Skip to main content

Summer

Summer
Pratiwi Nur Zamzani


“Fel, lo bisa nyangka nggak tentang penyakit pasien kita yang saat ini,?” tanya Riska di tengah makan siang mereka.
“Entahlah... kita tunggu aja konservasi dari kepala kedokteran.”
“Lah, kan lunya kepala juga.”
“Tapi, kan gue kepala operasi. Bukan bagian begituan!,” jawab Felly dengan tetap menyantap dagingnya yang sedap.
“Eh, katanya sih kita bakalan manggil dokter dari Jerman. Dia, juga pernah studi di sini. Maksudnya, magang gitu.”
“Oh...”
“Kalau nggak salah, namanya Prof.Dr.Arkana Aditya. Yah.. itu!,” kata Riska dengan mata yang menyala ke atas. Seakan, ia mengingat betul apa yang ada di dalam pikirannya.
Sejenak, Felly mengehentikan gerakan pisaunya. Mengangkat alisnya dengan menatap tajam makanan yang ada di depannya. Seakan, ia mengingat sesuatu.
“Halo?!,” ucap Riska saat ponselnya berbunyi.
“Hah?! Sekarang Bram? Serius? Ok-ok gue akan ke sana sekarang. Billy udah siapkan ruangannya kan?!”
“Iya cepatlah ke sini!,” jawab Bram dari seberang sana.
“Kenapa, Ris?”
“Dokter dari Jerman datang sekarang. Dan, kita semua belum persiapan. Tadi, Bram dapat telfon dari Billy. Katanya, Dokter itu akan sampai 15 menit kemudian.”
“Hah?!!! Gila!,” kata Felly dengan bergegas meninggalkan kantin.
Mereka berdua lari untuk menuju ke tempat rapat. Tentunya, dengan nafas terengah ia sampai saat persiapan sudah akan dimulai.
“Billy, Sorry!,” keluh Felly.
“Ok! It’s nothing. Bantu bagian penyajian aja Fel. Mumpung waktunya kurang lima menit.”
“Oh ya Fel, sebelum lo keluar! Bisa pegang ini bentar nggak?,” tanya Bram dengan menahan kabel yang dibawanya.
Tanpa menjawab, Felly datang ke arah Bram dan membantu. Karena merasa lama, Riskapun menggantikan posisi Felly yang membantu Bram. Yah.. itulah mereka. Felly Anggi Wiraatmaja, Bram Salesvegas, Billy Leonard, Riska Cintya Ariska adalah sahabat yang akrab sejak mereka magang di RS itu. Bahkan, mereka mendapatkan jabatan mereka masing-masing sesuai dengan kemampuan mereka.
“Halo?,” tanya Billy.
“Baik, Pak. Semuanya sudah siap!,” lanjutnya tegas. Lalu, mentup telfonnya.
“Guys, Dokter Arka sudah datang. Dia sudah sampai di lift. Kita harus keluar ruangan untuk menyambut dia. Ayo!,” ucap Billy tenang dengan meninggalkan ruangan. Dan, tim persiapan mengikutinya dari belakang.
Tak lama menunggu, orang yang ditunggu telah datang. Semuanya berjalan lancar sesuai dengan rencana. Tinggal rapat perundingan untuk menemukan vaksin dalam proses penyembuhan pasien Felly.
“Apakah ada pendapat lain tentang hal ini?,” tanya Dokter Arka yang sedang memimpin.
“Pembedahan ulang dengan melakukan obsevasi dan pencatatan kondisi pasien?,” usul Felly.
“Tes darah atau ronksen organ dalam pasien?,” lanjuta Riska.
“Apakah sebelumnya sudah pernah melakukan pembedahan?”
“Belum, Dok. Karena, kami masih takut untuk melakukan hal itu. Penyebabnya adalah keluhan pasien tentang panas badannya. Pasien mengeluh bahwa badannya terasa panas setelah meminum jus jeruk. Namun, berubah menjadi dingin saat ia mendapatkan sentuhan di pahanya saat perawat melakukan pengobatan ke ruangangannya,” jelas Felly melaporkan.
“Bagaimana tes darahnya?”
“Negatif untuk pemakai narkoba, Dok. Dan, kita sudah melakukan te darah sebanyak tiga kali.”
“Ok. Cukup! Siapakah pemegang pasien ini?”
“Saya Dok!,” ucap Felly tegas dengan mengacungkan sebelah tangannya.
“Siapa namamu?,” tanya Arka dengan mengerutkan dahinya dan juga mengangkat sebelah alisnya.
“Felly Anggi Wiraatmaja.”
“Ikut saya ke lab sekarang!”
“Baik, Dok!,” jawab Felly dengan mengikuti langkah Prof. Arka.
Sesampainya di sana, Felly memberikan laporan yang diminta oleh Prof. Arka. Termasuk laporan percobaan Felly saat ia telah menemukan vaksin itu. Tapi, masih ragu untuk mencobanya. Setelah melihat wujud vaksin itu, Prof. Arka melakukan pemisahan molekul yang ada di dalamnya. Hingga, ia mengerutkan dahinya.
“Apa yang kamu lakukan, Felly!!!,” bentak Prof. Arka.
“Maaf. Tapi, saya melakukan hal itu karena selama saya dalam proses percobaan hanya itu yang bisa menyerap panas dalam suhu yang tinggi.”
“Apa kau gila dengan menggunakan darah manusia dengan memisahkannya antara sel darah merah dan darah putih? Apakah kau menganggap bahwa pasienmu adalah kanibal? Sehingga, kau menggunakan metode ini dalam pengobatannya?!”
“Tap i...”
“Felly, aku tahu kalau kau sangat menyayangi pasien dan juga orang-orang sekitarmu. Bahkan, kau relah meninggalkan cintamu demi mereka. Tapi, tidak seharusnya kau memaksakan kehendakmu dengan cara seperti ini. Hal ini akan berbahaya bagi mereka.”
Seketika air mata Felly mengalir begtitu deras. Sehingga, mengundang jari Prof. Arka untuk menyeka air mata itu. Dan...
“Apakah yang kau maksud adalah Prof. Arka?,” tanya Bram dan Billy setelah mendengar penjelasan Prof.Arka.
“Ya! Aku adalah lelaki yang pernah Felly siksa. Dan itu adalah alasanku untuk pergi ke Jerman! Sebagai gantinya! Aku ingin kalian membantuku dan menyiksa Dr. Felly Anggi Wiraatmaja yang cantik!,” katanya mengintimidasi dengan melangkahkan kakinya untuk menuju ke mikroskop yang berada di samping mesin pembuatan obat.
Namun, sebelum Prof. Arka memulai pembuatan vaksin, ia menerangkan kepada seluruh tim tentang metode pembuatan dan juga bahan-bahannya satu persatu serta tugas mereka masing-masing.
Entah apa yang membuat kaki Felly terasa berat saat ia akan melangkahkan kakinya untuk mengetes bahannya terlebih dahulu. Sehingga ia hanya terdiam membeku dalam ruangan lab yang dingin karena AC. Tidak. Karena tatapan Arka yang tidak henti-hentinya menerka Felly. Seakan, ia akan memakan Felly mentah-mentah.
“Haruskah aku mengantarmu untuk ke ruanganmu mencari berkas tentang ini?,” tanya Arka.
Felly hanya terdiam.
“Felly...,” sapanya rendah.
Felly tetap terdiam.
“Felly!!!!,” bentak Arka.
Felly tetap terdiam dalam aliran matanya. Sehingga, Prof. Arka membawanya keluar. Menggeretnya untuk mengikuti langkahnya. Bukan ke ruangan Felly. Melainkan, ke tempat ituu. Yah... taman RS yang menjadi saksi perpisahan mereka.
“Kenapa kau begitu membuatku gila, hah? Apakah belum cukup kau meninggalkan demi ini?!,” kata Arka dengan memegang nadi Felly.
“Karena aku tidak siap harus menghancurkan karirmu karena kemesraan kita! Jika memang segalanya telah berkhir aku benar-benar mengakhiri segalanya, Arka!”
“Tch! Kau sama saja seperti dulu! Keras kepala! Dan, egois! Aku akan mempertimbangkan. Setelah, vaksin ini selesai. Dan, aku akan menyelesaikan vaksin ini secepatnya! Karena, aku tidak akan membiarkan kau menunggu seperti aku yang selalu menunggu!,” katanya tegas dengan meninggalkan Felly yang masih berdiri memandang bunga taman dengan tatapan matanya yang sembab dan bengkak setelah menangis. Entah apa yang membuatnya hingga menjadi anak kecil seperti itu. Tapi nyatanya, di balik itu semua mereka saling merindukan dan menutupinya dengan harga diri yang begitu mahal.
Setelah kejadian itu, mereka semua bekerja keras untuk menyelesaikan vaksin itu. Bahkan, Arka rela untuk tinggal di indonesia setelah ia menjadi kewarganegaraan Jerman untuk melupakan cintanya. Akan tetapi, siapa  yang bisa menghindari takdir saat takdir itu sudah memihak untuk sebuah pertemuan. Meski, waktu itu sudah berjalan begitu lama. Ibarat batu. Batu itu sudah penuh dengan jamur.
Mereka memutuskan untuk meyelesaikannya dengan campuran berbagai bahan kimia obat-obatan. Akan tetapi, semua gagal saat Felly menemukan faktor yang membuat pasien begitu kepanasan. Saat ia tidak sengaja menyentuh lengannya dengan gesekan yang halus dan lembut. Dan, setelah itu ia melihat rekasi pasien.
Hal tersebut membuat Prof. Arka heran. Sehingga, ia turun tangan untuk melihat kondisi pasien dan mencocokkan dengan laporan yang sudah ada. Dan, semua datanya benar. Tinggal penyelesaiannya saja. Prof. Arka mengambil sample darahnya. Berharap, dengan pengulangan tes darah maka semuanya akan keluar.
Dalam sehari, mereka menyelesaikannya hingga lupa waktu untuk makan siang dan juga sore. Namun, hasilnya sebanding dengan usaha yang mereka lakukan. Mereka menemukan pengebabnya. Dan, hal tersebut tidak di ketahui oleh para tim Dokter Peneliti karena penyebabnya adalah kelebihan obat. Bahkan jikalau mereka hanya melihatnya dengan mekroskop tanpa memberikan efek yang sama pada darah manusia lain, mereka tidak akan menemukannya.
Dan, hasilnya menunjukkan bahwa pasien telah overdosis terhadap obat perangsang. Dan, obat perangsang tersebut menimbulkan evek samping apabila hasratnya tidak terpenuhi. Bahkan, semuanya akan hilang saat ia benar-benar telah terpenuhi meski tenaganya telah terkuras habis. Obat itu berasal dari Irlandia. Bahkan, obat perangsang produksi mereka mengalahkan milik Inggris ataupun Jerman.
Setelah mengetahui hasilnya, Arka menepati janjinya dalam memberikan keputusan yang sudah dijanjikan olehnya kepada Felly. Tentunya, dengan memberikan Felly keleluasaan untuk memilih keputusan.
Dan, hal tersebut telah membuat mereka bahagia setelah mereka tahu bahwa cinta mereka telah tertutupi oleh keegoisan mereka dalam mempertahankan harga diri. Tentunya, dengan kebohongan.
Kebohongan. Setiap kebohongan pasti akan menyakitkan. Dan kebohongan akan menghancurkan segalanya. Oleh karena itu, katakanlah yang sejujurnya meski itu menyakitkan.



















Biodata Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...