Skip to main content

Lembayung Pagi

Lembayung Pagi
Pratiwi Nur Zamzani


“Felly! Tunggu!,” seru Bram  yang masih mengejar Felly di tengah kobaran hati Felly.
Felly terus berjalan meninggalkan Bram. Namun, langkah kakinya tehenti saat ia melihat hal yang selalu ia dambakan selama ini. Meski, hal tersebut bukan atas kemauannya. Melainkan, hatinya yang terus memaksa. Bahkan, saat ia membulatkan niatnya untuk meninggalkan cinta, bayangan, serta kenangan masa lalunya. Semakin ia terjerat oleh itu semua.
“Felly dengerin gue bentar, Fel!”
Suasana taman sekolah begitu sepi. Mengingat semua area di strerilisasi oleh pihak OSIS karena acara HUT sekolah. Taman yang penuh dengan udara dingin dan juga kicauan burung itu telah membawanya membeku dalam pikajan kaki saat bola matanya menerobs terawang itu. Berusaha menjelajahi isi hati dan berbicara dengan hati itu.
“Kenapa lo masih mengharapkan orang yang belum tentu mengharapkan lo, Fel?! Dia hanya bisa menyiksa lo dengan partitur musik serta lirik lagu yang lo buat! Dia udah mengubah jati diri lo, Fel! Dia nggak pernah ada di samping lo, Fel! Kenapa lo terus kayak gini, sih?!,” bentak Bram di kala Felly berusaha untuk berbicara dengan hati orang itu.
Seketika Felly membalikkan tubuhnya ia menatap mata Bram dengan tajam.
“Karena gue cinta sama dia! Dan lo nggak berhak melarang gue untuk mencintai siapapun?! Walaupun, lo menyayangi gue! Sekalipun itu cinta lo lebih besar dari dia! Saat kita benar-benar mencintai, nggak bakalan bisa berpaling meski sebaik apapaun orang lain kepada kita! Dan asal lo tahu, semua lirik lagu dan juga partitur musik yang lo bawa sekarang, itu adalah hasil dari gue mencintai dia! Nama gue sebagai singa liar, itu karena dia! Meskipun, gue nggak kenal siapa diri gue saat berpegangan dengan gitar. Yang gue ingat hanya senyumnya, suara lembutnya, dan juga tatapan sayunya. Karena, gue bermain untuk dia! Lo nggak ngerti gimana rasanya cinta. Karena, lo mencintai orang itu bukan berdasarkan hatinya. Melainkan, hanya sebatas psikologi batin!,” jelas Felly panjang lebar.
Bram hanya terdiam dan termangu dengan kaki dan mulut terbungkam yang membeku setelah mendengar hal tersebut. Sehingga, ia membiarkan Felly berjalan meninggalkan dia dengan rasa amarah setelah kejadian di studio, hanya karena lagu. Yah... lagu yang selalu ia nyanyikan setiap di atas panggung. Dan, itu bukan untuknya. Melainkan, dia. Arkana Aditya. Dalam artian, cemburu. Itulah nyatanya.
Felly Anggi Wiraatmaja. Itulah nama yang diwariskan kepada Felly oleh kedua orang tuanya. Sifatnya yang dingin, terpepak oleh beban pikiran dimanapun ia berada, pekerja keras, ambisius, namun tombak bagi orang-oraang yang ada di dekatnya. Tapi, hal tersebut sebelum ia bertemu dengan Arka.
 Jika saat ia bertemu dengan Arka, orang yang melihatnya tidak akan pernah mengenali Felly dengan model seperti itu. Setajam apapun mata Felly seperti singa. Jika mata itu melihat sosok Arka, seketika mata itu akan berbinar dengan sinar. Menari dan berjalan seperti roller coaster. Bila saat itu ia bermain gitar, maka seluruh kemampuannya keluar. Bahkan, ia dapat memainkan gitar dengan lagu baru yang diciptakan, dan nada yang baru tanpa sketsa terlebih dahulu.
 “Felly!,” ucap seseorang saat Felly berjalan di depannya.
Fellypun berhenti tanpa menoleh ke arah orang itu. Iapun terus berjalan menghindari orang itu. Namun, orang itu tetap menghentikan Felly dengan menarik tangan Felly.
“Jikalau kamu mencintaiku, apakah begini caranya? Menghiraukan aku berpedoman aku adalah penyemangat kamu untuk berkarir. Jadi itu, alasan kamu tidak memperhatikan aku selama aku masih bisa bersamamu? Sedangkan, aku tidak membutuhkan singa liar seperti itu. Tapi, aku hanya membutuhkan cinta yang tulus dan juga perhatian darimu? Apakah kamu menganggap, hubungan kita waktu itu sebagai perlombaan untuk sesuatu hal yang tak bisa dicapai oleh orang lain? Sedangkan, aku mau menerima kekurangan kamu!”
“Stop, Arka!!!”
“Apa kamu bilang? Stop?!!! Seharusnya kamu yang berhenti, Fel! Aku nggak butuh Felly yang sekarang! Aku butuh Felly yang dulu! Gadis lembut yang selalu manja setiap malam! Bagaimana aku bisa bersamamu setelah kamu seperti itu?! Berarti, keputusanku benar untuk meninggalkan kamu. Karena, semakin aku dekat dengan kamu, semakin kamu keras melakukan hal itu. Dan, semakin aku menjauh kamu akan terus melakukan itu. Aku harap, kamu kehilangan energi itu.”
“Tch, semakin kamu meninggalkan, semakin aku keras, semakin kamu berlari, semakin kencang aku mengejarmu. Bagiku, cinta bukanlah hal yang hanya bisa dilakukan dengan berbagi perasaan atau yang lainnya. Melainkan, menjadikannya sebuah tantangan dalam segi kehidupan. Memanfaatkannya dengan baik. Mengingat, hidup hanya sekali dan cinta hanya teranugerahkan sekali. Saat kita tidak bisa melalukan hal untuk mencintai dia, setidaknya kita bisa memberikan bukti bahwa kita mencintai dia sekalipun dia membenci tindakan tersebut. Cinta nggak harus sama, Ka. Dan cinta, lebih erat karena perbedaan. Disanalah tempat kita untuk melawan perbedaan. Memadukan perbedaan menjadi persamaan. Semakin kita mencintanya, semakin jatuh kita saat kehilangannya. Dan, jika hal tersebut terjadi. Bukankah kita harus menyimpam sesuatu yang berhubungan dengannya meski sebuah presentase perbedaan paling besar?! Mencintai, lebih berwarna!”
Cinta. Setiap orang memiliki definisi cinta yang berbeda-beda. Namun umunya, cinta adalah anugerah. Baik saat mencintai maupun dicintai. Tidak ada yang lebih unggul dalam definisi antara mencintai dan dicintai. Keduanya sama. Hanya saja, pemikiran yang membuatnya berbeda.
Mencintai, sebagian orang memilih untuk mencintai. Dengan begitu, saat orang yang kita cintai meninggalkan kita bukan karena kehendaknya, kita bisa membuktikan cinta kita dengan berpacu untuk membuatnya semakin bangga. Entah itu dengan kemampuan yang belum pernah ia lihat  sebelumnya selama bersama kita, atau hal yang lainnya. Namun, dengan mencintai kita bisa menjadikan sesuatu lebih berwarna, menantang, dan juga menjadikannya sebagai obyek untuk mencapainya. Dalam artian, cinta itu buta. Dengan cinta kita tidak peduli dengan tantangan. Dengan begitu, kita bisa melakukan sesuatu dengan cara positif atau negatif. Dan itu, tergantung dengan indivual masing-masing. Karena, hidup adalah sebuah pilihan meski permainan.



Biodata Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui  akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085 – 852 – 896 – 207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan buku antologi.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...