I Dont Know
Pratiwi Nur Zamzani
“Datenglah, Fel. Masak sama temen sendiri lo nggak dateng. Tega banget tahu! Lagipula, pernikahan mana ada sih dua kali kecuali emang bener-bener ada problem,” desak Bram merayu Felly.
Felly masih terdiam. Ia menatap lurus ke arah meja yang penuh dengan makanan dessert mewah yang tak sebanding harganya dengan make-up yang ia pakai.
“Guys! Pemotretan kurang lima menit lagi okay?! Felly, Riska. Make-up!,” kata asisten fotografer dengan memberikan perintah sesuai dengan prosedur pekerjaan dan kontrak yang telah di setujui.
Billy dan Brampun beranjak dari tempat duduknya. Mereka berdua bersiap untuk mengganti pakaian yang sesuai dengan tema pemotretan kedua. Sedangkan Riska, meraih telapak tangan Felly. Menatap Felly dengan tatapan matanya yang lembut.
“Gue ngerti posisi lo, gue yakin lo bisa melewati ini semua. Come on, go to work, okay?!,” kata Riska dengan beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Felly.
Terdiam sejenak. Merasakan angin yang semilir menyapu tengkuk lehernya yang jenjang. Menggerakkan anting berliannya yang menghiasi leher jenjang dan mulus itu. Felly meraih ponselnya. Menekan nomor telfon yang hendak ia ajak bicara. Namun hasilnya, vailid.
“Gimana?,” tanya Riska setelah ia selesai menambahkan make-upnya.
Felly menggelengkan kepalanya cemas.
“Fel, kenapa sih lo masih mempertahankan laki-laki yang nggak pernah lo ketahui dia siapa? Statusnya apa? Kerja apa? Sederajat enggaknya sama lo? Come on baby! Nggak biasanya lo jatuh semudah ini hanya karena laki-laki.”
“Gue nggak tahu apa yang bikin gue bisa mau jadi kekasihnya. Gue juga nggak tahu kenapa gue bisa luluh hanya dengan beberapa menatap matanya lewat foto dan mendengarkan suaranya hanya meski lewat telfon.”
“Udahlah, lo kan bisa jalan sama cowok lain. Beres, kan? Lagipula dia juga nggak akan bisa dateng, kan. Udah yuk! Kita udah di tunggu. Lo ke ruang make-up sekarang sebelum manager lo berkicau dan habisin lo dengan jadwal padat lagi! Bye, I wait you baby!,” kata Riska dengan meninggalkan Felly.
Fellypun beranjak dari tempat duduknya. Ia menghembuskan nafas beratnya seakan hembusan nafas itu dapat menyelesaikan masalahnya. Selama perjalanan ke ruang make-up, Felly terus berpikir. Ia tidak mungkin datang dengan laki-laki lain. Ok fine! Hal itu adaah hal yang bodoh bagi Felly. Supermodel dengan kategori queen catwalk tidak bisa selingkuh. Di jaman seperti setan ini? Oh no, baby!
Gaun merah maroon, sepatu high girls hitam, tatanan rambut berantakan dengan pameran leher yang jenjang, di tambah make-up gelap dan lipstik merah segar mempertajam segala tatapan Felly. Yah... mata singa itu. Mata yang menjadi sorotan dunia akan kecantikan, keanggunan dengan seluruh keangkuhan, hingga membuat semua orang iri. Itulah Felly Anggi Wiraatmaja.
“Come on baby! Oh... clear! Good.. one more time baby! Oh my god, perfect!,” desah fotografer saat Felly tampil di depan camera sendiri tanpa dampingan Billy dan Bram. Rekan kerja, sekaligus sahabat bagi Felly.
Kesempurnaan Felly bagaikan Dewi Nirmala yang menguasai dunia. Dimana segalanya ada di tangan Felly dengan seluruh kekuasaannya. Bahkan, Felly tak akan segan untuk membuat dunia tunduk padanya hanya dengan satu lirikan matanya yang tajam. Mata indah bak berlian bercampur intan dalam paduan warna hitam yang pekat.
***
“Kita pulang dulu ya, Fel?!,” kata Bram dengan mencium pipi Felly sebagai tanda pertemuan mereka nanti malam.
Felly hanya menganggukkan kepalanya seraya melambaikan tangan mengiringi kepergian mereka bertiga. Riska yang sedari tadi bersikap lembut, berubah menjadi mengejek Felly mengenai dirinya yang tengah memiliki pasangan untuk datang ke pesta nanti malam.
“Apakah semudah itu orang lain menciummu?,” tanya seseorang dengan memegang kedua pinggannya dan bersandar di tembok lorong studio.
“Kamu!,” ucap Felly.
“Ya? Ini aku. Bukankah aku menepati janjiku padamu?!,” tanya laki-laki itu dengan senyuman yang membuat Felly merasa sebal kepadanya.
“Jika memang begitu, kenapa kau tidak mengangkat telfonku hah?! Apa kau pikir aku pengemis? Apa kau pikir aku orang yang bodoh hah?,” kata Felly dengan memukul laki-laki itu menggunakan tasnya.
“Aw! Aw! Felly! Udah!,” kata laki-laki itu menyudahi pukulan Felly dengan memegang kedua lengan mulus itu.
“Kapan kau datang hah?!”
“Apakah itu perlakuanmu terhadap kekasihmu?,” tanya laki-laki itu dengan senyuman. Yah.. senyuman yang sangat menyebalkan.
“Tch!,” decah Felly dengan mengalihkan pandangan matanya.
Laki-laki itu mendekat. Meraih kedua lengan Felly. Memegang telapak tangannya. Kemudian, mengalihkan tatapan Felly agar menatap maatanya. Felly sempat menghindar dengan kekesalannya. Tapi suara manja laki-laki itu telah menyihir Felly hingga Felly menuruti kemauannya.
“Maafkan aku karena aku tidak bisa menjadi laki-laki yang kau inginkan. Maafkan aku karena aku telah membuatmu sedih dan cemas. Maaf telah..”
“Aku tidak butuh kata maafmu. Tapi aku butuh penjelasanmu. Kau siapa?,” tanya Felly menjurus.
Laki-laki itu terdiam. Ia menundukkan kepalanya. Kemudian, menatap mata tajam Felly dengan hembusan nafasnya yang berat.
“Jawab aku!,” kata Felly lembut memanjakan.
“Aku takut menjawab pertanyaanmu.”
“Haruskah aku memaksamu, Arka?! Ketakutanmu tidak sebanding dengan kesedihanku yang selalu bertanya kau siapa? Kau aada dimana? Dan kau ada apa dengan waktu?”
“Jika ketakutanmu mengenai kesedihan akan menungguku? Lalu, bagaimana ketakutanku jika itu mengenai aku takut kau akan pergi meninggalkanku setelah kau tahu siapa aku.”
“Jika memang begitu, apakah aku perlu membuktikannya?,” tanya Felly menantang.
“Bukan masalah bukti, Felly. Aku hanya tidak mau kau dalama bahaya hanya karena aku.”
“Bukankah aku sudah dalam bahaya karena mencintaimu? Semuanya sama. Rasa yang sama. Mencintaimu, seperti halnya aku berada di atas kapal yang ada di tengah Samuudera Pasifik dengan badai yang bisa menenggelamkanku.”
Arka tidak menjawab. Melainkan, ia meraih Felly ke dalam pelukannya. Memeluknya dengan begitu erat. Merapatkan kepalanya agar dapat menyatu dengan kepala Felly yang berada di lehernya. Arka juga berulangkali mencium kening Felly dan puncak kepala Felly seakan hanya di waktu itulah kesempatan mereka untuk bersama.
Felly tak mengerti kenapa Arka begitu aneh dengan seluruh tingkah lakunya saat bertemu dengan Felly. Seakan waktu yang mereka miliki untuk bersama ssangat sedikit dan terbatas. Dan Tuhan, seakan tak mau memberikan mereka berdua waktu untuk bersama lagi. Di dalama pelukan itu, Felly ters bertanya dalam detak jantung Arka yang terdengar menenangkan di telinganya. Bahkan, Felly enggan untuk menjauhkan dirinya dari pelukan itu meski Arka berusaha menatap matanya dari atas.
“Saat tugasmu membuat semua orang iri, tugasku adalah menjaga negaraku. Melayani negaraku dengan seruan pistol, permainan pedang, pertarungan, hanya untuk melindungi negara kita. Termasuk, kamu, Felly. Saat kau berjalan di atas karpet merah dengan kakimu yang jenjang, aku berjalan di tengah padang duri tanpa alas kaki menembus zona aman hanya untuk mempertahankan wilayah. Hanya satu hal yang selalu aku lakukan sama dengan apa yang kau lakukan. Keinginan untuk bertemu, menatap mata, menggenggam tanganmu, mencium keningmu..”
“Dan mendengar detak jantungmu,” ucap Felly memutus ucapan Arka.
“Aku..,” kata Arka terhenti saat jari lentik itu berada tepat di depan bibirnya.
“Kau seorang TNI, kau adalah orang yang berjasa. Kau dan aku berbeda, semuanya berbeda. Tapi, hanya satu hal yang sama. Kau dan aku, memiliki cinta. Yah... cinta yang tak pernah aku ketahui alasan datangnya. Cinta yang hanya bisa membuatku cemas, dan cinta yang hanya bisa aku rasakan melalui suara di telfon. Tapi di sini, aku berjanji dan bersaksi atas nama udara, aku akan menjaga cinta kita. Aku berjanji dan bersumpah untuk itu! Felly Anggi Wiraatmaja, akan bersedia menemani, bahkan menunggumu meski jantungmu telah berhenti untuk berdetak, Arka!,” ucap Felly dengan seluruh sabdanya.
Arka yang sedari tadi gemetaran mendengar ucapan Felly bahwa Felly seakan hendak mengakhiri hubungannya. Namun, semuanya jutr berebanding terbalik dari apa yang sudah ia duga. Di sana, Arka seakan kehilangan jantungnya yang telah di rampas habis oleh Felly. Bahkan di sana, Arkana Aditya, Perwira TNI dapat meneteskan air matanya setelah mendengar janji Felly bak petir yang menggelegar. Bergemuruh dalam dadanya, menggoncang benteng pertahanannya hingga ia tak mampu tuk membendung air matanya.
“Bahkan saat kau menangis, aku tidak akan sedih kehilangan cat kukuku yang mahal,” goda Felly dengan menghapus air mata Arka yang membasahi pelataran pipinya.
“Sayang...,” kata Arka dengan meraih kepala Felly dan mencium kening Felly dengan begitu lembut dan penuh tekanan.
Felly memejamkan matanya. Menikmati, merasakan, meresapi, menghayati, dan ikut meraih kerinduan Arka yang tersalur dalam kecupan keningnya. 24 Juli 2016. Pukul 16:50. Arka melepaskan keningnya. Meraih jemari Felly, dna melingkarkan cincin berlian yang telah ia persiapkan khusus untuk wanita pujaannya. Dan yang telah berhasil mengikat hatinya, adalah supermodel dengan sumpah petirnya. Felly Anggi Wiraatmaja.
***
^Aku tidak pernah tahu siapa dirimu.Perkenalan yang begitu sederhana telah menyatukan kita. Aku tak pernah tahu, kalau aku akan mencintai seorang laki-laki yang telah menjual nyawanya kepada negara. Aku tak tahu, bahwa aku bisa mencintai laki-laki tanpa memandang segi material. Bahkan aku tak sadar, bahwa aku telah menyerahkan hatiku kepada seorang TNI yang tak pernah aku ketahui keberadaannya. Yang aku tahu hanyalah satu, aku hanya menginginkan detak jantungnya, kecupannya, belaian manjanya, suara lembutnya, dan pelukan hangatnya_Felly^
***
^Maaf karena aku telah berbohong kepadamu. Menyembunyikan segalanya yang tak seharusnsya aku sembunyikan. Aku memang laki-laki yang hanya bisa membuatmu bersedih. Aku hanya laki-laki yang hanya bisa membuatmu cemas. Dan aku hanya laki-laki yang tak bisa berada di sisimu dan menjadi yang terbaik untukmu. Aku tidak bisa berjanji untuk memberikan detak jantungku kepadamu. Karena aku juga tak bisa melawan waktu. Namun, aku selalu berdo’a agar waktu terus berpihak kepadaku. Dimana aku bisa menepati janjiku, untuk berusaha menjadi yang terbaik untukmu, cinta_Arka^
-Biografi Penulis
P.N.Z adalah nama yang selalu tercantum dalam setiap karya gadis ini. Ia lebih akrab di panggil Pratiwi Nur Zamzani.Terkadang, banyak orang yang memanggilnya nama Felly. Karena, ia selalu menggunakan nama tersebut di setiap karyanya.
Ia lahir di keluarga sederhana, dengan kelahiran Pasuruan 4 Juli 1999. Gadis ini telah menempuh pendidikan Menengah ke atas di SMA NEGERI 1 BANGIL, dan Menengah Pertama di SMP NEGERI 1 BANGIL. Ia memiliki cita-cita sebagai seorang Dosen dan motivator. Ia berharap, dengan tulisan yang ia buat, ia dapat mengisnpirasi dan memotivasi kalian dengan karyanya. Sehingga, karya tersebut dapat bermanfaat dalam kehidupan kalian. Banyak karyanya yang sudah di muat di media masa. Kalian juga bisa melihat karyanya di cerpenmu.com dengan mengetikkan namanya di search pencarian. Atau menjadikan namanya sebagai kata kunci pencarian di google.
Jika kalian berminat, kalian bisa menyapanya dengan alamat Facebook Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Hijab Putih), IG pratiwinurzamzani (Pakai Hijab Putih) atau melalui E-mailnya pratiwinurzamzani@yahoo.co.id
Salam dan Peluk Hangat
Pratiwi Nur Zamzani
Comments
Post a Comment