Skip to main content

Sudut Dalam Antara

Sudut Dalam Antara
Pratiwi Nur Zamzani



Hujan terus mengguyur kawasan kota. Embun dan tetesan air, mengihiasi jendela ruangan itu. Yah.. sebuah ruangan yang telah menjadi sahabat bagi gadis berusia tujuh belas tahun. Remaja belia dengan karir yang gemilang. Ia selalu berkarir di atas panggung, di depan kamera, dan juga layar lebar.
Felly Anggi Wiraatmaja. Gadis cantik dengan mata yang elok. Iris matanya, mengisahkan kisah ratu singa yang begitu kejam dalam memimpin. Sudut matanya, seperti mata elang yang begitu tajam. Bibir mungilnya, seperti Dewi Nirmala sang penguasa jagad raya. Kaum Adam adalah prajurit yang siap menjaga hatinya meski Felly sudah mampu menjaganya. Jauh di ruang hatinya yang gelap, ia ingin satu lentera yang bisa memberikan setitik cahaya untuknya. Dan... tibalah saat itu.
“Felly! Ini lagu yang udah gue perbaiki bagian ini, sisanya dipegang sama Billy dan Riska,” jelas Bram yang memasuki ruangan kerja Felly dengan menyerahkan seberkas partitur musik untuk masuk keluarnya drum dalam sebuah lagu yang akan mereka pentaskan di malam puncak penentuan band terbaik di masa itu.
“Billy sama Riska dimana?,” tanya Felly dengan melihat beberapa not angka yang sudah diciptakan oleh Bram.
“Mereka masih perjalanan,” ucap Bram.
“Fel! Ini ada berkas baru dari Diandra. Katanya dia nggak bisa datang hari ini untuk menjelaskan karena dia ngrusin show kita tiga hari ke depan,” jelas Billy dengan memasuki ruangan Felly dan memberikan map berwarna coklat.
Felly masih terfokus dengan pekerjaan Bram. Sampai akhirnya, Bramlah yang melihat isi map coklat itu dan menjelaskan ke Felly sampai kedatangan Riska membuat heboh suasana santai di sana.
“Guys! Ada kabar baru nih! Gue kata anak-anak band yang lain! Tadi waktu di gerbang, gue ditunjukin kalau ada pengumuman baru, dan semua orang pada bingung,” kata Riska dengan nada khawatirnya.
“Ada apaan sih?,” tanya Bram dengan mengambil ponselnya dan menyalakan paket data untuk melihat pengumuman yang diumumkan di grup studio musik itu. Karena kebiasaan Pro Techno adalah, ponsel hanyalah tempat untuk mencoba musik yang mereka ciptakan, dan pengingat agenda untuk mereka.
“Setiap band harus menampilkan dua lagu dengan penampilan berbeda. Satu grup, dan satu lagi solo. Salah satu lagu harus murni penciptaan, bukan aransement atau saduran,” jelas Riska.
“Apa lo bilang?! Waktu tiga hari mana cukup buat bikin lagu? Komposisi aja belom tentu jadi. Paling-paling juga hanya penemuan deskripsi, isi, dan genre doang,” jelas Billy.
“Toh, siapa juga yang bakalan maju?! Band lain udah masuk ke tahap itu belom?,” tanya Bram ikut khawatir.
“Mereka ada sebagian yang kebut malam dari sekarang. Dan, ada pula yang sudah jadi,” kata Riska menjelaskan.
“Sial!,” decah Bram kesal.
“Lo kayak nggak tahu mereka aja sih, Bram.Informasi di sini mah limited banget. Apalagi masalah beginian, budget pemenang aja bisa beli kompleks perumahan elit. Ya nggak ada yang mau ngalah, lah!,” ucap Billy.
Merekapun terdiam. Memikirkan bagaimana caranya untuk mencapai target yang harus mereka penuhi dalam waktu yang singkat seperti itu. Sampai akhirnya, pikiran mereka terpecah saat Felly memberikan pengarahan mengenai kesalahan yang harus Bram perbaiki. Begitu juga dengan Felly yang meminta hasil  pekerjaan Billy dan Riska.
Untuk menyingkat waktu, Felly beranjak dari tempat duduknya. Mengajak teman-temannya untuk langsung masuk ke latihan dan menggabungkan seluruh lagu. Karena benar saja, otak Fely dapat dikatakan berlian yang berkilau di antara berlian-berlian yang lainnya. Harganyapun lebih mahal apabila ditentukan dari hasil show mereka apabila mereka melakukan kemampuan individu untuk mendapatkan penghasilan sebagai ceperan.
“Bil, Ris. Buku lo taruk sini deh! Gue lihat bentar,” kata Felly juthek.
  Billy dan Riska menyerahkan buku itu. Fellypun duduk di kursi kebangaannya. Ia meraih gitarnya. Mencoba dalam pembukaan menggunakan gitarnya. Kemudian, disusul menggunakan milik Billy dengan sedikit sentuk bazz di sana. Kemudian, Riska masuk bersama dengan Bram.
Felly tersenyum mendengar hasilnya. Tapi, keningnya berkerut hingga membuat Billy dan Riska menggigit bibir bawahnya. Di dalam hatinya, ia berharap kesalahan yang mereka lakukan tidaklah mengharuskan mereka untuk mengubah separuh hasil kerjanya. Meskipun, usaha mereka sudah ditargetkan oleh Felly untuk meraih seluruh piala yang ada untuk setiap kategori.
“Lo benerin bagian ini dan Riska bagian ini.Kasih gue nada lagus edikit keras. Biar punya gue aja yang rendah, sisanya kita akek keras tapi jangan kelebihan kayak musik rock. Dan tadi, Bram map coklat. Itu , ada apaan?,” ucap Felly sebagai kapten.
“Ada show sebelum kita ada di malam puncak. Hasilnya, lumayan ok lah!,” kata Bram menjelaskan.
“Enggak, ada hal yang harus gue urusin! Kita fokus sama ini aja dulu.”
“Tapi kita udah punya cadangan lagu buat solo kok, Fel!,” kata Billy.
“Enggak, itu udah basi! Gue enek dengernya. Meskipun paling laris albumnya di pasar, gue nggak mau pakek itu,” jelas Felly.
“Kita bikin lagi?,” tanya Riska.
“Iyalah! Lo pikir?,” ucap Felly dengan beranjak dari tempat duduknya. Ia kembali ke ruangan.Mengunci ruangannya.
“Itu anak..,” kata Bram terputus saat Billy menghalangi jalannya.
“Jangan ganggu dia, kita lihat aja apa maunya dia! Tenangis diri lo, gue akan coba buat bicara sama dia!,” jelas Billy.
Bram menghembuskan nafas beratnya. Hatinya terasa ingin menghabisi Felly sampai ia tidak mampu untuk berbicara. Bagaimana tidak? Sikap Felly benar-benar membuat Bram jengkel. Memang, Felly yang mereka kenal seperti itu. Tapi untuk kali ini, dinginnya Felly benar-benar berbeda dari biasanya. Sangat berbeda.
***
Felly duduk di kursinya dengan kedua ibu jarinya yang menekan pangkal alisnya. Keningnya yang berkerut terasa begitu sakit hingga ia mengeluarkan air matanya. Dadanya terasa begitu sakit hingga ia merasa, ia tak mampu untuk bernafas. Jantungnya, terasa terhenti saat pikirannya terus mengingat deretan tulisan dan telinganya yang mendengar suara yang sudah tak mampu atau bahkan tak dapat terdengar lagi.
Sudut mata Felly menangkap bayangan sebuah benda yang tergeletak tak jauh dari pandangannya. Ia meraih benda itu dan meremasnya dalam genggamannya. Felly menengadahkan kepalanya, menatap atap-atap ruangan yang putih. Ia berharap orang itu hadir saat ini dan menghapur air matanya. Tapi, semuanya sudah tidak mungkin lagi. Ia telah pergi.
Felly menegakkan tubuhnya menatap kalung jangkar dan dog tag sebagai janji saat semuanya telah berakhir. Dan benar. Semuanya telah berakhir. Sebuah kisah yang selal ia tulis dalam melodi musik sebagai ungkapan hatinya, dan sebuah kisah yang selalu menjadi sejarah dalam hidupnya karena ia telah menemukan lentera itu.
Tapi, lentera itu telah menghilang. Hanya tersisa sebuah kalung dan dog tag yang bertuliskan namanya dan siap menjadi tombak yang selalu menusuk jantung Felly hingga membuat Felly terpaksa menangis dalam raungan diamnya hanya untuk mengenang wajah teduhnya, senyuman menyebalkannya, dan juga suara lembutnya yang mempu membawa Felly dalam tidur hingga ia tak ingin untuk terbangun kembali.
Brilliandi Arka Pramana. Yah.. laki-laki misterius yang tak mau memberitahukan keberadaannya dimana, ia sedang apa, atau apakah ia sudah makan. Yang selalu ia tanyakan kepada Felly hanyalah dua hal, ‘Apakah kau merindukan aku?’ dan ‘Apakah aku ada dalam mimpimu’. Dua kata sederhana yang mampu membuat Felly terjatuh dalam jurang yang tak mampu untuk membuatnya bangkit.
Isak tangis terus menderu di ruangan sunyi itu. Dingin dan mencekam hingga Felly tak mamp menatap deretan tulisan yang telah menyatakan bahwa itu adalah surat terakhir darinya. Ia telah pergi di tengah ombak lautan dan membela negaranya. Terhanyut dalam pelukan Tuhan Yang Maha Esa dan meninggalkan sejuta kenangan dalam setitik kuasa hati untuk terus merindukan meski hati sudah tak mau mengingat atau bahkan mengenang dirinya.
Namun, apalah daya saat semua kenangan itu telah tertancap tajam dalam benak pikiran daan hati Felly. Seperti sebuah paku yang tercabut dengan keras meski luka telah mengering, selalu ada bekas yang siap menjadi percikan luka untuk membuat luka yang basah dan tak mudah untuk kering. Begitu nyeri dan sakit saat Felly harus kembali dalam tangisan yang seharusnya hanya menjadi jejak kisah cintanya dengan laki-laki itu. Brillian.
***
Felly menatap dirinya yang telah berlebur dengan make-up natural dengan ketajaman mata yang siap berkilau di atas panggung. Untuk pertama kalinya, ia memaksa dirinya untuk kembali dalam renungan untuk memakai benda itu. Benda yang tajam. Setajam kenangan dalam sebuh lirik itu.
Dengan hembusan nafas beratnya, Felly mengenai kalung jangkar dan dog tag yang menandakan kepemilikan Brillian. Ia mengenakan benda menyakitkan itu untuk meraih impiannya di atas panggung. Dengan awang-awang nyawa Brillian yang siap menyakiti Felly yang meneskan air mata meski bayangan Brillian tersenyum dengan seragam kebanggaannya dan pedang yang siap membawa mereka dalam upacara pedang pora.
“Fel! Kita tampil pertama. Maaf, kita nggak bisa memberikan lagu solo untuk banda kita. Kemungkinan kecil kita...”
“Lupakan. Ayo tampil!,” kata Felly tajam saat Riska menghampirinya dan hendak menjelaskan kekurangan show kali ini.
Di atas panggung, Pro Techno memilih untuk penampilan grup sebagai pembukaan show mereka yang pertama. Seperti biasa, sorakan gembira dan riang dari para penonton dan fans Pro Techno menjadi semangat bagi personil Pro Techno. Terkecuali, Felly. Ia menyanyikan lagu tanpa nyawa. Suaranya yang keras terdengar sendu. Matanya yang tajam terlihat begitu banyak menyiratkan kesedihan di sana.
Sampai akhirnya, mereka turun dari panggung. Felly berjalan meninggalkan keramaian. Billy, Bram dan Riska menatap heran ke arah Felly yang menjauh dari mereka. Sejenak, mereka bertanya satu sama lain apakah mereka memiliki salah kepada Felly.
***
Di taman itu, Felly tam mampu membendung air matanya. Ia menangis tersedu dengan meremas kalung yang terhias di dadanya. Ia menjerit dalam sendu, mengadu kepada udara atas kuasa Tuhan yang telah merampas Brillian dari hatinya.  Pelita hatinya yang selalu ia puja dalam kekesalannya karena sikap Brillian yang menyebalkan, menjengkelkan dan sering membuatnya marah.
Konyol memang. Penyebab ia jatuh cinta dengan rasa yang seperti itu. Tapi, semuanya begitu berarti untuknya. Untuk dirinya yang telah rapuh dalam bentengnya sendiri. Tangis Felly yang merintih seketika terhenti saat seseorang membelai puncak kepalanya. Felly mendongkakkan kepalanya.
“Sorry kalau gue nggak bisa pahami gimana posisi lo!,” kata Bram.
Felly menggelengkan kepalanya. Ia mengusap air matanya dan kembali menatap sahabat masa kecilnya sekaligus rekan kerjanya.
“Lo tahu darimana kalau Brillian udah nggak ada?,” tanya Felly tercekat saat menyebut nama laki-laki itu.
“Gue tahu dari Arka! Barusan dia telfon gue!,” kata Billy.
Felly mengalihkan pandangannya saat matanya meneteskan air mata itu.
“Lo nggak usah sembunyiin air mata itu lagi, Fel! Lo bukan baja! Lo bukan malaikat! Lo hanya manusia! Lo wajah buat nangis di depan kita! Gue sama ana-anak siap jadi sandaran lo!,” kata Bram menjelaskan.
Felly terdiam. Ia berusaha mencerna ucapan Bram. Sampai akhirnya, matanya tertuju pada jam tangan yang bergetar mengingatkan Felly.
“Gue harus pargi. Lo bisa kembali ke auditorium!,”pinta Felly dengan suara seraknya.
***
Felly membasuk wajahnya dengan air. Ia menatap dirinya di depan cermin hingga ia menghembuskan nafas beratnya. Kemudian, ia berjalan ke auditorium dan memanggil MC untuk menentukan urutan tampilnya setelah band Greezary.
“Ini Greezary udah tampil Fel. Apa langsung aja lo isi? Soalnya band lain akan datang setelah beberapa iklan dari tim editor. Soalnya kan ini Live!,” ujar MC.
“Boleh deh! Siapin jack dan yang lainnya. Gue mau ambil gitar gue dulu di studio. Lo bisa ngisi beberapa slide sambil nungguin gue, kan?!,” tanya Felly.
“Bisa. Lima menit cukup, kan?!,” tanya MC.
“Okay,” kata Felly dengan membalikkan tubuhnya.
“Ini yang lo butuhkan, kan?!,” tanya Bram dengan memberikan ‘Falk’ miliknya. Gitar khusus yang Felly ciptakan dengan senar khusus dan setelah yang berbeda dari gitar pada umumnya.
“Thanks!,” kata Felly dengan meraih gitarnya dengan senyuman samar di sudut bibirnya.
Bram menganggukkan kepalanya pelan. Ia menatap Felly yang melangkah ke arah panggung dan mendengar sorakan penonton lebih heboh dari sebelumnya. Billy dan Riska membelalakkan matanya. Ia tidak menyangka Felly melakukan hal segila itu. Mereka berusaha mencari keberadaan Bram yang menghilang. Dan di sanalah, mereka kembali tenang saat melihat sorotan mata Bram yang tenang damai.
Petikan gitar mulai menggema. Memenuhi setiap sudut ruangan. Wajah Felly yang berkilau, matanya yang tajam, menatap lurus ke arah gerbang masuk. Di sana, ia melihat Brillian yang tengah berdiri. Memandang dirinya dengan senyuman menyebalkan itu, hingga matanya kembali terselimuti dalam beningnya air bening yang siap terjatuh.
Felly memulai membuka mmulutnya. Suara lembutnya tersampaikan isi hatinya yang membuat penonton mulai terbawa dalam selimut ruang rindu Felly. Matanya yang sedari tadi berair sudah tak mampu terbendung saat ia melihat Brillian mengangkat kedua jempolnya dengan senyuman lembutnya.
Senyuman yang tidak pernah Felly lihat. Air matanya yang mengalir deras tidak membuat suara Felly terdesak dengan isak tangis atau sekedar terkcekat dan menggantinya dengan petikan gitar untuk menutupi kekurangan nadanya dan penampilannya di atas panggung. Bram, Billy, Riska dan juga band ang lainnya yang tengah terduduk di bangku artis, menganga lebar saat mendengar dan melihat penampilan Felly.
“Apakah dia Dewi Nirmala yang kau sebut?,” tanya seseorag kepada band lainnya.
“Yah.. seperti itulah! Kau tahu kan sekarang, bagaimana dirinya!”
“Gue nggak yakin ngalahin itu anak! Siapa namanya?,” tanya yang lain menyahuti.
“Felly Anggi Wiraatmaja!,” ucap Billy menimpali tanpa melihat ke arah orang yang bertanya.
“Hah?! Lo satu rekan sama dia tapi lo nganga kek begitu? Waaahhh, gila nih cewek! Sayang lo satu sudio ma gue! Kagak udah gue jadiin pacar!,” kata seseorang.
“Emang dia mau sama lo?,” ledek yang lain.
Mereka tertawa bersama begitu mendengar sedikit lelucon yang ada. Sampai akhirnya, suasana sunyi dari para penggemar menggema setelah Felly mengakhiri lagu sedihnya. Sesedih hatinya yang benar-benar terluka karena kepergian Brillian. Laki-laki gila dan menyebalkan yang telah mangmbil seluruh rang hatinya yang menjadikan ruang hati gelap itu tetap terang dengan sisa kenangan yang ada di lehernya. Tergantung indah di sana.
Brilliandi Arka Pramana. Janji dari Felly, kau akan ada dalam sejarah hidupnya yang terkembang dalam album musiknya nanti. Perfect Love. Dan ia berjanji, Felly akan membawa nama itu dalam desah keluhnya yang terbendung menjadi suatu lagu yang akan terkenang di seluruh hati pendengarnya. Termasuk dirinya. Dan terkenang sepanjang masa bahwa kaulah inspirasi dari berlian yang mendapatkan seluruh piala kebanggaan atas dasar nama dirimu. Brilliandi Arka Pramana.
















Biografi Penulis

P.N.Z adalah nama yang selalu tercantum dalam setiap karya gadis ini. Ia lebih akrab di panggil Pratiwi Nur Zamzani.Terkadang, banyak orang yang memanggilnya nama Felly. Karena, ia selalu menggunakan nama tersebut di setiap karyanya.
Ia lahir dengan kelahiran Pasuruan, 4 Juli 1999. Gadis ini telah menempuh pendidikan Menengah ke atas di SMA NEGERI 1 BANGIL, dan Menengah Pertama di SMP NEGERI 1 BANGIL. Ia memiliki cita-cita sebagai seorang Dosen dan motivator. Ia berharap, dengan tulisan yang ia buat, ia dapat mengisnpirasi dan memotivasi kalian dengan karyanya. Sehingga, karya tersebut dapat bermanfaat dalam kehidupan kalian. Banyak karyanya yang sudah di muat di media masa. Kalian juga bisa melihat karyanya di cerpenmu.com dengan mengetikkan namanya di search pencarian. Atau menjadikan namanya sebagai kata kunci pencarian di google.
Jika kalian berminat, kalian bisa menyapanya dengan alamat Facebook Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Hijab Putih), IG pratiwinurzamzani  (Pakai Hijab Putih)  atau melalui E-mailnya pratiwinurzamzani@yahoo.co.id

Salam dan Peluk Hangat
Pratiwi Nur Zamzani

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...