Skip to main content

Think All About People

Think All About People
Pratiwi Nur Zamzani



“Apakah kau tahu, hari ini ada murid baru yang akan masuk ke kelas kita. Katanya sih, dia cantik banget. Blasteran dari Brazil!,” bisik perempuan yang tengah duduk bergerombol dengan Riska.
“Benarkah? Wahhhh.. pasti dia bakalan punya mata yang indah dengan kornea biru setengah hitam. Seperti kucing,” jawab Riska dengan membayangkan wajah anak baru itu.
“Memang. Tapi, apakah kau tidak takut apabila Billy akan tertarik dengan kecantikannya?”
“Tidak Nanda. Jangan nefthink gitu ah! Nggak baik tahu!”
“Iya sih, tapi...”
“Selamat pagi anak-anak!,” sapa Pak Ridwan tiba-tiba. Dan diikuti oleh anak perempuan itu. Benar saja, ia sesuai dengan apa yang Riska bilang sebelum ia sampai di kelas. Namun, semua terkagetkan saat ada anak laki-laki yang tak kalah tampan dari Billy yang paling tampan di sekolah.
“Kenalkan! Dia Felly dan dia Arka. Kalian berdua bisa duduk bersama atau duduk dengan yang lainnya. Tapi sebelumnya sebutkan nama lengkap kalian dan sedikit spesifikasi tentang diri kalian.”
“Aku Felly. Felly Anggi Wiraatmaja.”
“Dan aku, Arka. Lebih tepatnya Arkana Aditya.”
Kemudian, merekapun duduk di bangku yang tak jauh. Lebih tepatnya, mereka tidak duduk bersama. Melainkan dengan orang lain. Sejenak, mereka saling menatap mata.
“Kenapa kau merasa takut?,” tanya Arka kepada teman baru sebelahnya. Rendy.
“Kalian saling kenal?,” tanya Riska.
“Yah.. kita saling kenal. Rendy Armyandila Perdana. Lahir dengan marga Perdana. Dan tinggal di pusat kota. Benar?,” tanya Arka dengan tatapan tajam dan sinis.
Rendy hanya terdiam. Dan, mereka semua melanjutkan proses belajar mengajar saat guru telah memperingatkan mereka untuk memperhatikannya saat menerangkan.
“Permisi, Pak saya mau keluar ke UKS. Perut saya sakit!,” ucap Felly saat ia mendengar dan melihat sekelabat kejadian saat di UKS.
“Oh ya, silahkan.”
Tanpa berjabat tangan terlebih dahulu, Felly sudah buru-buru keluar kelas. Sebelum sampai di UKS, ia memasang maskernya untuk menutupi identitasnya. Dan sampa di UKS dalam waktu satu detik. Maklum saja, ia memiliki kekuatan dalam hal itu. Freezer Boath. Itulah namanya. Tendangan berputar kakinya telah melumpuhkan pelaku pemerkosaan itu. Terjadilah pertarungan di dalam sana. Bahkan, pelaku berulangkali mendapatkan telak ‘T’ dari Felly.
“Terimakasih,” ucap lirih perempuan itu.
Felly tidak menjawab. Ia hanya mengulurkan tangannya untuk membantu perempuan itu bangun. Kemudian, kembali ke kelas dengan langkah yang gontai tanpa membuka maskernya. Meskipun, berulang kali perempuan itu bertanya siapa dia. Felly tetap menghiraukannya.
“Apakah urusanmu beres?,” tanya Arka.
“Yah... begitulah. Tidak adakah minuman dingin di sini?”
“Hahahaha! Di sini berbeda dengan istana. Sekolah ini tidak akan menyediakan anggur kesukaanmu.”
“Yah.. begitulah. Apakah kau sudah menemukan siapa yang mengambil pusaka milikku? Kau tahu, aku hanya bisa menggunakan freezer boath dalam waktu 1 detik.”
“Aku hanya menemukan sinyalnya. Kau tahu kan, bahwa kau adalah rantai permadaniku. Jika milikmu hilang, maka daya akurasi yang aku miliki juga akan sama denganmu meskipun hanya berkurang lebih sedikit darimu.”
“Terasa lemas, Ka. Apakah kau membawa teksis yang dibekali oleh Raja Brahardianjara?”
“Yah... tapi jangan sering menggunakan itu. Kalau kau kehabisan stok, kita tidak akan mudah mendapatkannya dari kahyangan. Tahanlah sebentar sampai kita benar-benar perang dengan orang itu....,” kata Arka terputus saat ia mendengar sesuatu.
“Aku menemukan orangnya!,” ucap Arka dengan menyatukan lambang perbadaninya dengan milik Felly untuk menuju ke tempat yang mereka maksud.
Mengingat akurasi kekuatan Felly mulai menurun tanpa adanya pusaka itu, Rendy terpaksa harus menggunakan Sheer Longer dalam hal ini. Yah.. kekuatan yang membuat ia tak mempu dilihat oleh kasat mata. Serta akurasi sampai di tempat yang lebih cepat dibandingkan Felly.
Saat mengetahui akan hal yang membuat pelaku mencuri pusaka Felly adalah untuk menyelamatkan kerajaannya. Yah.. kerajaan yang menggunakan tenaga panas. Baik kekuatan, maupun lainnya. Di istana Felly, banyak pusaka yang menggunakan pusaka tenaga panas. Akan tetapi, pusaka biru Felly mengalahkan pusaka halilintar yang dimiliki orang seangkatan dengannya.
Dengan cepat, Arka menyerang Rendy dan juga pasukan berjaganya itu. Sedangkan Felly, terus mengejar salah satu bagian dari rencana Rendy. Mencoba untuk mengambil kembali pusaka itu. Jika tidak, Felly akan lenyap menjadi debu tanpa adanya pusaka itu. Dan waktu durasi yang diberikan oleh tinggal beberapa menit lagi.
Segala kekuatan telah Felly coba. Namun, tidak berhasil. Hingga akhirnya, ia menggunakan kekuatan itu. Yah kekuatan yang dapat mengurung musuhnya dengan halilintar transparan. Resiko yang ada di dalamnya adalah, Felly akan kehilangan akurasi daya kekuatannya lebih cepat. Dan benar saja, hal itu terjadi kepada Felly. Ia tak mempu menompang bebas kekuatan lain yang menyerangnya.
Di dalam situasi seperti itu, Arka masih belum menjemputnya. Dengan mudah bagian dari rencana Rendy kabur. Akan tetapi, Felly sontak bangun meski ia masih sulit untuk bangun. Bram. Bagaimana bisa Bram datang? Bukankah ia sekarang ada tugas untuk menjalankan hujan serta pengatur suhu daerah setelah mendapatkan tugas dari Raja?
“Kabur! Hehehehe. Kasih aku waktu untuk bermain dengan dia. Hahahaha!,” ucapnya saat mengerti arti mata Felly. Dengan bergoyang riang di atas skets board melayang itu, ia meninggalkan Felly yang masih lemah di tempat itu.
“Kau tidak apa-apa?,” tanya Arka setelah membereskan Rendy dan menemukan Felly terkulai lemas tak berdaya.
“Mana teksisku? Bram ada di sini. Dia bisa membantu kita. Segeralah kau memberikan aku teksis itu. Sebentar lagi, kita bertiga akan berperang dengan kawanan milik Rendy. Aku tidak mungkin menggunakan kekuatanku dengan daya seperti ini meskipun kau dapat memberikan dayamu. Justru kau akan sama denganku,” saat mengetahui kekawatiran Arka.
Arkapun menurut. Kemudian, mereka berangkat bersama ke tempat Bram dengan kekuatan Listening Aroungh milik Felly dan Arka. Mereka mendengar pertarungan yang begitu hebat. Hingga mereka harus menggunakan kekuatan kecepatan mereka masing-masing.
Sesampainya di sana, mereka melihat Bram yang kuwalahan dengan serangan panas milik kawanan Rendy. Dengan cepat, Felly dan Arka membatu. Batu pusaka milik Felly tinggal beberapa waktu. Apabila pasir habis menurun dan pusaka telah bersatu dengan kekuatan mereka, maka detik itu juga Felly akan meledak menjadi debu.
Namun, mereka dapat mencegah semua itu dengan persatuan kekuatan. Karena itu, benarlah prinsip kerajaan mereka. Apapun yang berniat jahat, pasti tidak akan berhasil. Begitu juga saat perasaan egois bertarung dengan kebersamaan. Jadilah kekalahan bagi sang pemilik egois meskipun sang egois memiliki kekuatan paling super sekalipun. Dan apapun bentuk egois, tidak akan ada baiknya. Kecuali dengan adanya setitik kepedulian meski terselubung dengan amarah.





Biodata Penulis

Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.



Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...