Skip to main content

Congok Anugerah dari-Nya

Congok Anugerah dari-Nya
Bangil, 29 Agustus 2015
“Assalamualaikum Felly?”
“Waalaikumussalam. Dari mana, Ris?”
“Cari makan Fel sama Billy. Habis, gue laper banget dari tadi latihan melulu. Lo udah makan? Atau jangan-jangan, lo belum makan untuk ngelanjutin nulis not lagu yang lo bikin? Buat, lomba minggu depan ya?”
“Hehehehe, iya sih... Gue takut kehilangan ide Ris.”
“Tapi, nggak segitunya juga kali!”
“Hahahaha, lu udah mulai pakek topeng, Fel?”
“Apaan sih Billy!”
“Udah lah Fel, ngaku aja deh lo!,” sergap Bram yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
“Bram!”
Yah... itulah mereka band Pro Tecno. Grup band yang lagi tenar di sekolah atau dunia remaja. Tapi, mereka hanya menganggap band mereka sebagai band abal-abalan walaupun nama mereka telah ada dimana-mana. Di sanalah mereka terus berjuang. Dan, itulah manusia. Makhluk yang tidak pernah bersyukur dengan nikmat yang telah mereka rasakan. Sebesar apapun nikmat yang diberikan oleh Allah, mereka akan menginginkan nikmat yang lebih dari sebelumnya.
Mereka saling mengerti satu sama lain. Terkecuali, Felly Anggi Wiraatmaja. Biasa di panggil Felly. Di antara mereka berempat, hanyalah Felly yang tidak pernah menyentuh lantai mushola ataupun Al-Qur’an walaupun statusnya adalah beragama sama dengan Billy, Bram, dan Riska. Banyak gosip yang tengah beredar di majalah mingguan sekolah, tabloid remaja, dan juga media sosial lainnya masalah agama Felly yang masih tidak dapat diprediksi dengan pasti.
 “Sekeras apapun lo memikirkan masalah hidup lo sampek nggak makan untuk menjaga kesehatan lo. Nggak bakalan berhasil Felly congok....!!!!,” leceh Bram.
“Fel, tenangin diri lo! Bukan menghancurkan lo kayak begitu! Itu sama aja nyiksa diri lo sendiri!,” lanjut Riska.
“Kalian semua ngomong apaan sih?”
Billypun bergerak mendekati Felly yang masih memegang erat gitarnya. Ia mengambil gitar itu dari pelukan Felly dan menyandarkannya di tembok studio. Sedangkan Bram, mulai masuk ke dalam studio dan duduk di depan Felly. Sedangkan Billy dan Riska duduk di samping kanan kiri Felly.
“Kalian, kenapa ngeliatin gue kayak begini? Nyeremin tahu!”
“Yang nyeremin itu lo Fel!”
“Lah... sekarang malah kenapa gua yang di salahin?”
“Karena lo gilaaaa!!!!,” seru Bram.
“Maksudnya?”
“Felly, lo pikir kita semua nggak tahu sama apa yang udah terjadi sama lo, hah?”
“Maksudnya apaan sih?,” jawab Felly yang masih pura-pura tidak mengerti tentang apa yang dibicarakan oleh seluruh personil grup bandnnya.
“Fel, kita udah lama kenal. Mulai masuk sekolah ini sampai sekarang, nggak mungkin kita semua nggak kenal lo walaupun lo orang tertutup sama kita semua. Lo putus sama Arka pacar lo kan? Dan, keluarga lo broken home kan? Fel, kita semua tahu kalau lo itu orangnya kuat. Tapi, nggak seharusnya lo menyembunyikan kepahitan diri lo dari kita! Sedangkan, kita terus berharap buat bisa jadi sandaran lo saat terjatuh! Please Fel, anggap kita!”
Seketika suasa hening setelah mendengar ototan dari Bram yang memberikan pengertian kepada Felly.
“Hahahahahaha,” Felly menunduk sambil tertawa lepas. Tawa Felly meledak dan membuat kesunyian itu berubah menjadi tanya bagi anggota grup lainnya.
“Felly?!,” gumam Riska.
“Kalian benar! Gue masih punya kalian walaupun gue nggak pernah bisa mengalahkan congok kalian! Gue selalu menutupi diri gue dengan topeng dikala gue harus menompang pahit hidup gue selama ini. Tuhan nggak pernah adil sama gue, dia hanya bisa merampas harapan, cita-cita dan keinginan gue dengan semudahnya. Dia hanya bisa menggunakan kekuasaannya dengan sewenang-wenang. Saat gue bisa berdiri, kenapa gue nggak bisa berbalik tanpa harus menatap-Nya dengan sujud, hah? Saat kalian mencoba untuk membawa gue kepada-Nya, gue hanya bisa menolak karena takut akan sombongnya diri gue. Lantas kenapa Dia membiarkan gue hidup guys?! Sedangkan, banyak orang yang bilang kalau hukum karma itu selalu berlaku hingga kehidupan telah berakhir? Kenapa Dia masih memberikan kalian semua untuk bersama gue? Menempuh sulitnya hidup bersama gue? Dan...,” katanya terputus saat Bram memukul meja yang telah mereka itari dengan kerasnya.
“Bodoh, Oon, Gila, Setres lo Fel! Kenapa lo nggak nanya sama diri lo sendiri, hah? Sedangkan jawabannya udah tertera jelas congok!!!! Tuhan memberikan cobaan sama lo karena Dia menyayangi lo. Dia memberikan hati kepada lo untuk mengingatnya melalui cobaan itu dodol! Lalu, Tuhan memberikan lo kehidupan pahit itu, supaya lo bisa tahu penderitaan orang lain yang ada di sekitar lo! Dan, satu lagi Fel yang harus lo inget! Tuhan memberikan lo hidup adalah untuk memperbaiki hidup lo setelah masa lalu yang suram, bukan untuk lo sia-siakan dengan rasa takut akan hukum karma. Tuhan itu maha pemaaf, agung di atas segala-galanya. Lo hanya manusia biasa, seharusnya bersyukur dong!!!”
Seketika Bram beranjak dari tempat duduknya, ia menarik tangan Felly dan menyeretnya secara paksa. Membawanya dalam langkah yang penuh dengan amarah. Berhenti pada suatu bangunan suci, dan penuh dengan kedamaian. Musholah. Yah... itulah namanya.
“Masuk sekarang juga! Lepas sepatu lo Fel!,” bentak Bram.
Air yang mengalir jernih mulai membasahi ujung kaki mereka. Bram yang menyentuhkan tangan Felly untuk membasuh kedua wajahnya, melantunkan doa permohonan. Felly berusaha memberontak hingga Bram menghentikannya dengan dekapan.
“Fel, gue hanya meminta satu permintaan sama lo. Gue nggak peduli walau gue nggak bisa memiliki lo untuk menjadi pendamping hidup gue kelak. Tapi, gue hanya ingin satu hal. Lakukan yang gue minta untuk hari ini dan bakal lo laksanakan di hari esok. Plissss Fel...,” katanya memelas.
“Bram...,” timpal Felly dengan deraian air mata.
Akhirnya mereka berwudhu untuk menghilangkan hadast kecil tanpa harus bersentuhan karena bukan mahramnya. Setelah itu, Bram mengajaknya memasuki mushola tersebut. Riska, Billy. Mereka ada di sana. Dengan kedua tangan yang bertumpu beban, Riska memakaikan mukennah dalam lingkaran wajah cantiknya. Sangat cantik, bahkan lebih cantik. Wajahnya seketika bersinar walaupun tak ada lampu. Yah.. itulah keajaiban wudhu bagi Felly saat itu.
Mereka melaksanakan salat berjamaah. Menuntun Felly untuk mengucapkan lafal-lafal Al-Qur’an. Mulut yang telah menghina akan kuasa-Nya, kini mulai bergerak dalam rengkuh peluknya. Tetesan air mata tak bisa berhenti dari pelupuk matanya selama salat. Namun, tasyahud akhir dengan tangis tersebut mulai tertutupi dengan hijab. Yah... Riska yang telah memakaikannya. Serta, Billy dan Bram yang telah mempersiapkannya.
Betapa damainya hati Felly setelah merasakan itu semua. Ia telah mengaku bahwa, saat kita memiliki keresahan dalam hidup, tidak seharusnya kita menjauh dari-Nya. Justru, mendekatklah. Benar kata pepatah, di dunia tidak ada yang sempurna. Selain, Dia. Sekeras apapun kita berusaha, jika tanpa ridho dari-Nya semuanya akan sia-sia.





Biodata Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...