Skip to main content

Realistis

Realistis
Pratiwi Nur Zamzani



“Maaf! Maafkan aku! Maafkan aku, Arka. Aku tidak bisa melakukan apa yang kau inginkan.”
“Kenapa, Felly?! Kenapa?! Bukankah kita saling mencintai?! Kenapa kau menolak orang yang kau cintai?! Apa mungkin, kau hanya berdusta mengenai cintamu itu?”
“Tidak, Arka! Tidak! Maafkan aku! Waktunya belum tepat.”
“Belum tepat katamu? Sampai kapan? Fel, aku ingin menikahi kamu karena aku benar-benar mencintai kamu!”
“Aku tahu Arka. Aku tahu hal itu. Tapi, posisi ekonomi kita masih tidak menentu.”
“Jadi kau mencintaiku karena uang?,” tanya Arka lirih dengan mata yang deras dengan air mata.
“Bukan! Bukan itu! Aku hanya berpikir tentang masa...,” ucapnya terputus saat Arka sengaja memutusnya.
“Yah... aku tahu siapa diriku dan dirimu. Tapi harus kau tahu, yang kumiliki hanyalah cinta untukmu. Bukan uang. Jika itu maumu, aku akan menurutimu. Lakukan apa yang kau mau. Sesukamu. Bebas,” ucap Arka dengan melangkahkan mundur kakinya. Kemudian meninggalkan Felly yang masih terdiam membeku dalam tatapan nanarnya.
“Arka! Tunggu! Berhenti Arka!,” teriak Felly.
Namun, Arka tetap berjalan meninggalkan Felly. Menjauh hingga bayangan itu menghilang. Yah.. menghilang bersama dengan derasnya air mata Felly saat ini. Saat ia kembali mengingat kejadian menyakitkan itu. Saat ia harus merasakan sesaknya dada untuk yang ke sekian kalinya. Mengingat, kejadian itu telah terjadi tujuh tahun silam. Tepat di detik ke empat. Dan berhenti di menit ke empat pula.
“Manager, Felly! Anda sudah ditunggu oleh para dewan direksi di ruang meeting,” ucap Rina. Sekretaris Felly.
“Oh, ya. Saya akan ke sana lima menit lagi. Ada yang harus saya ambil sebentar!,” ucapnya dengan menghapus bekas air matanya yang telah mengalir beberapa waktu lalu.
***
Felly berjalan menelusuri ruangan. Hingga akhirnya, ia tiba di tempat yang ia tuju. Meeting Room. Sesampainya di sana, ia memberikan presentasi mengenai kenaikan saham yang telah meningkatkan produk perusahaan mereka. Banyak yang menanggapi akan hal tersebut.
“Permisi, Pak. Ada telpon dari perusahaan lain.”
“Oh, ok. Felly kamu lanjutkan, ya presentasinya. Saya, akan menerima telpon dulu.”
“Baik, Pak!,” ucap Felly dengan menundukkan badannya.
Di tengah rapat tersebut, semua dewan direksi begitu terkejut saat Pemimpin direksi datang dengan nafas terengah.
“Felly! Siapkan semua bahan presentasi mengenai perusahaan kita! Investor dengan saham terbesar akan datang ke sini hari ini. Dan, ia akan menyetujui semua kerja sama kita setelah mengetahui profil milik kita.”
“Baik, Pak.”
“Untuk tim yang lainnya. Bantu Felly untuk mengumpulkan semua bahannya.”
“Felly! Keluarkan kemampuan bahasa asing kamu saat mereka memintanya, Ok?!”
“Baik, Pak. Saya akan berusaha.”
“Ya sudah, sekarang kalian kembali ke ruangan masing-masing dan persiapkan semua yang dibutuhkan. Dia akan datang dalam waktu lima menit.”
Merekapun bubar. Kemudian, kembali ke ruang meeting saat panggilan dari HRD memberitahukan bahwa mereka harus siap sebelum lima menit investor datang.
“Silahkan duduk, Pak!,” pinta Manager Bram mempersilahkan duduk orang itu.
Investor itupun duduk dengan begitu elegan. Kemudian di susul oleh Felly dan manager lainnya yang sudah siap masuk dengan bahan presentasinya.
“Selamat siang semuanya,” salam Felly kepada semua orang dengan menatap mereka secara menyeluruh.
Matanya terhenti tepat di pusat utara depan projector. Nafasnya terasa begitu sesak. Tatapannya seketika nanar. Jantungnya seakan berhenti bergerak. Mulutnya, mengatup begitu rapat. Lututnya terasa begetar. Hingga ia hanya bisa membeku dengan tatapan yang begitu sendu.
“Felly!,” panggil Manager Bram dengan memberikan isyarat untuk memulainya.
Namun, Felly hanya terdiam mematung di tengah dinginnya ruangan itu. Yah.. sedingin hatinya.
“Felly!,” ucap Manager Bram untuk kedua kalinya. Dan, barulah Felly memulainya meski dengan hembusan nafas yang begitu berat.
Waktu terus berjalan hingga akhirnya, investor tersebut mulai angkat bicara.
“Apakah anda mempunyai pegawai yang penuh dengan kesalahan?”
Seketika suara bisik berdesus di sana-sini. Membicarakan Felly. Bagaimana tidak? Felly telah memberikan penjelasan dengan keseluruhan dan sesuai dengan yang ia minta. Namun, tetap saja salah di matanya.
“Maksud anda apa?,” tanya pemimpin Direktur.
“Ahhhh... tidak! Saya akan mempertimbangkan mengenai kerja sama kita,” ucap investor itu dengan menundukkan badannya. Kemudian, merapikan jasnya dan melangkah pergi dengan langkah yang begitu elegan.
Kemudian diikuti oleh Felly. Ia berlari ke arah taman kantor yang begitu sepi. Sejuk dengan pohon rindang yang ada di sekitarnya. Dan, disanalah ia duduk menyendiri dalam tangisnya yang kembali datang.
“Untuk apa kau menangis?,” tanya seseorang yang tengah berdiri dengan gayanya yang begitu keren.
Felly membalikkan tubuhnya. Ia hendak berbicara. Namun, semua itu tak mampu ia lakukan.
“Ini!,” ujarnya dengen memberikan sapu tangan dengan simbol itu. Yah.. simbol yang pernah ada tuju tahun silam.
“Maaf... dan... selamat.”
“Tch! Apakah kau mengira aku sudah menikah?”
“Itulah nyatanya.”
“Terlalu polos dan bodoh jika Felly yang ku kenal adalah gadis yang pintar.”
“Maksudmu?”
“Apakah kau berfikir aku mengeluarkan dana sebesar itu untuk perusahaan ini hanya semata-mata? Aku akan meminta imbalannya. Aku tidak butuh uang. Tapi aku butuh kenangan itu. Dan perusahaan ini harus membayarnya.”
“Arka...”
“Yah.. aku adalah Arkana Aditya. Orang yang kau tolak tujuh tahun silam. Apakah aku salah jika aku mengatakan cinta padamu saat ini?”
Felly hanya terdiam. Menarawang apa yang harus ia lakukan.
“Aku tidak bisa.”
Seketika mata Arka terasa begitu pekat dan panas. Terasa seperti terbakar.  Hingga ia harus mencengkeram kedua bahu Felly.
“Apa yang harus kau tunggu lagi?!!!!!”
“Aku belum...”
“Belum apa?! Jadi direktur? Jadi pemilik perusahaan? Jadi apa yang kau mau? Felly! Sadarlah untuk 4 menit saja. Tataplah mataku! Aku ingin kau melihat semuanya dengan jelas!”
“Arka...,” ucap Felly lirih dengan tetesan air mata yang semakin deras.
“Apakah kau melihatnya sekarang?! Di sini, aku menunggu meski aku harus tersakiti. Di sini, aku masih memegangmu. Dan di sini, aku kembali dengan cinta. Felly! Uang bisa kita cari bersama. Apakah kau harus mengorbankan cintamu dengan uang?! Apakah selama ini aku hanya sebagai udara? Apakah selama ini....,” ucap Arka terhenti saat Felly merapatkan jemarinya di dalam dada Arka yang begitu terasa hangat. Penuh kedamaian, dan juga kenyamanan. Di sanalah Felly menangis sejadi-jadinya.
“Semuanya telah usai. Jangan pernah membohongi dirimu lagi. Aku tidak akan menerima apapun kata yang keluar dari mulutmu.”
“Termasuk cinta?,” tanya Felly dengan merapatkan pelukannya dan menggeser kepalanya hingga ke tengkuk Arka.
Dengan cepat tangan Arka merapatkan pelukan itu. Kemudian, mengangkat kepala Felly dengan lembut hingga mereka betatapan sejajar. Terlihat begitu jelas kerinduan mereka. Begitu juga dengan cintanya.
“Jangan pernah pergi. Cukup sampai di sini kau berlari, sayang. Kumohon, genggamlah aku. Yah?!,” tanya Arka lirih.
Felly menganggukkan kepalanya. Mengingat, perjuangan Arka yang begitu berat hanya demi Felly agar mau menerimanya. Tapi nyatanya, Fely sadar uang bukan segalanya. Namun, uang hanyalah pelengkap cinta mereka. Mengingat, cinta tak hanya sekedar cinta. Melainkan, cinta juga berdasarkan realistis. Salah satunya adalah faktor finansial yang mereka miliki. Mengingat, di dunia tidak ada yang didapatkan secara gratis. Dan apapun yang kita inginkan tak akan mudah mendapatkannya selama tidak ada usaha. Meskipun, usaha tersebut hanya setitik debu.





BIOGRAFI

Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...