Skip to main content

Patengan

Patengan
Pratiwi Nur Zamzani


“Wow, keren banget!!!!,” seru Bram saat ia melihat betapa indahnya tempat itu.
“Kalian akan pemotretan di sini! Jadi, untuk persiapan materi dan juga pemantapan kita mengajak ke sini. Oh ya, dimana Felly?,” tanya ketua tim saat tidak melihat Felly di tempat itu.
“Bil, bukannya tadi dia jalan di samping lo ya?,” tanya Bram.
“Iya. Tapi, sekarang kok nggak ada ya? Perasaan, dia tadi ikutan kita kok.”
“Nah tuh anaknya!,” tegas Riska saat melihat Felly berdiri menghadap batu itu. Berbalik arah dengn rekan modellingnya.
“Baiklah kalau begitu. Kalian, senang-senang aja dulu sebelum serius dengan pemotretan. Saya akan mempersiapkan kebutuhan untuk pemotretan nanti malam,” ucap Kepala tim dengan meninggalkan Billy, Bram dan Riska yang masih berdiri menikmati pemandangan tempat itu. Batu Cinta Situ Patengan.
Tempat wisata dengan pemandangan yang begitu menakjubkan. Situ Patengan adalah sebuah danau yang ada di kaki Gunung Patuha, Kabupaten Bandung. Situ yang berdiri sejak tahun 1981 merupakan salah satu tempat wisata yang digandrungi oleh para wisatawan di kawasan Bandung Selatan. Terlebih di tempat itu terdapat ‘batu cinta’ yang menjadi daya tarik tersendiri selain panorama yang indah.
Batu cinta adalah batu yang terletak di tengah pulau. Yakni, Pulau Sasuka atau Pulau Asmara. Untuk sampai di sana, para wisatawan harus menyewa perahu yang sudah disediakan oleh pihak wisata. Batu ini, mengiringi legenda Situ Patengan. Konon, Situ yang airnya berasal dari Sungai Cirengganis ini merupakan kumpulan air mata dari pasangan Dewi Rengganis dan Ki Santang yang cintanya tak bisa bersatu karena suatu keadaan.
Namun, akhirnya dapat kembali bertemu pada sebuah batu setelah sekian lama saling mencari. Menurut mitosnya, bagi pasangan yang berkunjung ke batu cinta itu, cinta mereka akan abadi. Nama ‘Patengan’ sendiri diduga diambil dari kisah asmara pasangan Dewi Rengganis dan Ki Santang yang pateangan-pateangan, yang dalam bahasa sunda berarti saling mencari.
“Apakah lo percaya hal kayak beginian?,” tanya Bram saat melihat Felly yang tengah menatap batu yang ada di depannya dengan tatapan yang nanar.
“Awalnya, tidak. Tapi, gue ingin percaya akan hal itu.”
“Hah?”
“Yah... gue ingin percaya akan hal ini.”
“Apakah ada seseorang yang lo cintai dengan kisah sama seperti yang tertuliskan di batu ini?,” tanya Bram ragu dan tetap dalam nada memastikan.
Felly hanya mengangguk perlahan. Menatap air danau yang begitu jernih dengan memutar sedikit memori kisahnya. Untuk kedua kalinya, Felly menginjakkan kakinya di tanah itu setelah perpisahannya yang terasa begitu menyakitkan.
“Aku pergi dulu ke hotel. Nanti malam aku ada jadwal pemotretan. Duluan. Bye,” ucap Felly kepada Bram dengan meninggalkan Bram yang masih berdiri di sana. Mencoba memahami dan percaya akan sebuah mitos yang ada.
“Sampai kapan kau akan seperti itu, Fel? Gue tahu, lo nggak akan pernah tahu penantian apa yang ada buat lo. Karena, lo hanya bisa berharap tanpa berusaha untuk membuka dan belajar kembali bagaimana rasanya cinta,” gumam Bram dengan meninggalkan tempat itu dan berjalan ke arah Billy dan Riska yang tengah asik selfie di tengah temaram senja Pulau Sasuka.
“Felly kemana?,” tanya Riska.
“Dia balik ke hotel. Katanya sih, jadwal pemotretannya malam ini.”
“Iyalah, dia kan tentor utama dalam proyek ini. Lagian, yang minta juga investornya sendiri. Kemungkinan, Felly bakalan ada makan malam bisnis mengenai proyek ini. Sibuk juga tuh anak walaupun sedikit cuti,” ucap Billy dengan memencet tombol kamera untuk melihat hasil  foto bersama mereka.
“Udahlah, Felly butuh ketenangan. Mendingan, kita selfie bareng gimana?,” tawar Riska dengan senyuman cerianya.
“Ok!,” jawab Bram dengan semangat.
***
Dengan langkah kaki gontai, Felly menghempaskan tubuhnya di kasur empuk itu. Menatap langi-langit kamar hotel. Menarawang kisah yang pernah ada di dalam hidupnya. Mengingat kembali tatapan mata itu. Yah... tatapan untuk pertama kalinya yang membuat Felly jatuh cinta.
“Felly!,” seru seseorang dari depan pintu.
“Iya?,” jawab Felly dengan membukakan pintu.
“Datang 30 menit dari sekarang, ya?! Kita tunggu di lokasi,” ucap PD pada Felly yang masih belum bersiap-siap.
“Ok,” ucap Felly santai.
Dengan cepat, Felly merendam tubuhnya di bath tub dengan busa beraroma terapy. Setelah itu menemui make-over yang siap di ruang tamu untuk merias wajah Felly. Dengan gaun berwana biru mengkilat, dan penuh dengan pernak-pernik. Wedges tinggi dan rambut yang tergerai terlihat begitu pas dengan putihnya kulit Felly.
“Udah siap?,” tanya PD kepada Felly.
“Ok!,” jawab Felly dengan wajah yang berseri.
Tanpa perintah, Felly telah siap berdiri di objek pemotretan. Lehernya yang jenjang terlihat begitu seksi saat anting berliannya menghiasi sebagian kecil lehernya. Sorotan matanya begitu menggiurkan. Sentuhan bibirnya yang tergigit setengah menampah keseksiannya. Hingga akhirnya, pemotretan telah usai.
Sesuai dengan schedule yang ada dan terencana, PD meyuruh Felly untuk datang di hall aula untuk makan malam bisnis mengenai proyek yang ada. Sekaligus pengembangan proyek sebelumnya.
“Mari silahkan duduk. Ini dia model milik kita, Pak,” ucap PD kepada investor saat orang itu telah berada di tempat yang sudah ditujukan.
“Oh, PD!,” sapa Felly saat ia merasa bahwa orang yang akan bertemu dengannya telah datang di tempat.
Seketika bibir Fely terkaup rapat. Ia tak dapat mengeluarkan seuaranya. Kata-kata sambutan yang ia persiapkan untuk penyambutan habis sudah setelah ia tahu seseorang yang harus ia sambut. Dadanya terasa begitu sesak, jantungnya terasa berhenti bekerja, lututnya terasa membeku, badannya bergetar dengan bibir terkatp rapat dan tenggorokan terkecat. Bagaimana tidak? Arkana Aditya telah ada di depan matanya. Lama ia merindukan moment ini. Dan, semuanya terwujud dalam satu malam itu. Entah karena takdir ataupun mitos yang ada, Felly tidak tahu.
“Felly! Kau kenapa?,” tanya PD kepada Felly.
Felly hanya menatap Arka dengan tatapan matanya yang nanar dan terasa hangat.
“Felly!,” panggil PD lembut dengan menggoyangkan tangan Felly. Hingga akhirnya, Fellypun sadar bahwa ia telah dipanggil oleh PD.
“Kamu bisa bicarakan kontrak dengan Bapak ini. Silahkan duduk, dan diskusikan maksud serta kemauan anda dalam proyek ini bersama model yang anda inginkan. Saya permisi dulu,” ucap PD dengan meninggalkan Felly dan Arka di meja berwarna emas itu.
Hening.
“Kita, ketemu lagi,” gumam Arka gugup.
“Hmmmmm,” jawab Felly tanpa menatap mata Arka.
“Kenapa kamu begini?,” tanya Arka dengan memegang dagu Felly dan mengarahkannya agar tatapannya sejajar dengannya.
“Ma.... kksssuud.... nya?,” tanya Felly terbata.
“Tidakkah kau berfikir bahwa ini bukan sebuah kebetulan?”
“Aku mengira ini adalah wujud dari perpaduan mitos dan takdir.”
“Kita merasakan hal yang sama. Apakah, kesamaan itu masih tetap sama?”
“Apa yang kamu bicarakan, Arka. Aku tidak mengerti.”
“Apakah kamu puas dengan dirimu yang sekarang?”
“Arka....,” paggil Felly lirih.
“Bisakah kita kembali seperti dahulu, Felly? Aku menginginkan dirimu. Bisakah kau berjalan ke dalam pelukanku lagi? Aku tidak tahu harus berkata apa, maaf jikalau aku egois mengenai hal ini. Aku mengerti hubungan kita memag tidak patut untuk diperjuangkan apabila mengingat perpisahan itu. Tapi, perasaan ini terasa begitu menyiksa. Sangat menyiksa. Aku... aku bingung dengan apa yang terjadi dalam diriku... Tapi...,”
“Kau memang hebat berbicara apabila di depan klienmu. Tapi, kau begitu lemah saat harus berbicara padaku. Sesulit itukah kau mengatakan cinta? Padahal, apabila di dalam ponsel kau tidak pernah berbicara segugup itu,” ucap Felly dengan menahan tawanya.
“Felly....,” panggil Arka manja.
“Apa?,” jawab Felly dengan menggigit bibir bawahnya.
“Tak bisakah kita serius sedikit?”
“Sedikit?”
“Tidak. Banyak. Aku ingin serius yang banyak.”
“Apakah kembalinya dirimu membawa serius yang banyak? Coba katakan apa itu?”
Arka tergugup saat ia harus mengatakan niatnya. Dengan cepat, Arka mencari cara agar bisa menyampaikan niatnya. Ia mengambil ponsel di saku jasnya. Kemudian, menuliskan niatnya mengenai rencananya selama ini.
“Aku tidak butuh tulisan, Arka. Yang aku butuhkan suara kamu yang berdasarkan hati.”
“A... aku.... Hsssshhhhh! Kau itu! Ayo menikah.”
“Hahahahaha, menikah?”
“Tuh kan, kau akan menertawakan aku kan....”
“Bagaimana tidak? Tujuh tahun lamanya aku sudah tidak mendengar manjamu dan rajukanmu.”
Tanpa menjawab, Arka merengkuh Felly dalam pelukannya. Bergumam dan bahagianya mengenai persetujuan pernikahan mereka. Mengingat perpisahan mereka. Yah.. perpisahan. Memang, terasa begitu menyakitkan. Tapi, perpisahan tak selamanya akan terasa sama. Dan juga, tak selamanya buruk. Karena, perpisahan memiliki banyak arti.




Biodata Penulis

Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...