Skip to main content

Fly For Winged


Fly For Winged
Pratiwi Nur Zamzani


“Mama, Mama. Aku ingin terbang seperti itu. Peri cantik!,” ucap Felly kecil yang tengah melihat Peri Riska terbang untuk melawan Raksasa jahat. Yah... Raksasa yang biasa mereka sebut dengan Titan. Raksasa yang suka memakan anak-anak. Terutama, anak-anak yang keluar pada siang hari untuk bermain. Bukan istirahat siang.
“Jikalau kau ingin terbang sepertiku, maka peluklah impianmu sayang. Dengan kau yang pintar, cerdas dan juga baik hati kau akan bisa terbang sepertiku. Indah dan manis,” ucap Riska saat ia telah turun ke Bumi. Tepat di depan Felly kecil dan Mama Felly yang tengah ketakutan karena raksasa tadi.
“Aku sudah belajar dengan rajin. Tapi kenapa aku masih belum bisa terbang?”
“Karena, kamu masih berbohong kepada orang tuamu, manis. Tadi, kamu bilang akan tidur dan berjanji akan memenuhinya. Namun, kamu malah ingkar dengan janji yang kamu ucapkan sendiri. Sayang, peri itu harus baik hati, jujur, dan juga amanah. Bukan berbohong dan juga berkhianat.”
“Ohhhh begitu. Bisakah aku terbang sekarang?”
“Untuk saat ini, cukup dengan usaha keras dan berdo’a. Lakukanlah hal-hal kebaikan. Terutama membantu sesama dengan hati yang ikhlas. Disanalah kau akan membentuk sayap secara perlahan.”
“Sayap? Wahhhhhh.... hebat...!!!,” ucapnya riang.
“Yah... sayap yang akan menjadikanmu bermanfaat bagi orang lain. Nusa, Bangsa, dan agama.”
“Baik peri. Aku akan melakukan apapun yang kau katakan. Dada peri cantik... Sampai jumpa lagi...,” ucapnya riang saat melihat Peri Riska yang mulai naik ke atas dengan sayapnya. Dan, menghilang seperti kerlapan bintang.
“Mama, ayo pulang! Felly mau makan ayam goreng!,” ucap Felly kecil dengan senyuman lucunya.
Anjani meninggalkan tempat itu bersama dengan putrinya. Mereka berjalan dengan riang menuju ke rumah. Sesampainya di rumah, Felly kecil berkicau lucu tentang peri Riska yang bisa terbang. Ia juga kerap berulang kali berbicara tentang cita-citanya sebagai dokter.
Yah.. sesuai dengan yang dikatakan oleh Peri Riska. Felly kecil akan bisa terbang seperti peri Riska saat ia telah menjadi anak yang baik, pintar dan juga rajin. Dari sanalah Felly kecil mulai mematuhi perintah ibunya. Saat ia disuruh makan maka ia akan makan. Padahal, biasanya makan adalah hal yang nomor seratus dari kamus Felly. Hingga badannya terlihat begitu kurus dan kecil.
Tidak hanya itu saja. Sejak saat itu, Felly juga mau tidur siang. Mandi air dingin, dan mandiri. Terlihat saat ia mulai menggunakan seragam sekolahnya sendiri. Meskipun, tidak sepenuhnya benar dan rapi. Akan tetapi, hal tersebut menunjukkan kemajuan dalam hidupnya. Sikap sosialisasinya juga semakin membaik. Ia juga selalu berkata jujur kepada siapapun.
Dulu, Felly begitu bandel dengan guru Tknya. Sampai-sampai guru Tknya menangis karena harus menangani Felly yang bandel dan super duper lincah. Tapi sekarang, ia bisa memahami lingkungan sekitarnya. Peduli dengan sesamanya dengan cara berbagi bekal yang ia bawa dan apapun yang ia punya.
Beberapa hari kemudian, Felly bertemu dengan peri Riska. Ia menceritakan semua peristiwa dan apa yang telah tejadi. Sesekali, ia bertanya tentang sayap. Dan lagi-lagi jawaban yang diberikan oleh Peri Riska sama dengan sebelumnya. Fellypun menerima dengan ringan dan riang.
Kemudian, merekapun berpelukan dengan lembut dan penuh dengan kasih sayang. Dan Felly terus berusaha untuk melakukan apapun yang dikatakan oleh Peri cantik. Meskipun, semuanya terasa begitu sulit. Karena, tidak ada yang instan di dunia ini. Dan juga tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Selama, kita mau berusaha dan berdo’a dengan penuh keyakinan.




BIOGRAFI
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...