I Love You
Pratiwi Nur Zamzani
“Hari ini kita jadi ke mall kan, Fel?”
“Iyalah, Ris! Masak nggak jadi?!”
“Ohhh... Yaudah kalau gitu. Gue tinggal bentar ya?!”
“Kemana?,” tanya Felly dengan mendongkakkan kepalanya ke arah Riska yang sedang berdiri di sampingnya. Mengamati kegiatan Felly yang sibuk dengan inspirasi untuk mencari sebuah kado. Yah.. kado yang akan diberikan kepada orang yang spesial tentunya.
“Bagaimana kalau kita berangkat sekarang?,” tanya Riska seolah mengelak.
“Ok deh!,” restu Felly dengan meletakkan gitarnya di tumpuan gitar.
Merekapun pergi ke Mall yang mereka tuju. Sesampainya disana, Felly menuju ke arah toko tart. Banyak macam cake dan tart yang indah dipajang di sana. Sekaligus, enak saat menyentuh lidah.
“Oh ya Fel, apakah kamu nggak pengen yang lain?,” tanya Riska dengan menatap blue cake yang ada di depan matanya.
“Ada. Tapi, aku akan membeli ini dulu!,” jawa Felly dengan senyumnya.
Setelah Felly mengambil pesanan di toko itu, Felly pergi ke tempat deretan penjual jam tangan. Siapa yang tidak kenal dengan singa itu? Felly Anggi Wiraatmaja. Gitaris cantik dengan tallent yang memukau. Tidak hanya itu saja, wibawa dan kharismatiknya membuat ia terlihat anggun meskipun ia sedikit menyerupai laki-laki. Namun, semua itu tidak harus menghilangkan kecantikannya.
“Apa kamu yakin, membeli barang ini?! Felly, uangnya lumayan Fel kalau dibuat beli Hand Phone baru!,” ucap Riska mengingatkan.
“Aku hanya ingin dia bahagia!,” ucap Felly dengan menerawang. Seakan, membayangkan sosok yang ia cintai.
Arka. Arkana Aditya. Kekasih pertamanya. Waktu sempat memisahkan mereka. Akan tetapi, waktu juga yang mempersatukan mereka. Ah.. tidak. Bukan waktu. Melainkan, takdir. Waktu hanya bisa menjawab pertemuan mereka. Setelah, perpisahan 7 tahun itu.
“Felly!,” panggil seseorang saat Felly dan Riska asik memilih barang yang mereka sukai.
“Bram!,” gumam Felly setelah melihat rekan bandnya ada di tempat yang sama.
“Beli kado buat, Arka?”
“Iya nih!”
“Segitu spesialnya, ya?,” tanya Bram dengan nada yang sinis.
“Yup!,” jawab Felly enteng dengan menunjuk jam tangan yang menurutnya sudah pas.
Setelah itu, Felly kembali ke studio untuk mengambil gitarnya. Kemudian, menuju ke caffe itu dengan mobil merahnya. Yah.. caffe yang sudah Felly booking untuk acara ulang tahun Arka.
Namun, sebelum itu ia menghubungi Arka. Mereka berbicara selayaknya kekasih. Mengenai, pertemuan mereka di caffe itu dan juga jam yang sudah mereka tentukan. Sedangkan, Bram dan Billy sudah ada di sana.
Saat Felly telah sampai di sana, ia tidak melihat Billy. Padahal, saat di mall Bram bersama dengan Billy. Meskipun, Billy saat itu tidak ada disamping Bram.
“Cuma ini? Lantas, siapa yang bakalan mainin bazznya kalau Billy nggak ada?,” tanya Felly dengan nada yang sedikit mulau meninggi.
“Gue juga nggak tahu Fel,” jawab Bram polos.
“Riska, Billy nggak hubungin lo sama sekali?!,” tanya Felly.
Riska hanya bisa menggeleng setelah melihat kemarahan yang terpancar dimata Felly. Untuk yang pertama kalinya, Felly marah hanya karena cinta. Kemarahan Felly bukan karena ketidak hadiran Billy. Melainkan, kekawatiran akan gagalnya acara ini.
“Hallo! Felly! Kamu bisa ke sini nggak sayang?,” tanya Arka di tengah kemarahannya.
“Kamu ada dimana?,” tanya Felly cemas.
“Aku ada di rumah sakit! Tolong ke sini, ya!,” gumamnya.
“Ok!”
Secepat kilat Felly melangkah pergi meninggalkan caffe itu. Dan, pergi ke Rumah Sakit yang sudah disebutkan oleh Arka sebelumnya. Menghiraukan rekan bandnya di dalam caffe yang masih berdiri dingin melihat kemarahan Felly.
Tidak seperti biasanya. Mereka akan takut setiap melihat kemarahan Felly. Akan tetapi, untuk kali ini tidak. Bahkan, mereka merasa tidak berdosa setelah merencanakan hal ini.
“Kamar 203!,” pinta Felly dengan nafas yang terengah.
Dengan langkah gontai Felly menuju ke arah kamar itu. Akan tetapi, saat ia sampai di kamar itu. Terdapat Billy yang berdiri di depan pintu. Seakan, Billy sengaja menunggunya.
Seketika Felly menatap Billy tajam. Tentunya, tanpa kehilangan kebingungan. Yah.. itulah salah satu kelebihan Felly. Dalam posisi panaspun ia masih bisa berfikir dengan logis.
“Apa yang lo lakukan disini, Billy!,” bentaknya seketika memenuhi dindi-dinding Rumah Sakit.
“Seharusnya, gue yang bertanya itu sama lo, Fel!”
“Apa lo bilang? Lo nggak sadar sama sekali apa yang lo lakukan? Lo nggak sadar dengan kesalahan lo?!,” tanya Felly sinis.
Billy hanya terdiam dengan menatap Felly dingin. Untuk pertama kalinya, tanpa dosa.
“Billy! Jawab!,” bentak Felly lagi.
Billy hanya terdiam.
“Ok! Gue emang bodoh harus memilih lo! Tapi, gue juga mengakui kalau potensi gue kurang dalam mendidik rekan-rekan gue. Tapi asal lo tahu, gue kecewa sama lo setelah gue percaya sama lo!,’ ucap Felly merendah.
Billy hanya terdiam. Namun, Billy menyerahkan ponselnya.
“Apa ini?,” tanya Felly heran. Tetap dengan kerutan di dahinya.
Billy hanya bisa mengangguk. Sedangkan, Felly tak bersuara. Dengan perasaan yang kabut Felly menyalakan Hand Phone itu. Lalu, menekan tombol merah yang ada di tengah. Terdengarlah suara yang tidak asing baginya.
“Felly! Apa kabar sayang? Kamu baik-baik saja, Nak?! Apakah kamu sedih? Sehingga, kamu tidak memberikan kabar kepada Ibu? Kenapa sayang? Apakah kamu sibuk? Ah.. mungkin saja. Kamu tahu, teman-temanmu mengunjungi Ibu di rumah sakit ini. Ia datang tanpamu. Saat itu, Ibu memang berharap padamu. Tapi, teman-temanmu bilang kamu sibuk. Ibu tetap berharap kamu datang di hari itu sayang. Tapi, Ibu mendapat kejutan. Ibu mendapat kejutan atas kedatangan kekasihmu. Ia begitu baik? Apakah ia adalah cinta pertamamu saat itu? Apakah ia kembali mencintaimu? Ibu sangat bahagia dengan itu. Oh ya? Apakah kamu hari ini sibuk? Berulang kali ibu menelpon kamu, Nak. Tapi, hanya ada jawaban dari Bram temanmu. Namun, Billy sering mengangkatnya. Ia bilang, kamu masih berhadapan dengan produsermu. Hahahaha, ibu senang kau bisa lancar dengan karirmu. Akan tetapi, Ibu merindukamu sayang. Datanglah! Meski hanya satu detik. Ataupun satu kejapan mata,” suara yang ada dalam ponsel Billy.
“Lo dapet darimana suara ini?”
“Saat Ibu lo masuk ke rumah sakit. Saat itu, dia mau menghubungi lo. Tapi, lo lagi bareng sama Arka. Gue terpaksa harus bohong dengannya. Karena, gue nggak mau nyakitin nyokap lo. Mengingat, nyokap gue udah nggak ada. Gue nggak mau nyia-nyiain waktunya nyokap lo hanya untuk menunggu lo! Hingga akhirnya, gue sama anak-anak ngunjungin ke sini. Terpaksa gue harus bilang kalau lo lagi sibuk.”
Felly hanya terdiam dengan tatapan yang nanar. Iapun masuk dengan langkah yang cepat. Untuk yang kedua kalinya, ia menatap pandangan sayang itu.
“Felly!,” panggil Ibu senang.
Felly hanya terdiam, matanya terasa begitu panas. Hingga tak mampu menahan lahar itu. Dan, tumpahlah air mata itu. Bagaimana tidak? Seharusnya, yang memegang tangannya adalah dia. Mengapa harus ada orang lain? Pantaskah? Jika pertanyaan terlontar, siapakah anak dari Ibu itu? Felly atau Arka? Meskipun nantinya, mereka akan menjadi anak Ibu itu.
“Syukurlah kamu datang sayang,” ucap Arka lembut.
Felly hanya terdiam dengan menelan ludahnya. Kelopak matanya semakin menggembung setelah melihat tart yang tertera di meja itu. Bagaimana tidak? Hari itu adalah hari ulang tahun Ibunya. Seharusnya, Felly merayakan hari itu. Bukan Arka.
Dengan tangis yang menderu, Felly berlari memeluk Ibunya yang terbaring di sana. Ibunya hanya bisa tersneyum bahagia atas kedatangan Felly. Membelai lembut dengan cinta dan kasih sayangnya. Sedangkan Arka, hanya menatap keindahan pemandangan yang ada di depannya. Namun, Anjani Wiraatmaja tidak memberiakan tangannya yang masih tebuka hanya untuk memeluk putrinya. Melainkan, meraih Arka ke dalam rengkuhannya. Seakan, menjadikan mereka sebagai anak mereka. Bukan dengan status kekasih. Tapi, kakak beradik.
“Tolong jagain nyokap gue ya, Fel!,” ucap Billy yang memandang mereka.
“Arka, thank’s ya!,” lanjut Bram dengan menaikkan salah satu alisnya.
“Kalian...,”
“Ya, Fel! Kita yang melakukan hal ini! Dan juga, usul Arka! Sorry! Tapi, bagaimanapun juga lo adalah sahabat kita. Kita nggak mungkin kan biarin lo ada di jalan yang salah?!,” tanya Riska dengan senyum simpulnya.
“Tidakkah kalian ingin memeluk Ibu?,” tanya Anjani kepada teman-teman Felly.
Seketika Billy mendekat dan disusul oleh yang lainnya. Dalam kurun waktu yang begitu lama, mereka semua berpelukan. Sekaligus, merayakan ulang tahun Arka yang bersamaan dengan ulang tahun Ibu Felly. Begitu sederhana. Tapi, sangat berharga dengan kehangatan. Bukan kemewahan. Tentunya, dengan penuh cinta.
“Cintailah aku! Tapi, jangan lupakan aku! Dan, ingatlah aku!Tanpa menghilangkan bayangannya!,” itulah kata yang diucapkan oleh Arka.
Apabila ditelaah kembali, Kau boleh mencintai aku, kau boleh malakukan segalanya untukuu, dan kau boleh mengingatku disetiap waktumu ataupun hitungan detikmu. Tapi, jangan sampai kau menghilangkan bayangan seseorang yang sudah memberikanmu seluruh limpahan kasih sayangnya. Jikalau kau mencintaiku, maka cintailah dia pula.
Cinta memang buta. Namun, kasih sayang masih bisa membedakan cinta. Yah.. cinta yang telah membutakan segalanya. Hingga pemiliknya tak lagi mampu mengendalikan perasaanya, pikirannya dan juga tingkah lakunya. Bahkan, cinta dapat menghapuskan kasih sayang seseorang meskipun hanya sesaat.
Biodata Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.
Comments
Post a Comment