Skip to main content

Kaca Cinta

Kaca Cinta
Pratiwi Nur Zamzani


 “Fel, salah melulu dari tadi!,” bentak Bram saat Felly salah memetik senar gitarnya untuk kunci G.
“Maaf, Bram gue nggak sengaja,” jawab Felly cemas setelah ia teringkat dari bentakan Bram.
“Ada masalah, Fel?,” tanya Riska yang tengah memperhatikan Felly dengan raut wajah yang bercampur aduk. Antara bingung, cemas, kawatir, dan juga takut.
“Cerita kenapa, Fel? Daripada kayak begini. Jadi masalah juga kali buat kita semua. Lonya jadi nggak konsen,” sahut Billy dengan memetik senar bazznya perlahan.
Felly menatap rekan-rekan bandnnya satu-persatu. Menatap mereka dengan sendu. Mengeryitkan dahinya. Seakan, memberi tahu mereka bahwa hatinya tengah perih merasakan kehidupannya.
Felly Anggi Wiraatmaja. Gadis dengan tallent vocal dan juga kemampuannya untuk bermain gitar. Disertai wajah ayu, berfasilitas mata bersudut lancip, bulu mata yang lentik, alis yang samar, hidung mancung dengan standart, serta bibir yang bergaris tipis antara atas dan bawah. Masalah tinggi, ideal dengan bentuk tubuhnya.
“Bram, Bil, menurut kalian, gue cantik nggak,?” tanya Felly konyol kepada rekan temannya.
Bram dan Billy dan bertatapan. Mengedikkan bahunya. Menggeleng menanda tak mengerti.
“Tumben ngurusin masalah kecantikan, Fel? Abis kena setan mana, lo?,” tanya Riska dengan mengangkat salah satu alisnya dan tetap bertumpu pada pianonya.
“Kalau menurut gue, cantiknya enggak. Imut yang iya. Kenapa? Karena giginya taring lo, dan lesung pipi lu, serta bibir lu yang mungil tipis itu,” jawab Billy.
“Kalau gue sih, yang menarik mata lu Fel. Lirikannya, seksi-seksi gimana gitu? Emangnya ada apaan sih sama lo, tiba-tiba nanya begituan. Perasaan, lo paling ogah sama yang begituan!,” jawab Bram dengan melipat kedua tangannya di depan dada setelah meletakkan stik drumnya.
“Arka selingkuh! Sama temen sekelasnya! Gue kurang apa sih sama dia? Kurang cantik? Gaul? Kurang sispres (Siswa Berprestasi)? Maunya dia apaan sih?”
“Mungkin karena tomboy!,” jawab Riska.
“Kalau masalah begituan, udah basi. Tahu gitu ngapain nembak dan mau ngejalanin hubungan selama ini?!”
“Mungkin, karena lo kurang perhatian sama dia, atau mungkin lo sibuk dengan dunia dan urusan lo sendiri. Padahal, di saat itu, Arka butuh sentuhan lo! Bisa juga, lunya terlalu mengekang dia. Over Ptotect gitu. Padahal, lo sendirinya juga nggak begitu. Mungkin aja karena faktor begituan!,” sahut Bram manggut-manggut.
Felly terdiam setelah mendengar perkataan teman-temannya. Memandang gitarnya beberapa detik. Lalu, melangkahkan kakinya keluar studio. Berjalan menuju atap sekolah. Mengirup angin yang menerpa dirinya. Dalam kesunyian senja ia berdiri. Menatap keramaian kota yang penuh dengan lampu pijar. Menengadah pada senja. Berkata dalam bisu. Berteriak dalam tangis, dan menyesal dalam sendu.
Mengingat semua perkataan rekannya, Felly merasa mereka benar. Selama ini, Felly selalu mengabaikan Arka. Padahal, diwaktu itu Arka membutuhkan Felly. Saat Arka mengucapkan kata manja kepadanya, Felly selalu menampisnya dengan kata olokan. Saat Arka menghubungi Felly dan menyatakan rindunya, Felly sering mengabaikannya. Menganggap, hal itu adalah kata gombal semata. Padahal sebaliknya.
Tangis yang begitu berderu bersama angin, membayangkan wanita itu. Yah... wanita yang bersama dengan Arka sekarang. Perbandingan fisik dan kemampuan mereka memang jauh berbeda. Sangat jauh. Akan tetapi, saat melihat mata wanita itu, Felly merasakan rasa kasih sayang seorang ibu di dalam sana. Teduh, damai dan penuh kehangatan. Jauh dengan dirinya yang hanya memiliki bentuk mata yang indah, dan lirikan mata yang seksi.
Felly terus berfikir tentang Arka. Ia merasa sangat bersalah saat mengingat perbuatannya terhadap Arka. Menyia-nyiakan cinta dan kasih sayang arka yang begitu tulus. Mengingat namanya dan juga suaranya, Felly bertekad untuk pergi. Meski, hal itu menyiksa dan juga menyakitinya. Ia sadar, cinta yang sesungguhnya tidak memandang berdasarkan fisik, kemampuan atapun hal yang lainnya. Melainkan, memandang kelemahannya. Mengorbankan kebahagiaan untuk orang tercinta, adalah bukti dari cinta ketika sedang mencintai. Dengan begitu, Felly bertekad pergi dan memberikan kebahagiaan kepada mereka. Dengan, menyerahkan hubungan cinta kepada wanita itu dan dia. Yah... Arkana Aditya. Laki-laki telah menggores seribu kisah dan pelajaran hidup untuk Felly.


Biodata Penulis

Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085 – 852 – 896 – 207. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM serta berbagai buku antologi lainnya.


Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...