Khiar Sang Singa
Pratiwi Nur Zamzani
“Pagi guys,”
“Pagi juga Fel,” jawab Riska.“Kenapa lo murung begitu Ris? Ada yang salah? Terus ini, mereka semua kenapa jadi kayak begini?,” tanya Felly saat melihat segerombolan teman-temannya memasang wajah kesal dan sedih.
“Kemarin, waktu Riza menang lomba lukis, semua guru memuji kita. Tapi, setelah itu mereka menghina kelas kita lagi. Nggak cuma itu aja Fel. Kejuaraan dance cover-nya Rakhmah yang tingkat nassional aja senasib dengan kejuaraan Riza.”
“Emang guru-guru menghina apa ke kita?”
“Kelas buangan lah, penuh kriminal lah, banyak deh pokoknya. Jujur Fel, kita bingung harus gimana membersihkan nama baik kelas kita? Memang sih, kelas kita pernah kejadian kriminal. Tapi, apa masih kurang ditebus dengan dua kejuaraan nasional sekaligus, sampai-sampai mereka membuat kita down seperti ini?”
“Masak sih?”
“Terserah lo deh Fel, kalau nggak percaya sama gue!”
“Ok, gue akan buktiin, apakah ini bener atau cuma akal-akal kalian aja untuk membangunkan singa yang kelapaaran! Sekarang lo ikut gue kantor untuk ngumpulin tugas Bahasa Inggris gue yang kemarin untuk tambahan nilai disemester genap ini!”
“Males ketemu guru-guru Fel!”
“Udahlah Ris, kali ini bantu gue untuk percaya sama omongan lo!”
“Ok deh.”
Merekapun langsung bergegas untuk pergi ke sana.
“Waduh, pagi-pagi begini sudah ada tugas ya?,” tanya salah satu guru kepada Felly.
“Bukan Bu, ini tugas saya yang kemarin.”
“Oh, begitu ya? Kalau boleh tahu kalian dari kelas mana?”
“Kami dari kelas X Bahasa Bu.”
“Oh, Bahasa ya?,” jawabnya dengan raut wajah yang meremehkan
“Sekolah mewah itu ya? Maksud saya, mepet sawah. Hahaha,” sahut guru lainnya dengan entengnya layaknya menertawakan tikus yang tidak bisa menemukan rumahnya.
“Iya Pak. Emmmh, permisi Pak, Bu, kami mau kembali ke kelas.” jawab Felly dengan ramah.
“Oh, iya silahkan.”
Felly bersama temannya Riska meninggalkan kantor guru. Tentunya, dengan hati yang kesal.
“Gimana, lo percaya sekarang hah?”
“Ok, gue pegang kata-kata lo. Kita liat aja nanti, siapa yang bakalan menang? Saat mereka bilang hal itu, sama aja mereka ngajakin gue bermain skak.”
“Maksud lo?”
“Kita guyur mereka dengan sertifikat dan piala kejuaraan, hari ini juga!”
“Lo gila atau gimana sih? Mana ada lomba hari ini, detik ini pula?”
“Cari di internet, dan sodorkan ke mereka data-datanya. Tapi, sebelum itu rekab dulu bakat mereka apa aja? Gue akan kendalikan yang belum menemukan bakat mereka.”
“Wow, ok kapten!”
Sesampai di kelas, Felly berpidato untuk menyemangatkan teman-temannya. Ia menunjukkan rencananya kepada mereka semua. Awalnya ada yang menolak dengan bersih keras karena takut akan kekalahan dan mengagggap semua ini adalah konspirasi serta menentang guru.
Namun, Felly tetap yakinkan mereka bahwa rencananya bukanlah konspirasi, tapi sebuah permainan skak yang harus dimenangkan. Higga akhirnya, semua angota kelaspun menjalankan rencana Felly. Sebagai wakil ketua kelas, Riska membagi tugas seluruh perangkat keras untuk hal ini. Sedangkan Felly, mulai melatih anak-anak yang masih belum yakin akan bakat mereka dengan mengalisis hobby mereka dan juga hal yang di sukai oleh mereka.
Hari yang begitu berat bagi mereka akan dimulai hari ini juga. Seperti yang Felly bilang. Singa akan bangun saat ia akan kelaparan. Kelaparan untuk mengangkat namanya dari orang-orang yang hanya mengutamakan ketenaran. Janji dan sumpah Felly untuk hari ini, telah membawa aggotanya dalam penyiksaan untuk mati. Mati dengn cucuran keringat darah dan haus akan kejuaraan. Saat dirinya hancur akan letih dengan situasi, disanalah kekuatan mereka.
Setiap pulang sekolah, Felly melatih dirinya membentuk sebuah tarian dance dengan konsep dan juga musik yang diciptakan sendiri olehnya. Ia tak kenal akan waktu makan dan hal lainnya kecuali berdo’a dan bekerja keras. Berulang kali ia mencoba, namun tetap gagal. Ada kalanya kekalahan menghancurkan diri dengan trauma. Namun, di mata Felly hanyalah rasa sakit yang harus terbalaskan, bukan menusuk dari belakang atau menghancurkan reputasi musuhnya. Melainkan, mempermalukan musuhnya dengan seruan kemenangan, dan menyeruaknya suara singa saat telah mencapai rasa kenyang.
Felly Anggi Wiraatmaja, julukan singa baginya adaah sebuah nama untuk anggota mereka. Kebanggaan Felly menjadi seorang kapten adalah saat melihat anggotanya berteriak dengan udara di tengah-tengah lapangan yang terlengkapi oleh medali, piala, dan sertifikat kejuaraan. Tidak hanya itu saja, kebanggaan Felly akan singa dalam dirinya adalah saat ia dapat membuktikan bahwa, dirinya bisa. Tanpa harus peduli halangan apapun yang membuatnyaa lemah. Terumatama, cinta.
Hanya satu kata yang terucap setelah keberhasilannya, “Saat kita beradu dengan nasib, jangan pernah kita memikirkan akan cinta, walaupun cinta itu masuk ke dalam diri kita. Teruslah maju tanpa memperdulikan apapun. Serta, jangan pernah puas akan hasil usaha kita. Walaupun itu setinggi langit. Raihlah cita-cita kalian walau bermula dari mimpi biasa. Jadikanlah mimpi itu menjadi kenyataan, walau kita tidak tahu, apakah takdir memihak pada kemenangan kita? Tunjukkan diri kalian dengan keberhasilan, bukan terperangkap dalam jurang untuk menusuk musuh kalian dari belakang. Dan, ingat satu hal lagi. Kemenangan sesungguhnya, bukanlah hasil dari kecurangan. Meski kehausan, tetaplah untuk bersyukur degan apa yang kalian dapatkan sebagai penghargaan. Karena, hargailah diri kalian sendiri sebelum kalian menghargai orang lain.”
BIOGRAFI
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.
Comments
Post a Comment