Skip to main content

It’s My Life

It’s My Life
Pratiwi Nur Zamzani


“Felly!!! Felly!!!,” seru Bram terangah saat ia memasuki ruangan studio.
Dengan kantong plastik yang dibawanya, Bram menunjukkan buku itu. Saat Billy dan Riska menghentikan aktifitasnya untuk bermain bazz dan piano, dan menghampiri Bram untuk mengetahui apa yang membuat Bram heboh.
“Fel, sini kenapa?!,” ucap Bram dengan menarik tangan Felly dan meletakkan gitarnya di atas sofa.
“Apaan, sih?!,” ucap Felly santai.
“Nih liat!,” pinta Bram memperlihatkan buku itu.
Saat semuanya kawatir dan mencemaskan dengan apa yang ada di dalam buku itu, Felly hanya memandangnya dengan santai dan raut wajah yang datar.
“Di luar sana, lagi heboh karena lo keluar sama Rendy! Kapten basket yang lagi naik daun di kampus ini setelah lu! Lu ada hubungan sama cowok itu?,” tanya Bram.
“Nggak. Waktu itu, ban gue kempes. Dia lewat, buat nolongin ganti ban. Ternyata ban yang mau diganti juga bocor. Yah.. terpaksa deh panggil bengkel dan gue bareng sama tuh anak.”
“Tapi, bukannya lo sempat deket sama dia?!”
“Nggak, cuma dia pernah nembak gue,” ucap Felly santai.
“Seratus buat fans! Jadi lo pacaran sama dia? Nama lo bakalan makin tenar Fel. Udah gitu, vens mengenal lo sebagai idola yang W.O.W. Banyak dari mereka yang bilang ke gue, gimana nggak ngevens orang cantiknya nggak mufakat. Udah gitu, fisiknya ok lagi. Terus, keren lagi. Apalagi, kalo main gitar! Nah, dengan begitu nama band kita bakalan tenar Fel!”
Felly merespon dengan kecuekannya. Ia duduk kembali di sofa, dan memainkan gitarnya dengann melihat partitur musiknya. Sedangkan, Billy, Bram dan Riska merasa bingung dengan teman mereka.
Bagaimana tidak? Berulang kali Bram, Billy dan Riska mengenalkan Felly kepada teman sejawat mereka. Namun, Felly tidak menggubrisnya sama sekali meskipun itu sudah termasuk dalam level tinggi.
Sempat mereka curiga dengan Felly. Di balik kecuekannya, ia adalah cewek yang perhatian, terutama kepada teman. Saat itu, Riska belum makan. Tidak biasanya Felly menawarkan untuk makan. Sehingga hal tersebut membuat Bram dan Billy kawatir dengan posisi seperti itu.
Namun, terkadang Billy dan Bram merasa GR karena perhaian Felly kepada mereka. Perhatiannya begitu lebih, tapi mereka salah menganggapnya. Bagi Felly, sahabat adalah keluarga. Itulah sebabnya Felly memperhatikan mereka. Tidak lebih.
“Fel, kenapa sih lo nggak pernah mau berhubungan privas sama cowok? Padahal kita ingin lo merasakan hal yang sama kayak kita,” ucap Billy lirih.
“Kita masih belum bisa jadi pendamping hidup lo selamanya, Fel. Hidup lo nggak akan sempurna kalau nggak ada cinta,” lanjut Riska.
Seketika, Felly berhenti untuk memetik senar gitarnya. Matanya tertuju kepada teman-temannya yang beraut sedih. Fellypun meletakkan gitarnya di sofa dan beranjak dari tempat duduknya. Berjalan mendekat ke arah teman-temannya.
“Bagi gue, memiliki kalian sudah cukup. Kalian adalah kebahagiaan gue.”
“Lo akan lebih bahagia bersama dengan orang yang lo cintai, Felly!,” ucap Bram.
“Yah... tapi bukan sekarang. Ada saatnya nanti jika sudah tiba.”
“Apa gitar itu karena dia?,” tanya Billy menerawang.
Felly mengangguk perlahan.
“Gitar ini, bukan semata-mata hanya karena dia! Tapi, karena kalian juga. Bagi gue, terserah vens mau berkata apa tentang gue! Yang penting, gue bisa bersama dengan kalian! Gue tahu, kalian menganggap gue lesby! Gue memaklumi itu! Karena, gue sengaja membuat kalian menganggap gue seperti itu! Dan nyatanya, walaupn kalian menganggap geu lesby, kalian masih mau kan bersama gue?! Kalian mau menerima kondisi gue yang bukan sebenarnya. Itulah alasannya, gue memilih menunggu dan menghabiskan waktu gue untuk kalian!”
“Arkana Aditya?!,” tanya Bram lirih.
Seketika, tenggorokan Felly tercekat. Badannya bergetar, membeku, terpaku, dan termangu dalam pertanyaan Bram.
“Lo masih nggak bisa ngelupain dia, kan?,” lanjut Bram.
Dengan tatapan yang nanar dan sudut mata yang mulai memanas, Felly menjawab.
“Ya! Gue yakin akan sebuah cinta dan usaha! Meski, hasilnya tidak memberikan gue kepastian.”
“Apakah lo ingin menunggu lebih lama lagi? Dengan posisi seperti ini? Jika terus seperti ini, nama reputasi lo akan turun Fel di hadapan para fans!”
“Apakah kita mendapat fans hanya dengan sebuah status percintaan? Memberikan berita hangat dengan hal yang seperti itu? Enggak Bram! Kita bisa menarik mereka dengan potensi yang kita miliki! Lo jangan takut akan reputasi gue! Tapi, pikirkan reputasi milik kita bersama!”
“Tapi, sampai kapan lo akan terus menunggu?!”
“Sampai berumur 25 tahun. Itulah janji gue. Sekarang, gue masih berumur 18 tahun. Masih banyak waktu untuk gue mengejar mimpi gue di samping menunggu. Toh... dia sekarang ada di Amerika. Gue akan nyusul ke sana dengan berdiri di atas panggung broadway. Bersama dengan kalian! Itulah hal yang paling gue harapkan.”
Seketika suasana hening. Mereka telah terjun dalam pemikiran batin mereka. Menerawang akan rasa yang begitu trenyuh menyentuh mereka. Saat mereka berfikir, benar kata Felly. Ketenaran, tidak harus ditempuh dengan sebuah berita panas. Melainkan,potensi diri yang begitu menggiurkan. Dengan begitu, mereka akan membicarakan potensi tersebut tanpa mengusik apa yang ada di dalamnya.
Waktu. Saat waktu memberikan kesempatan dalam kesempitan, mengapa kita tidak memanfaatkannya dengan baik untuk hal positif. Usia muda yang habis dengan penantian, namun penuh dengan segudang prestasi. Tidak akan sia-sia saat kita mengulas kembali kenangan usaha jungkir balik yang telah kita lakukan. Meskipun, kedua harapan yang kita impikan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Karena hidup, tidak seindah apa yang kita bayangkan. Manusia hanya bisa merencanakan. Tapi, tangan Tuhan yang menentukan.



 Biodata Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...