Skip to main content

Because You My Dream

Because You My Dream
Pratiwi Nur Zamzani


“Hah? Lo serius, Fel?,” tanya Bram tersentak tidak percaya setelah mengetahui berita yang ada di majalah mingguan remaja adalah fakta.
Felly hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan dari Bram. Pandangannya tetap terfokus pada gitar dan juga partitur musik yang ada di depannya. Sedangkan Billy dan Riska masih tetap membaca artikel tentang hubungan Felly dengan seorang pria. Mencari kebenaran dan mempercayakan kepada dirinya bahwa berita tersebut adalah opini belaka.
“Ya ampun Felly! Lo kesambet apaan? Kenapa lo bisa pacaran sama anak model beginian?,” keluh Bram setelah menerima jawaban dari Felly.
Seketika Billy dan Riska tersentak setelah mendengarkan Bram yang mengeluh karena hubungan Felly yang benar-benar nyata. Siapa yang menyangka? Felly Anggi Wiraatmaja. Singa liar yang selalu di bangga-banggakan di setiap langkahnya. Fisiknya yang begitu sempurna membawa titik elegan dan erotis bagi siapa saja yang memandangnya.
Semua orang tidak mempercayai akan hubungan Felly dengan laki-laki itu. Dia hanyalah anggota OSIS di sekolahnya. Sedangkan Felly, dia adalah artis sekolah. Bagaimana tidak? Namanya telah berulang kali di muat di media massa. Salah satunya adalah majalah mingguan remaja. Dan, hubungannya yang tak kentara itu menjadi heboh karena semua orang melihat status reputasi sepasang kekasih itu.
Bahkan, gurunyapun tidak menyangka akan hubungan mereka. Karena, Felly terkenal akan kekasihnya yang glamour, maskulin, dan juga tampan. Hampir semua mantan kekasihnya tidak menyentuh setir motor di usianya yang masih begitu muda dan belia. Melainkan, mobil mewah dan elegan dengan tampilan dan juga sajian yang membuat semua wanita iri kepadanya.
“Fel, lo melakukan ini semua untuk mempermainkan dia kan?,” tanya Billy memastikan bahwa semua itu hanyalah kebohongan belaka yang dilakukan oleh wartawan.
“Mempermainkan?! Tch! Gue akan menjadi orang paling bodoh di dunia jika gue mempermainkan dia!,” ucap Felly enteng di tengah jarinya yang memetik senar gitar.
“Lalu, apa motivasi lo untuk menjalin hubungan dengan dia? Apakah lo punya hutang budi kepadanya?,” tanya Riska penasaran.
“Cinta.”
“Apa lo nggak malu punya hubungan lebih dengan cowok model begitu? Felly, plis sadar girl. Cakep aja nggak, Fel. Bahkan, dia jauh berbeda dengan Rendy mantan lo! Rendy seorang kapten basket, dan dia pegang mobil mewah serta memiliki paras yang Ok. Sedangkan ini, dia hanya pegang motor vespa jadul. Warna merah pula. Oh Tuhan, apa yang ada di pikiran lo gue nggak habis pikir Felly,” kata Bram.
“Gue kan udah bilang kalau gue mau berhubungan dengan dia karena Cinta.”
“Hanya itu?”
“Ya! Hanya itu! Dan sekarang, gue tahu bagaimana rasanya cinta buta.”
“Tch! Lo sama aja Felly mempermalukan Pro Techno,” ucap Bram.
“Malu? Kalau sampai itu terjadi, kalian bisa mengeluarkan gue dari band ini! Dan, gue bisa jamin nama kalian nggak akan tercemar. Bahkan, berita tentang kalian tidak akan sampai di telinga kalian. Atau mungkin, gue sendiri yang akan melenyapkan berita itu!,” ucap Felly tegas dan menantang.
Bram, Billy dan Riska hanya bisa terdiam dan menganga setelah mendengar tantangan Felly. Bagaimana tidak? Seorang kapten akan keluar dari band. Sedangkan, band tersebut terbentuk karena adanya seorang kapten.
“Sekarang, lo mau kemana?,” tanya Billy setelah melihat Felly beranjak dari tempat duduknya dan bersiap untuk pergi.
“Gue ada janji untuk ketemuan dengan Arka.”
“Arkana Aditya. Dan, lo serius dengan nama itu?,” tanya Riska tak menyangka. Karena, selama Felly berpacaran dengan berbagai model lelaki, Felly tidak pernah menanggapinya dengan serius. Bahkan, untuk ketemuan saja sang pacar harus memohon-mohon kepada Felly. Hal tersebut membuat Riska dan yang lainnya penasaran dengan Felly dan laki-laki itu. Sehingga mereka mengikuti kemana arah Felly melangkah untuk menemui lelaki itu.
Namun, langkah mereka terhenti saat melihat banyak wartawan yang menawang Felly dan juga Arka. Mereka menanyakan pertanyaan yang membuat Felly kesal. Hampir semua menanyakan akan keseriusan Felly dalam berhubungan dengan Arka. Sehingga, Felly mengambil tindakan nekad untuk membuktikan segalanya.
Bahkan, bagi Riska dan yang lain hal tersebut adalah hal yang mustahil untuk dilakukan oleh Felly. Bagaimana tidak? Felly yang seperti itu berani mencium laki-laki itu di depan publik. Sedangkan dengan mantan kekasihnya yang lain, Felly sangat sulit untuk diajak kencan. Ia mengaku bahwa ia memilih Arka cukup dengan satu alasan.
Alasan karena Arka begitu cuek dengannya. Serta, suara lembut yang dimiliki Arka dapat menenangkannya. Dan alasannya sangat sederhana, tapi menghasilkan sebuah keseriusan. Nampak di mata Felly dan juga Arka bahwa mereka tidak ingin berpisah satu sama lain.
Terpancar di mata mereka akan seutas cinta yang tulus. Cinta yang menghilangkan segala kelebihan. Dan, haus akan kekurangan. Serta cinta yang menjadikan kekurangan tersebut menjadi sebuah kesempurnaan karena adanya ketulusan.
Ibarat segelas kopi susu yang begitu nikmat menjadi kopi hitam yang pekat dengan kepahitan karena tak adanya gula dan juga campuran kentalnya susu. Tapi, memiliki aroma yang begitu memikat. Sehingga orang lain tertarik untuk mencicipinya. Meskipun, mereka telah mengetahui bahwa kopi hitam itu terasa begitu pahit.
Cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang tumbuh tanpa sebuah kesengajaan. Datang tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Bahkan tanpa adanya daya tarik satu sama lain. Melainkan hanya bermodal sebuah rasa yang bisa mengetuk pintu hati yang tertutup. Dan, memberikan cahaya dalam kegelapan tersebut. Meski, hanya setitik cahaya. Cahaya yang redup sekalipun tanpa menghilangkan kebutaannya.



Biodata Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...