Harga Diri
Pratiwi Nur Zamzani
Hari semakin gelap. Mentari sudah enggan menampakkan dirinya di depan awan mendung yang menang karena gelegar petir menyertainya. Air hujan menitik deras. Membasahi pelataran tanah bangunan itu. Kandang singa liar dengan Dewi Nirmala di dalamnya. Derasnya hujan, juga membasahi hati gadis itu. Relng hati yang membara api, berbalik sendu hingga menjadi hati yang benar-benar sendu dalam kobaran api yang tak pernah redup meski derasnya hujan membasahi.
“Nih!,” ucap seseorang dengan menyerahkan segelas coklat panas.
“Thanks, Ris!,” kata Felly tersenyum samar seraya ia menerima pemberian sahabatnya. Sekaligus, rekan kerjanya.
“Anak-anak udah nunggu lo di studio. Mereka udah siap buat latihan. Dan kita, udah nerima tanda tangan kontrak yang lo setujui dengan manager kemarin. Produser akan mengirim uangnya nanti malam,” jelas Riska panjang lebar.
Felly terdiam. Ia tidak menggubris apa yang dikatakan Felly. Telingan tetap mendengarkan. Namun, matanya tetap tertuju pada tetesan hujan yang berkecipakan dengan tanah, hingga menjadi sebuah melodi damai bagi Felly.
“Lo dengerin gue, kan?!,” tanya Riska memastikan.
“Gue akan ke sana. Tunggu beberapa saat lagi,” kata Felly dingin.
Riska mengatupkan bibirnya rapat-rapat seretelah mendengar nada itu. Ia sudah tak mampu menjawab meski Riska masih mampu untuk melakukan itu. Felly di depannya, bkanlah Felly yang biasa ia ajak kompromi dalam hal pekerjaan. Karena merasa canggung, Riskapun meninggalkan Felly sendiri di tepat itu. Di balik jendela.
Setelah Riska pergi, Felly mengambil ponsel yang ada di saku celananya.Ia menatap layar ponsel itu setelah membuka beberapa aplikasi pesan khusus untuk orang-orang yang menurutnya penting untuk tidak ia hiraukan seperti udara yang selalu melintas dan memenuhi hatinya.
Nama itu. Nama yang telah membuatnya jatuh dalam tempat asing yang pernah ia singgahi. Sebuah tempat, yang sudah ia lupakan rasanya ntuk bersinggah ke sana. Sampai ia memilih untuk sebuah permainan dalam hidupnya. Permainan gila yang akan membuat semua orang gila setelah mendapatkan skakmat atau hal mutlak dari Felly.
Bagi Felly, laki-laki adalah sebuah benda yang dapat ia mainkan. Benda yang dapat ia sihir dengan seluruh kemampuannya. Atau bahkan, setitik kemampuannya. Gilanya ia saat berada di panggung, atau di depan kamera dengan sorotan matanya yang tajam dan seksi, atau bahkan saat ia berada di atas karpet merah dan menjadi queen catwalk di sana.
Tapi untuk kali ini, ia merasa benar-benar gila sampai ia sudah tak mampu membendung apa yang terus menyeruak dalam hatinya. Sebuah rasa yang ingin ia buang sejauh-jauhnya tapi ia selalu gagal. Dalam sejarah hidupnya, Felly tidak pernah gagal dalam hal itu. Felly Anggi Wiraatmaja, tidak pernah jatuh dalam perangkapnya sendiri atau bahkan kalah dalam taktiknya sendiri. Namun, semuanya berbeda sekarang.
“Maafin gue!,” gumam Felly dengan menekan tombol hapus yang akhirnya gagal.
“Sampai kapan lo akan menjadi pengecut?,” tanya seseorang yang tengah berdiri di belakang Felly.
“Balikin ponsel gue!,” kata Felly dengan alis yang menyatu.
“Fel, kalau lo terusan kayak begini, lo nggak akan pernah mengerti rasanya cinta. Rasanya sakit karena cinta. Yang lo ngerti hanya sebuah permainan catur cinta. Dimana lo bisa memindahkan pemain sesuai dengan strategi lo sendiri!,” ingat Bram kepada Felly.
Felly mengalihkan pandangannya ke arah barisan hujan yang masih setia menemani dirinya di sana. Ia tak berani menatap mata Bram yang tengah menyidangnya saat itu. Sampai Bram harus mendekatkan langkahnya dan mengembalikan ponsel Felly.
“Gue akan kasih lo kesempatan dalam hal ini. Lo bisa selesaikan semuanya dengan damai. Gunakan hati lo yang bersih! Bukan otak lo yang busuk! Jangan anggap hal ini sebagai sebuah permainan atau pertandingan yang harus lo menangkan! Gue yakin, dengan hati lo, Brillian akan kembali seperti sedia kala. Gue tahu, sahabat gue satu itu nggak akan jauh dari apa yang udah terlanjur singgah di hatinya. Tinggal lonya aja.”
“Pantesan Brillian nggak nemba-nembak, orang dianya takt lo bat mainan. Eh, Fel! Gue ingetin nih ya karena gue sebagai cowok juga bisa ngerasain gimana sakitnya dipermainkan. Kalau lo digituin juga gimana? Dunia punya hukum sendiri. Inget karma!,” ujar Billy yang tiba-tiba muncul dari balik pintu ruangan studio musik.
“Gue akan tetap ninggalin dia. Brilliandi Arka Pramana, nggak akan bisa ngubah apa yang dah gue pikir matang-matang!,” ucap Felly kukuh.
Bram menggebrakkan kepalan tangan yang sudah ia tahan sedari tadi di jendela hingga terdengar kaca yang begitu nyaring. Giginya menggertak dalam gerangan hatinya. Rahangnya terkatup kuat karena menahan amarah.
“Otak lo dimana sih? Nyokap Bokap lo nggak pernah ngajarin kek gitu, Fel?! Lo nggak punya hati atau gimana, sih?! Fel, apa masih kurang dengan karir lo yang udah kek gunung? Sampai ujung dunia, mereka juga bakalan kenal sama lo! Fel, ayolah! Come on, ngertiin diri lo sendiri,” kata Bram yang semua tinggi seketika merendah saat ia tak mampu mengatasi Felly dengan kekerasan.
“Brillian bukan kekasih gue!!!! Dan dia hanya penganggu dalam gue!!! Dan...”
“Tapi lo cinta sama dia!!!! Kenapa lo nggak mau ngakuin hal itu?!!! Apa masih kurang yang udah di kasih Brillian ke lo!!! Apa masih kurang, Brillian bela-belain dateng di konser lo hanya karena dia nurutin kemauan lo buat ketemuan sama lo?!!! Sedangkan dia ada jadwal layar saat itu. Brillian juga manusia, Fel. Dia juga punya hati! Sama kayak lo! Kenapa lo mau ninggalin dia di saat dia pengen bareng sama lo?!,” sela Bram di tengah ucapan Felly yang semakin memuncak.
“Tapi dia nggak pernah bilang cinta sama gue?! Apa lo pikir harga diri gue serendah itu untuk mengemis cinta dari dia?! Nggak! Gue bukan pengemis cinta! Gue bukan cewek murahan yang seharusnya dia mainin! Masih banyak cowok yang nunggu gue. Dan gue nggak akan pernah ngelakuin hal menjijikkan kayak gitu!,” ucap Felly tak kalah keras.
Riska mendekat ke arah mereka. Begitu juga dengan Billy. Mereka berdua, tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya ruangan itu apabila mereka dibiarkan untuk berseteru. Billy menaghalang Bram, begitu juga dengan Riska.
“Fel, yang dikatakan sama Bram itu ada benernya juga. Nggak selamanya cowok itu menjadi cowok yang pemberani meski Brillian mampu mengalahkan besarnya hantaman ombak samudera pasifik. Terkadang, cowok itu juga butuh kepastian. Dia udah berjuang buat lo meski dia nggak pernah bicara tentang cinta sama lo. Tapi apa iya, cinta harus perlu dibicarakan apabila bukti cinta sudah lebih dahulu memberitahukan? Cinta nggak harus keluar dari mulut, Fel. Cinta juga bisa keluar dari hati yang dilakukan oleh sikap,” ujar Riska.
“Lagipula Fel, gue yakin kok Brillian nggak terlalu bales cahttingannya dengan lo bukan karena cewek-cewek yang lagi ngintilin dia. Tapi karena kesibukan dia untuk memandu jalannya kapal yang ia tumpangi. Untuk menyelamatkan seribu nyawa, lebih penting daripada menyelamatkan satu cinta yang nggak pasti hasilnya kek gimana,” tambah Billy.
“Billy aja yang bego bisa ngerti, kenapa lo nggak ngerti-ngerti juga hah? Apa masih belum cukup semua bukti yang udah tertera?,” tanya Bram memastikan apa yang sudah ia tunggu dati mulut Felly.
Felly terdam. Ia terduduk di kursi sofa dengan lemas. Ia tak mampu berpikir lagi bagimana cara mengatasi masalahnya. Sunggu laki-laki itu telah membuat masalah dalam hidupnya. Brilliandi Arka Pramana.
“Sekarang, lo temuin dia sesuai dengan yang lo janjikan sama dia. Kalau emang lo nggak berani buat nemuin dia dan memastikan cintanya ke dia, lo bisa nulis surat ke dia. Masalah jawabannya bisa nyenengin atau enggak itu urusan belakangan. Yang terpenting apa yang ingin lo ketahui, cari tahulah. Jangan langsung ambil kesimpulan,” ujar Bram.
Fellypun menganggukkan kepalanya. Hal yang dikatakan teman-temannya memang benar. Nggak seharusnya dia egois seperti itu. Dan nggak selamanya cinta harus di ucapkan dengan mulut. Cinta juga bisa terdengar dari sikap seseorang terhadap orang yang bersangkutan. Tidak harus terus menerus berdasarkan mulut. Justru cinta yang berasal dari sikap, adalah cinta yang jujur. Cinta yang tidak aa embel-embel gombal di sana.
Mulut, selamanya tidak akan pernah bertulang untuk lidah. Di sanalah seseorang dapat berbohong mengenai perasaannya. Berbeda dengan sikap. Sikap untuk membuktikan cinta membutuhkan tulang untuk membantu pergerakannya. Dan apabila salah langkah, orang itu sendiri yang akan merasakan sakitnya. Dan di sana, akan memakan dua korban. Yaitu hati dan tubuhnya sendiri. Berbeda dengan mulut yang hanya memakan satu korban. Hati.
Biografi Penulis
P.N.Z adalah nama yang selalu tercantum dalam setiap karya gadis ini. Ia lebih akrab di panggil Pratiwi Nur Zamzani.Terkadang, banyak orang yang memanggilnya nama Felly. Karena, ia selalu menggunakan nama tersebut di setiap karyanya.
Ia lahir dengan kelahiran Pasuruan, 4 Juli 1999. Gadis ini telah menempuh pendidikan Menengah ke atas di SMA NEGERI 1 BANGIL, dan Menengah Pertama di SMP NEGERI 1 BANGIL. Ia memiliki cita-cita sebagai seorang Dosen dan motivator. Ia berharap, dengan tulisan yang ia buat, ia dapat mengisnpirasi dan memotivasi kalian dengan karyanya. Sehingga, karya tersebut dapat bermanfaat dalam kehidupan kalian. Banyak karyanya yang sudah di muat di media masa. Kalian juga bisa melihat karyanya di cerpenmu.com dengan mengetikkan namanya di search pencarian. Atau menjadikan namanya sebagai kata kunci pencarian di google.
Jika kalian berminat, kalian bisa menyapanya dengan alamat Facebook Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Hijab Putih), IG pratiwinurzamzani (Pakai Hijab Putih) atau melalui E-mailnya pratiwinurzamzani@yahoo.co.id
Salam dan Peluk Hangat
Pratiwi Nur Zamzani
Comments
Post a Comment