Skip to main content

Pos

Pos
Pratiwi Nur Zamzani


Sore itu, Felly kembali terdiam di depan meja kerjanya. Ia tak dapat memikirkan bagaimana kondisi pekerjaannya saat ini. Riska yang terus berkobar akan job yang menggerayai Felly terus menerus meminta Felly untuk menerima kontrak yang ada. Riska ingin menerima semuanya. Tapi Felly, gadis itu terpencara di dalam ruang hatinya sendiri. Ia tak mampu mengalihkan pandangan matanya, hatinya, atau perhatiaannya.
Ponsel. Yah... Felly terus menatap ponsel yang ada di depannya. Ia terus berharap dalam hatinya bahwa ponsel itu akan menyala. Berdering dengan suaranya. Suara yang menjadi nada dering detiap ada telfon. Felly berharap, bukan sara nada dering saja yang terdengar. Tapi, benar-benar suara pemilik nada dering.
“Fel! Lo keluar kenapa, sih?!,” teriak Billy dari luar.
“Fel! Lo masih hidup, kan?! Prodser mau ketemu sama lo! Nawarin rilis album baru nih!,” teriak Riska dengan menggedor pintu ruangan kerja Felly.
“Budgetnya gedhe, Fel! Besok bisa beli rumah sama apartement!,” teriak Bram iming-iming.
Felly masih tidak berkutik. Ia seperti tak mendengar sara teman-temannya yang sudah kalap karena beberapa waktu dala waktu dekat ini, Felly menghiraukan mereka. Meninggalkan mereka dengan tanggung jawab di pundaknya sebagai seorang Kapten Band Pro Techno.
Ia juga meninggalkan tugasnya sebagai aransement dan penulis lagu. Felly juga jarang latihan keras seperti biasanya. Ia menghabiskan waktunya di depan ponsel yang sama sekali tidak berkedip. Mati suri dengan daya yang masih full. Felly tidak tahu kenapa dirinya terlihat begitu buruk dan menijikkan. Kenapa ia menjadi sampah yang tak berguna seperti itu. Felly tak tahu, apa yang harus ia lakukan di saat seperti ini.
Billy, Riska, dan Bram. Mereka bertiga terus menggedor pintu Felly. Sampai akhirnya, mereka merasa kesal dan mengancam untuk mendobrak pintu. Felly tetap tidak menyahuti sama sekali. Di samping Bram dan Billy yang bingung dengan Felly. Riska bingung sendiri dengan mengurusi beberapa produser yang ingin mengambil kontrak besar dengan Felly. Riska juga merasa bingung saat beberapa media musik ingin mengadakan meet and great dengan Felly.
Yah.. Felly Anggi Wiraatmaja. Gitaris terbaik sepanjang tahun yang terkenal dengan gayanya yang stylish. Selain itu menjadi seorang pemusik, Felly juga kerap terpampang di beberapa spanduk sebagai model iklan. Kebanyakan, Felly menerima kontrak iklan baju. Baginya, apabila ia menerima iklan make-up atau makanan, ia takut merusak kualitas yang ada di dalam dirinya.
Oleh karena itu, Felly selalu mendapat name-tag dari beberapa produsser bahwa Felly adalah artis mahal. Tidak sebarangan orang yang bisa menyentuhnya. Termasuk laki-laki yang mengenal dirinya.Di mata mereka, Felly adalah Dewi Nirmala yang dapat menyihir seluruh laki-laki sejagad raya dengan lekukan tubuhnya yang perfect. Terutama, sorotan matanya yang tajam serta bentng matanya yang indah. Baik tanpa  sentuhan make-up atau sebaliknya.
Tapi, di setik itu juga, Felly benar-benar buta dalam melihat siapa mereka. Deretan laki-laki yag tengah menunggu Dewi Nirmala memberikan sentuhan lembut untuknya. Bagi mereka tatapan mata Felly yang tersudut pada mereka adalah harta karun yang begitu berharga. Meski sorotan mata itu seperti singa yang siap menyantap makanannya.
“Fel....,” kata Bram dan Billy terengah saat mereka berhasil menjebol pintu Felly. Mata Mereka seketika tertuju pada orang yang tengah memejamkan matanya. Duduk terdiam di atas kursi. Dengan kedua ibu jari, yang menekan ujung atas hidung mancungnya.
“Felly!,” kata Riska seraya berlari ke arah Felly dan memeluk Felly.
“Lebay deh lo!,” decah Felly.
“Eh bego! Lo pikir dengan cara lo kek begini kita nggak bakalan kawatir?! Lo jadi orang jangan bego-bego kenapa?!,” kata Billy.
“Lo mau ngerusah karir gue sebagai drummer?! Langkahin mayat gue dulu, kali! Main ngilang kek orang mati! Lo tahu jelangkung?! Ya itu lo!,” ucap Bram kesal.
“Jelangkung,” gumam Felly dengan membuka matanya. Ia lurus ke depan. Fellypun meraih ponselnya. Ia menekan beberapa nomor agar tersambung dengan apa yang ia maksud.
“Tuh anak kenapa?,” tanya Bram kepada Felly saat melihat Felly menjauh ke daun pintu.
“Fel, kita bisa bicara bareng-bareng! Jangan kek....”
“Sssssttttt!,” kata Felly seraya meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya. Manandakan perintah untuk Riska agar ia terdiam.
Mereka bertigapun diam. Menuruti apa yang diucapkan oleh Felly. Sampai akhirnya, mulai bereaksi saat waut wajah Felly berubah.
“Kenapa lagi, Fel?,” tanya Billy.
“Kalian keluarlah, ada hal yang ingin aku kerjakan,” ucap Felly menyingkirkan temannya yang masih berdiri berjejer di ruangannya.
“Nggak usah di kunci. Kita akan menunggu lo di luar. Selesaikan masalah lo itu. Jangan bawa-bawa kita ke dalam oke? Awas aja kalau sampai lo kunci.”
“Iya. Udah sana keluar,” kata Felly dengan mengeluarkan kertas dari laci beserta dengan amplop coklat.
Di atas kertas itu, Fellu menuliskan isi hatinya. Coretan hati yang selama ini ingin ia sapampaikan kepada laki-laki itu. Yah.. laki-laki yang berhasil mengalahkan sihirnya. Pertemuan dia media sosial dan hanya bertatap mata melalui foto. Timbulan rasa karena suaranya yang berhasil menyelimuti buasnya singa liar yang ada di dalam dirinya. Brilliandi Arka Pramana.
Laki-laki itu. Ia datang di saat yang tak terduga.Tanpa ada mendung, angin topan, ataupun bahkan badai sekalipun. Ia juga menghilang seperti asap. Tanpa ada sulutan api, atau gelegar petir. Hanya satu yang dapat ia lakukan. Datang dengan penuh kejutan yang tidak pernah Felly ketahui sebelumnya. Atu bahkan Felly rasakan sebelumya. Sungguh laki-laki yang berbeda.







Felly melipat kertasnya. Memasukkannya ke dalam amplop coklat. Kemudian, ia meraih kunci mobilnya dan pergi ke kantor pos. Selama di perjalanan, Felly memikirkan apa yang terus melintas di dalam pikirannya. Ia tak dapat berkompromi kepada hatinya yang tengah gentar antara senang karena menemukan jalan keluar masalahnya. Yaitu, Rindu. Ia tidak menyangka, dirinya dapat merasakan kembali rasanya rindu hanya kepada laki-laki itu. Brillian. Kapten Kapal Layar yang entah kemana ia sekarang, berada dimana, apakah ia sudah makan? Atau ia baik-baik saja. Hanya pertanyaan itu yang terus melintas dalam hatinya.
Sampai akhirnya, pikirannya berhenti saat ia melihat kantor pos terbuka. Felly mendapatkan ide itu saat ia mendapatkan beberapa informasi dari teman-temannya yang memiliki jaringan seputar Brillian.
“Tolong antarkan surat ini. Pastikan, kalau surat ini akan sampai di tangannya. Kumohon,” ucap Felly kepada teller yang menerima surat itu.
“Kami akan berusaha sebaik mungkin,” ucap teller itu.
Felly hanya bisa menganggukkan kepalanya. Ia berusaha menahan air matanya yang sudah tak terbendung lagi menahan rasa yang menyeruak di dalam dada. Di setiap nafasnya, ia berdoa agar Brillian baik-baik saja. Felly benar-benar telah gila.
“Brillian, kau berhasil menjinakkan singa liar ini. Aku berjanji, aku tidak akan pernah memberontak di dalam penjaramu,” gumam Felly dengan tersenyum samar.
Felly kembali ke studio. Bram, Billy, dan Riska menunggunya di sana. Mereka menatap sendu ke arah Felly. Sorotan matanya terlihat antara senang dan sedih. Felly yakin, mereka sudah mengetahui masalah Felly dari beberapa orang suruhannya. Sampai akhirnya, Felly meledakkan tangisnya di pelukan Riska.
Mereka bahagia, Felly bisa memaknai cinta dari Brillian. Menghargai waktu kebersamaan dengan orang tercinta, dan kembali menangis karena Rindu. Jauh di dalam hati mereka berdua, Bram dan Billy berterimakasih kepada Brillian karena telah membantu mereka mengajarkan suatu hal yang seharusnya tidak dilakukan Felly. Yaitu, menyia-nyiakan waktu, serta seseorang yang mencintainya. Di sana, mereka dapat melihat sorotan tersiksa diri Felly. Begitu juga dengan Felly. Saat teman-temannya berusaha menjaga keselamatan Brillian, Felly juga akan berjanji untuk menajaga Brillian untuk hatinya. Ia juga berjanji, tidak akan menolak pertemuannya dengan Brillian.





Biografi Penulis

P.N.Z adalah nama yang selalu tercantum dalam setiap karya gadis ini. Ia lebih akrab di panggil Pratiwi Nur Zamzani.Terkadang, banyak orang yang memanggilnya nama Felly. Karena, ia selalu menggunakan nama tersebut di setiap karyanya.
Ia lahir dengan kelahiran Pasuruan, 4 Juli 1999. Gadis ini telah menempuh pendidikan Menengah ke atas di SMA NEGERI 1 BANGIL, dan Menengah Pertama di SMP NEGERI 1 BANGIL. Ia memiliki cita-cita sebagai seorang Dosen dan motivator. Ia berharap, dengan tulisan yang ia buat, ia dapat mengisnpirasi dan memotivasi kalian dengan karyanya. Sehingga, karya tersebut dapat bermanfaat dalam kehidupan kalian. Banyak karyanya yang sudah di muat di media masa. Kalian juga bisa melihat karyanya di cerpenmu.com dengan mengetikkan namanya di search pencarian. Atau menjadikan namanya sebagai kata kunci pencarian di google.
Jika kalian berminat, kalian bisa menyapanya dengan alamat Facebook Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Hijab Putih), IG pratiwinurzamzani  (Pakai Hijab Putih)  atau melalui E-mailnya pratiwinurzamzani@yahoo.co.id

Salam dan Peluk Hangat
Pratiwi Nur Zamzani

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...