indah di sana.
“Masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya. Gue yakin, Felly masih menunggu lo. Asal lo tahu aja, Felly nggak pernah menyentuh minuman. Dan di sini, gue berani taruhan karena dia stres gara-gara lo, dia jadi minum. Dia selalu melampiaskan kemarahan, kegundahan, atau bahkan suatu hal yang tidak bisa ia selesaikan dengan gitarnya. Tapi untuk kali ini, gue bisa jamin lo berhasil bikin dia gila!,”jelas Bram.
Brillian tersenyum mendengar ucapan Bram. Mereka berdua memutuskan untuk berpisah. Brillian kembali ke apartement dan Bram, kembali ke dalam studio untuk memulihkan kondisi Felly yang buruk.
***

Selama di apartement, Brillian masih memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk itu. Sampai akhirnya, ia memiliki ide untuk melakukan suatu hal dan meyakinkan Felly akan dirinya. Di sana, ia tersenyum simpul. Menyadari betapa pengecutnya dia saat berhadapan dengan gadis itu. Tapi apalah daya saat dirinya tak mampu mengatakan secara langsung karena kondisi Felly dan dirinya yang tidak memngkinkan melawan waktu, Brillian memilih untuk mengirimkan pesan sara melalui ask.fmnya. Ia tidak peduli apabila ada fans Felly yang mencibir atau bahkan Felly tidak membalas suaranya. Karena saat ini, yang ia pikirkan hanyalah bagaimana cara agar Felly mengetahui perasaannya.
 












Suara itu menggema dalam ruangan Felly. Matanya yang sendu, kini telah berarir setelah mendengar suara Brillian. Sauara, yang hasil membuatnya menangis menahan rasa yang terus membuncah dalam dadanya. Mengetuk, atau bahkan mendobrak hatinya yang keras. Membuka paksa benteng yang ia bangun susah payah. Hingga ia memutuskan untuk menerima pertemuannya dengan Brillian.
Yah.. sebuah tempat bersejarah di dalam hidupnya yang terus terabadikan di dalam hati, musik, ata bahkan nafasnya. Felly juga menyadari, kehidupan tidak akan selalu terang seperti yang ia duga meski ia sudah merencanakannya. Bumi akan terus berputar pada porosnya. Disanalah segala hal yang kita lakukan akan menentukan apakah kita pantas seperti senja.
Cantik di tengah kegelapan malam ang siap menggantikan posisi mentari dengan bulan. Sebuah benda alam yang indah dengan beberapa macam hasil. Bulan yang terang, atau bulan yang redup. Perbedaan dengan mentari, yang akan selalu berpijar meski awan mendung menutupinya. Atauu bahkan mentari yang terus indah di saaj kegelapan malam merayapinya. Ingatlah, kehidupan tidak akan lepas dari da cahaya. Terang dan gelap.








Biografi Penulis

P.N.Z adalah nama yang selalu tercantum dalam setiap karya gadis ini. Ia lebih akrab di panggil Pratiwi Nur Zamzani.Terkadang, banyak orang yang memanggilnya nama Felly. Karena, ia selalu menggunakan nama tersebut di setiap karyanya.
Ia lahir dengan kelahiran Pasuruan, 4 Juli 1999. Gadis ini telah menempuh pendidikan Menengah ke atas di SMA NEGERI 1 BANGIL, dan Menengah Pertama di SMP NEGERI 1 BANGIL. Ia memiliki cita-cita sebagai seorang Dosen dan motivator. Ia berharap, dengan tulisan yang ia buat, ia dapat mengisnpirasi dan memotivasi kalian dengan karyanya. Sehingga, karya tersebut dapat bermanfaat dalam kehidupan kalian. Banyak karyanya yang sudah di muat di media masa. Kalian juga bisa melihat karyanya di cerpenmu.com dengan mengetikkan namanya di search pencarian. Atau menjadikan namanya sebagai kata kunci pencarian di google.
Jika kalian berminat, kalian bisa menyapanya dengan alamat Facebook Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Hijab Putih), IG pratiwinurzamzani  (Pakai Hijab Putih)  atau melalui E-mailnya pratiwinurzamzani@yahoo.co.id

Salam dan Peluk Hangat
Pratiwi Nur Zamzani

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...