Skip to main content

Candramawa Kehidupan

Candramawa Kehidupan
Pratiwi Nur Zamzani


“Haish, pusing gue hari ini mikirin lirik melulu. Clubbing yuk guys!,” kata Brama dengan memukulkan stik drumnya dengan kesal.
“Kalian berangkat aja sendiri, gue akan nungguin di sini!,” kata Felly jutek dengan tetap memetik senar gitarnya. Namanya sebagai kapten yang ada dimana-mana membuat band Pro techno itu semakin melunjak reputasinya hingga ke pelosok sekolah-sekolah lain. Bagi anak-anak band, Felly adalah kapten yang mematikan. Setiap latihan, ia tidak pernah mengenal waktu. Tidak peduli anggota lainnya mati kelaparan.
“Nggak asik lo, Fel!”
“Ok gini aja, gimana kalau kita clubbing di sini bareng-bareng?,” sahut Billy dengan menghentikan petikan bazznya. Ia adalah orang yang paling dewasa di antara anggota band.
“Yaudah bawa ke sini aja nggak papa. Gue, cuma liatin kalian aja.”
“Sepintar apapun kalian memujuk Felly untuk clubbing bareng, dia nggak bakalan mau. Dia hanya bisa melampiaskan stressnya dengan gitar,” saut Riska meremehkan dengan tetap menatap partitur musik dan mencocokannya dengan tuts piano.
 “Tau nih! Sekali-kali kenapa sih, Fel?”
“Enggak ah, males gue!”
“Udah yuk Bil, cabut! Percuma juga ngajakin nih anak!”
“Bentar-bentar, gimana kalau kita makan bareng aja?”
“Boleh tuh Bil, gue laper nih!,” seru Riska.
“Ikutan, Fel?”
“Boleh.”
“Nah, gitu dong dari tadi? Gue aja ngira kalau lo bakalan bunuh kita semua pelan-pelan.”
“Ya, maaf Bram.”
“Udah ah, jangan kebanyakan bacot. Laper tahu, dari tadi Felly nggak ngebolehin kita makan.”
“Let’s go guys!!!” seruan Bram dengan semangatnya.
Seperti biasa, menu kesukaan mereka adalah kebab. Makanan India yang hampir sama dengan humberger. Terutama Felly. Dia, sangat menyukai makanan itu. Porsi makanan Felly bisa-bisa melebihi anggota yang lainnya. Terkadang, saat Billy tidak dapat menghabiskan semuanya, ia selalu menyuruh Felly untuk menghabiskan makanan itu.
“Fel, gue mau nanya sesuatu sama lo boleh?”
“Apa?”
“Semalem, bokap lo nelfon gue Fel.”
“Terus?”
“Kenapa sih, lo selalu  nggak ngebolehin kita ngasih tahu orang tua lo dimana lo berada saat itu?”
“Kalian akan mengerti, jika kalian ngerasain posisi gue.”
“Tapi, apakah segitunya lo benci sama bokap lo?”
“Gue nggak tahu seberapa mana gue benci sama dia. Tapi, yang pasti gue nggak bakalan kayak dia.”
“Jadi, itu lasan lo beli rumah dengan ngorbanin uang gaji lo selama tiga tahun di Chartaris? Maksud gue caffe Chartaris.”
“Iya. Lagian, uang yang mereka kasih hanya lima puluh persen gue pakai. Selebihnya, gue kasiin orang.”
“Hah? Lo kasiin orang? Segitu banyaknya Fel?,”
“Iya. Gue ngelakuin itu, karena belom tentu nyokap dan bokap gue bisa sedekah sama anak yatim piatu atau sejenisnya. Sholat aja satu tahun sekali. Di tambah, bokap gue selingkuh dan nikahin orang di belakag nyokap gue. Kira-kira, apa bisa masuk surga? Sedangkan, gue nggak bisa ngaji.”
“Ternyata, lo masih  peduli ya sama bokap lo yang kejam itu.”
“Sesaat, gue juga berpikir Bram. Jikalau tanpa dia, gue juga nggak bakalan ada di dunia ini. Mana mungkin coba, cewek hamil tanpa bantuan laki-laki selain ibunya nabi Isa?”
“Hehehe iya sih.”
“Yang sabar ya, Fel. Gue yakin lo pasti bisa ngelewatin masa-masa sulit lo ini.”
“Thanks ya, Bil,” jawabnya dengan senyuman ramah.
“Gue liat-liat, Deo mana?”
“Deo tenggorokannya sakit, secara dia kan vocallis. Jadi, nggak mungkin dong ikut latihan bareng kita hari ini,” jawab Riska.
“Tapi, kira-kira dia bisa nggak ya ikutan lomba?”
“Bisalah Fel, nggak parah kok.”
“Oh, gitu ya? Get will soon deh kalau gitu.”
“Balik yuk guys, udah melem nih.”
“Ok.”
Merekapun kembali kerumah masing-masing kecuali Felly. Ia hanya pulang ke rumahnya saat ada kepentingan saja. Tidak hanya broken home saja yang ia alami. Tapi juga tekanan dari kedua orang tuanya untuk memenuhi hasrat keduanya. Oleh karena itu, Felly memilih hidup sendiri dengan kesunyian.
Hidup adalah sebuah pilihan. Dan, disanalah pilihan Felly. Saat semua teman-temannya mencemaskan dia akan hal yang berhubungan dengan cinta. Felly hanya tersenyum ramah untuk menenangkan mereka tanpa memeberi tahu apa alasannya. Setiap tawaran dan job cinta untuk dirinya telah tiba, ia hanya memberikan sensasi teman dan persahabatan yang penuh kedamaian. Sehingga cinta itu segan untuk menembus hatinya.
Pagi telah tiba. Turnamen band terbaik telah menjadi ajang langganan bagi Pro Tecno untuk meraih kemenangan mereka. Tentunya, untuk kali ini, dan tahun ini, Pro Tecno akan menampilkan yang berbeda dari band yang lainnya. Kebanyakan dari peserta band yang ikut, mereka semua hanya bisa mengaransement lagu sesuai dengan keinginannya. Tapi, tidak untuk Pro Tecno saat ini. Menciptakan lagu untuk yang pertama kalinya adalah misi mereka untuk menang. Oleh karena itu, Felly hampir membunuh mereka karena lupa akan waktu. Tidak peduli siang, sore ataupun malam.
“Fel, lo tahu sekolah itu kan?,” tunjuk Deo kepada segerombolan anak-anak sekolah yang menggunakan jas sebagai almamater sekolahnya.
“Tahu. Mereka, anak-anak sekolah sebelah kan?”
“Iya. Tapi di dalam tim mereka ada yang pindahan dari luar negeri Fel. Kalau nggak salah ada dua anak kayaknya. Drumer sama Vocal. Yang drummer pindahan dari Brazil, dan yang Vocal pindahan dari Amerika. Tahun kemarin dia sebet juara dua setelah kita. Dalam turnamen yang belum kita ikuti, mereka selalu raih juara satu Fel. Jadi, takut kalah gue Fel.”
 “Berarti, sama aja lo kalah sekarang!”
“Hah, maksud lo apaan sih, Fel? Lo ngeremehin gue?!!!,” solot Deo.
“Bukan gue, tapi diri lo sendiri. Kalau lo nggak mau kalah, kenapa harus takut sama tantangan yang lo hadapi dan nggak yakin sama kemampuan lo? Inget De, dasar kekalahan adalah rasa takut dan kita tidak bisa mengatasinya serta ragu dengan kemampuan yang kita miliki!”
“Denger tuh kapten ngomong! Cabut, bentar lagi kita dodol yang bakalan maju setelah sekolah sebelah,” kata Bram.
Deopun menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghebuskannya. Setelah itu, ia berjalan mengikuti anggota band Pro Tecno. Lebih tepatnya berada di belakang sendiri. Setelah menunggu beberapa menit untuk masuk setelah tampilan dari sekolah sebelah, merekapun beraksi. Dua puluh menit berlalu telah membawa mereka keluar dari ruangan tampil. Namun, ada suatu hal yang mengagetkan Felly saat itu. Tapi, membahagiakan bagi anggota band lainnya. Terutama Bram.
“Kamu Felly kan?,” tanya seorang laki-laki yang hanya dikenali Felly dari almamaternya saja tanpa mengenali siapa dia.
“Iya, gue Felly. Lo sekolah sebelah kan? Ada apa?”
“Iya, gue sekolah sebelah. Bisa, bicara sebentar?”
“Ok, gue tinggal dulu ya Fel sama anak-anak,” sahut Bram dengan semangatnya.
Felly hanya mengangguk.
“Bisa ikuti gue sekarang?”
“Ok.”
Fellypun mengikuti langkah laki-laki itu Hingga sampailah mereka di lantai dua belas gedung turnamen itu.
“Sebelumnya, kenalin. Gue, Arkana Aditya. Akrab dengan panggilan Arka. Dan, lo adalah Felly Anggi Wiraatmaja, cewek yang selalu menghiraukan laki-laki karena urusan lo sendiri. Mungkin, lo akan kaget dengan pernyataan gue hari ini. Tapi, sebelumnya gue pengen nanya sesuatu tentang lo. Kenapa lo nggak bisa mencintai laki-laki yang mencintai lo dengan tulus? Dan kenapa lo selalu menganggap ketulusan itu hanya kebohongan belaka? Apakah salah saat orang lain mencintai kita dengan tulus, Fel? Temen-temen lo bilang, lo adalah inspirasi bagi mereka, orang yang selalu bisa membangkitkan semangat setiap orang yang ada di sekitar lo. Gue harap, lo bisa memberikan inspirasi tentang cinta ke gue.”
“Kenapa lo nanya hal ini sama gue?”
“Karena gue mencintai lo. Memang Fel, gue terlambat untuk menyatakan hal ini ke lo. Tapi, gue ngelakuin ini hanya untuk satu hal yang nggak bakalan lo pernah mengerti.”
“Apa?”
“Karena gue ingin lebih mengerti lo daripada semua temen-temen deket lo. Semua orang bilang, sedekat apapun mereka ke lo, mereka nggak akan bisa mengerti diri lo sepenuhnya. Awalnya, gue hanya ingin menjadi tempat bersandar untuk lo. Tapi, setelah gue rasakan kembali, gue ingin lo cintai Fel.”
“Cinta? Apakah ini alasan lo mengirim bunga setiap hari? Melalui Bram, atau yang lainnya? Hanya untuk mengerti? Tch! Understand about me all? You can I answer now?”
“Yes, please untuk jujur.”
“Karena, setap detik orang itu berubah. Detik pertama, lo bilang ke gue I Miss You, detik kedua, lo bilang I Hate You. Dan, detik ketiga lo bilang I love You. Itulah alasan gue kenapa gue menjauh dari cinta. Apakah lo bisa menghentikan waktu saat kita merasa senang? Dan mempercepat waktu dikala kita sedih? Nggak akan Arka! Setiap orang pasti akan ada kekurangannya, disanalah gue takut untuk mencintai seseorang. Gue nggak tahu, apakah gue bisa mencintai dia dengan kekurangan itu? Lo datang dengan kesempurnaan, tapi nanti? Lo bisa jatuh Arka, gue takut ninggalin seseorang karena kekurangannya, gue takut ninggalin dia saat dia membutuhkan gue, gue...,” kata Felly terputus saat Arka sengaja memutusnya.
“Takut akan hal yang terjadi pada bokap lo terulang kembali ke lo?”
“Ya.”
“Jika ini alasan lo, gue akan terima. Tapi satu hal yang harus lo inget, Fel! Gue akan menunggu. Lo boleh nggak percaya. Tapi, lo bisa pegang omongan gue!,” kata Arka dengan meninggalkan Felly.
Setelah kejadian itu, hubungan Felly dengan Arka hanya sebatas teman. Namun, cinta Arka serta kesetiaanya sangat terlihat kepada Felly. Reaksi Felly hanyalah memperhatikan. Tapi, di balik perhatian itu kepercayaan akan cinta telah membuatnya berani untuk memulai rasa cinta itu. Merawatnya, serta membesarkannya hanya untuk satu orang. Arka.
Dan juga meyakinkan akan cinta yang ada di dalamnya. Memberikan waktu yang cuckup lama dan sesuai dengan kebutuhan batinnya tanpa harus mengorbankan keraguan yang ada di dalamnya. Karena bagi Felly, keyakinan adalah modal utama dalam mencintai. Bila ada keyakinan, sudah pasti ada kepercayaan. Dan juga, sebaliknya.









   Biodata Penulis
 
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.


Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...